<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>panoramaislam: Mencerahkan dengan sejuk, santai dan penuh solusi</title>
	<atom:link href="http://panoramaislam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://panoramaislam.wordpress.com</link>
	<description>Jika Anda gagal membuat orang dekat Anda tertawa sehari maka jangan pernah membuatnya menangis meski beberapa saat saja</description>
	<lastBuildDate>Thu, 28 Jul 2011 11:33:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='panoramaislam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>panoramaislam: Mencerahkan dengan sejuk, santai dan penuh solusi</title>
		<link>http://panoramaislam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://panoramaislam.wordpress.com/osd.xml" title="panoramaislam: Mencerahkan dengan sejuk, santai dan penuh solusi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://panoramaislam.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>NABI SAW TIDAK PERNAH STRES  SAAT MENERIMA WAHYU</title>
		<link>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/26/nabi-saw-tidak-pernah-stres-saat-menerima-wahyu/</link>
		<comments>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/26/nabi-saw-tidak-pernah-stres-saat-menerima-wahyu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 12:34:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>panoramaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kurma=Kuliah Ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panoramaislam.wordpress.com/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mas Alcaff Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah  saw ketika didatangi oleh malaikat Jibril dengan membawa ayat: “Bacalah hai Muhammad dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan,” sampai ayat ke-5 dari surat Al-`Alaq, beliau pulang ke rumahnya dalam keadaan gemetar dan dan menggigil. Lalu beliau berkata kepada Khadijah: “Aku menghawatirkan diriku.” Lalu Khadijah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=281&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong> </strong></p>
<p dir="ltr"><strong><br />
</strong></p>
<p dir="ltr">Oleh: Mas Alcaff</p>
<p dir="ltr">Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah  saw ketika didatangi oleh malaikat Jibril dengan membawa ayat: <em>“Bacalah hai Muhammad dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan,” </em>sampai ayat ke-5 dari surat Al-`Alaq, beliau pulang ke rumahnya dalam keadaan gemetar dan dan menggigil. Lalu beliau berkata kepada Khadijah: “Aku menghawatirkan diriku.” Lalu Khadijah berkata: “Bergembiralah! Demi Allah, Dia tidak akan menghinakan (menjerumuskan)mu selama-lamanya.”<span id="more-281"></span></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Lalu Khadijah pergi bersama Rasul menemui Waraqah bin Naufal–pada zaman Jahiliyah dia seorang yang beragama Nasrani. Lalu Rasulullah saw memberitahu apa yang telah beliau lihat. Waraqah berkata: “Inilah <em>namus</em> (wahyu atau Jibril) yang pernah diturunkan kepada Musa.<a href="#_ftn1">1</a> Karena ucapan Waraqah, Nabi menjadi tenang dalam menjalani masa depannya. Jika bukan karena ucapan Waraqah, dia (Rasul) sudah ingin terjun dari tebing gunung—demikianlah yang diriwayatkan Ibnu Sa`ad dalam <em>Thabaqat</em>-nya).</p>
<p dir="ltr">Adapun riwayat lengkapnya sebagai berikut:</p>
<p dir="ltr">“Takkala Nabi saw sedang menyendiri di gua Hira’, tiba-tiba beliau mendengar suara menggema memanggil-manggilnya. Beliau ketakutan dan mengangkat kepalanya. Tidak disangka-sangka beliau melihat sosok makhluk yang menakutkan sedang memanggilnya. Lalu beliau pun bertambah takut dan tidak dapat bergerak maju dan mundur. Kemudian beliau berusah memalingkan wajahnya dari makhluk yang menyeramkan itu, namun yang dilihatnya itu meliputi langit semuanya.”</p>
<p dir="ltr">Tragedi dramatis itu berjalan beberapa saat dan beliau pun tidak dapat mengontrol dirinya dan lupa akan jiwanya, sehingga hampir saja beliau mengambil keputusan untuk nekat terjun dari puncak gunung karena begitu berat beban rasa takutnya. Pada saat itu Khadijah mengutus seseorang untuk mencari Nabi di gua Hira’ namun tidak menemukannya.</p>
<p dir="ltr">Kemudian setelah sosok wajah yang menyeramkan itu sirna dari penglihatan Nabi, beliau kembali dengan segala macam ketakutan dan kegelisahan yang meliputinya. Akhirnya beliau sampai di rumahnya dalam keadaan gemetar seperti menderita penyakit demam. Beliau memandang istrinya dengan sayu dan lesu seakan-akan minta pertolongan dan perlindungan. Beliau berkata: ‘Hai Khadijah, apakah gerangan yang sedang kualami?” Kemudian beliau pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya, dan merebahkan diri dalam dekapan Khadijah dengan ketakutan yang membayanginya; perasaan yang mungkin hanya merupakan tipuan mata. Beliau berkata: “Aku mengkhawatirkan diriku dan aku yakin bahwa aku telah kemasukan jin.”</p>
<p dir="ltr">Khadijah tidak tega dan dan memandangnya dengan penuh keprihatinan dan keharuan, seraya berkata: “Tidak, wahai suamiku. Bergembiralah dan teguhkanlah hatimu. Demi Allah, dia tidak akan mengecewakanmu. Mak demi Dzat yang nyawa Khadijah di tangan-Nya, sesungguhnya saya mengharapkan engkau menjadi nabi umat ini. Engkau selalu menjalin ikatan tali keluarga, menghormati tamu, menolong yang lemah, dan engkau tidak pernah melakukan kejelekan sama sekali.” Begitulah seterusnya ia berusaha menenangkan dan menghibur hati suaminya dengan kata-kata yang menyenangkan.</p>
<p dir="ltr">Kemudian Khadijah mengadakan percobaan yang membawa keberhasilan. Ia berkata: “Hai suamiku, beritahukan kepadaku tentang orang yang mendatangimu itu!” Beliau menjawab: “Ya.” Ia berkata lagi: “Maka jika ia nanti mendatangimu kembali beritahulah aku.” Tidak lama kemudian malaikat itu pun datang kembali, lalu Rasulullah saw berkata: “Hai Khadijah, inilah dia telah datang kepadaku.” Lalu Khadijah berkata: “Ya, berdirilah dan duduklah di paha kiriku.” Nabi menuruti perintahnya dan duduk di paha kirinya. Khadijah bertanya: “Apakah engkau masih melihatnya?” Nabi menjawab: “Masih.” Setelah itu, beliau pindah ke paha kanan istrinya. Dan Khadijah bertanya lagi: “Apakah engkau masih melihatnya?” Beliau menjawab: “Ya.” Khadijah lalu berkata: “Pindahlah ke pangkuanku!” Beliau mematuhi perintahnya dan duduk di pangkuan Khadijah. Kemudian Khadijah membuka dan melemparkan kerudungnya, dan Rasul masih duduk terdiam di pangkuannya. Khadijah bertanya untuk ketiga kalinya: ““Apakah engkau masih melihatnya?” Kali ini Rasulullah saw menjawab: “Tidak.” Khadijah lalu berkata dengan penuh keceriaan: “Hai suamiku, gembiralah dan tetaplah teguh! Ia adalah malaikat dan bukanlah setan.”</p>
<p dir="ltr">Untuk meneguhkan percobaan yang pernah dilakukan dengan penuh keberhasilan itu, maka Khadijah menuju saudara sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal, seorang penganut agama Nasrani, yang rajin membaca kitab kuno dan buku-buku agama. Ternyata Waraqah berkata dengan mantap: “Mahasuci! Seandainya engkau mempercayaiku wahai Khadijah! Ia telah didatangi oleh an Namus (Jibril) yang pernah mendatangi Musa as, maka katakanlah kepadanya, hendaklah ia tetap tabah dan selalu teguh. Ia sesungguhnya adalah Nabi bagi umat ini. Seandainya aku ditakdirkan hidup di zaman ini, niscaya aku akan beriman kepadanya.”</p>
<p dir="ltr">Kemudian Khadijah pulang menemui suaminya dan menceritakan apa yang telah ia dengar dari Waraqah. Setelah itu, Nabi saw menjadi tenang dan dapat menguasai dirinya. Seketika itu pula ketakutannya sirna. Hal ini menimbulkan keyakinan yang mantap pada dirinya, bahwa ia adalah seorang Nabi.<a href="#_ftn2">2</a></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><strong>Sanggahan atas Riwayat Tersebut</strong></p>
<p dir="ltr">Nabi saw sangat mulia di sisi Allah. Tidak mungkin beliau dilepaskan begitu saja dalam kegelisahan dan ketakutan di saat-saat kritis yang merupakan detik-detik perubahan besar dalam lembaran hidup beliau. Masa transisi yang sangat vital dari seorang manusia sempurna yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, menjadi manusia utusan dan bertanggung jawab atas umat dan masyarakat seutuhnya. Sebelum memasuki babak yang menentukan dan kritis seperti itu, beliau telah melangkah maju ke depan ke arah kesempurnaan manusia yang sangat agung dan mulia dalam perjalanan yang dahsyat. Dimulai dari alam ciptaan (manusia) menuju kepada Pencipta (Allah SWT), dan setelah mencapai puncak lalu kembalilah ia ke alam ciptaan (makhluk) dengan membawa kebenaran dari yang Yang Maha Pencipta sebagaimana yang digambarkan oleh seorang filosof, al Hakim Shadruddin al Syirazi.</p>
<p dir="ltr">Dengan demikian dapat kita sadari bahwa detik-detik yang menentukan itu merupakan jalur penghubung antara dua perjalanan: perjalanan pergi dan perjalanan kembali dalam situasi yang genting.</p>
<p dir="ltr">Mahasuci Allah, Ia tidak akan membiarkan kekasih-Nya mengalami kepedihan dan kegelisahan, justru setelah ia sampai pada puncak pertemuan, di mana ia akan dipilih sebagai utusan-Nya kepada manusia. Tidak mungkin Dia membiarkannya dalam ketakutan yang membahayakan, kemudian menakutinya dengan wajah yang serba menyeramkan sehingga beliau hampir tidak mampu lagi untuk mengendalikan dirinya, terkacaukan jalan pikirannya dan nyaris membawa kematian akibat makhluk tersebut.</p>
<p dir="ltr">Bukankah Muhammad lebih mulia di sisi Allah daripada Ibrahim al Khalil, Musa al Kalim, dan nabi-nabi yang lain? Mereka tidak ditinggalkan sendirian pada saat-saat yang genting seperti itu sehingga meminta bantuan kepada orang lain. Muhammad saw adalah lebih mulia daripada mereka.</p>
<p dir="ltr">Sungguh mengherankan analisa ahli sejarah yang mengutamakan logika seorang Khadijah yang sebelumnya tidak mengetahui sama sekali tentang rahasia-rahasia dan isyarat kenabian daripada seorang manusia sempurna dan utama, yang telah memikul misi Allah SWT. Kemudian Khadijah mengadakan percobaan yang dimengerti apa maksudnya oleh Rasulullah saw dalam upaya meyakinkan perkataannya dan didukung oleh perkataan Waraqah bin Naufal.</p>
<p dir="ltr">Aneh sekali ketika terdapat keyakinan dan perasaan puas pada diri Nabi saw saat mendengar keterangan dari istrinya dan kesaksian yang diberikan oleh pendeta tua—Waraqah bin Naufal. Sehingga beliau dapat diyakinkan bahwa yang datang itu wahyu dari Allah Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana? Jika dikatakan bahwa Waraqah membaca kitab-kitab kuno, maka kami bertanya, apakah ada di zaman itu kitab-kitab agama yang tidak mengalami perubahan dan campur tangan manusia? Bukankah mimpi yang pernah dialami Nabi Muhammad saw itu benar adanya? Bukankah ucapan salam yang diucapkan oleh Jibril pada awal pertemuan, assalamu alaikum wahai pesuruh Allah, telah beliau dengar? Begitu pula ucapan salam dari setiap pepohonan dan bebatuan setiap kali beliau lewat di depannya dalam perjalanan pulan kembali ke rumah Khadijah? Bukankah beliau menyadari sepenuhnya apa yang dirasakan dirinya selama beliau menyendiri di gua Hira’ sehingga beliau tidak perlu diyakinkan oleh istrinya dan pendeta Nasrani itu? Justru keberadaan beliau di gua Hira&#8217; berangkat dari kesadaran spiritual dan usaha untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk konsentrasi penuh menjemput wahyu. Khalwat adalah cara terbaik yang beliau pilih sebagai sarana perenungan dan media tafakur yang paling efektif dimana jauhnya beliau dari kebisingin duniawi dan polusi syirik yang menghiasi wajah kota Mekah membuat beliau mau tidak mau harus memilih tempat &#8220;yang sehat dan segar&#8221;. Dan, gua Hira adalah pilihan terbaik untuk merealisasikan tujuan ini.</p>
<p dir="ltr">Lagi pula, jika memang riwayat itu benar, mengapa Waraqah tidak segera beriman padahal ia tahu bahwa beliau (Muhammad) adalah seorang Nabi?</p>
<p dir="ltr">Terbukti di dalam sejarah bahwa Waraqah meninggal dalam keadaan belum beriman. Sedangkan riwayat yang menyatakan bahwa Nabi saw melihatnya dalam mimpi bahwa Waraqah sedang mengenakan pakaian putih adalah <em>maudhu`</em> (palsu dan tak dapat dipercaya). Sebab jalur riwayatnya terputus dan tidak bersambung. Jika memang terbukti bahwa ia masuk Islam dan beriman, maka sudahlah pasti namanya akan tercantum di dalam golongan orang-orang yang beriman pada permulaan Islam (<em>as sabiqunal awwalun</em>).</p>
<p dir="ltr">Ibu Asakir berkata: “Saya belum pernah menemukan seseorang pun yang mengatakan bahwa ia (Waraqah) telah masuk Islam.”<a href="#_ftn3">2</a> Waraqah masih hidup beberapa waktu sejak Nabi diutus. Bahkan telah disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Waraqah pernah berjalan dan melihat Bilal sedang disiksa.<a href="#_ftn4">3</a></p>
<p dir="ltr">Jadi, Muhammad saw tidak pernah mengalami stres saat menerima wahyu. Beliau berada di puncak kesadaran dan mengerti bahwa yang datang kepada beliau itu adalah Jibril yang membawa pesan-pesan Ilahi untuknya dan umatnya. Bahkan atas nikmat agung risalah ini, beliau sangat bergembira.<a href="#_ftn5">[1]</a></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr" align="right">
<hr size="1" />
<p dir="ltr"><a href="#_ftnref1">1</a> <em>Shahih Bukhari</em>: Bab permulaan wahyu: 1/3 dan tafsir surat “Iqra”. <em>Shahih Muslim</em>: <em>Kitab imam, </em>bab permulan wahyu hadis: 252. <em>Musnad Ahmad</em>: 6 /223 dan 233.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><a href="#_ftnref2">2</a> <em>Sirah Ibnu Hisyam</em>, juz 1, hal. 252-255, <em>Shahih Bukhari</em>, juz 1, hal. 3-4; <em>Tarikh at Thabari</em>, juz 2, hal. 207, <em>Tafsir at Thabari</em>, juz 30, hal. 161; <em>Hayat Muhammad</em>, karya Haikal, hal. 95-96; <em>Muslim</em>, jus 1, hal. 97-99.</p>
<p dir="ltr"><a href="#_ftnref3">2</a> Ibnu Hajjar, <em>al Ishabah</em>, juz 3, <em>Dar al Fikr</em>, hal. 633.</p>
<p dir="ltr"><a href="#_ftnref4">3</a> Ibid.</p>
<p dir="ltr"><a href="#_ftnref5">[1]</a> As Shahih min Shirati an Naby, juz 1, hal. 233.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/panoramaislam.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/panoramaislam.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/panoramaislam.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/panoramaislam.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/panoramaislam.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/panoramaislam.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/panoramaislam.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/panoramaislam.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/panoramaislam.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/panoramaislam.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/panoramaislam.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/panoramaislam.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/panoramaislam.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/panoramaislam.wordpress.com/281/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=281&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/26/nabi-saw-tidak-pernah-stres-saat-menerima-wahyu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/713d5e27c4fcb32a50010d15b1288023?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">panoramaislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEBESARAN RASULULLAH SAW DI MATA USTAD MUTHAHARI</title>
		<link>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/26/kebesaran-rasulullah-saw-di-mata-ustad-muthahari/</link>
		<comments>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/26/kebesaran-rasulullah-saw-di-mata-ustad-muthahari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 12:30:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>panoramaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panoramaislam.wordpress.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini kami sarikan dari artikel ustad Murtadha Muthahari yang berjudul muqaddimah bar johon bini islami. Dalam artikel tersebut, beliau menyebutkan secara teliti sifat-sifat Rasul saw yang menonjol. 1-Kesederhanaan hidup, bersikap zuhud. Sederhana dalam pakaian, makanan, dan tindakan (gerakan). Beliau beralaskan tikar biasa dan sering duduk di atas tanah. Beliau memeras susu sendiri. Beliau menunggang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=278&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Tulisan ini kami sarikan dari artikel ustad Murtadha Muthahari yang berjudul <em>muqaddimah bar johon bini islami</em>. Dalam artikel tersebut, beliau menyebutkan secara teliti sifat-sifat Rasul saw yang menonjol.</p>
<p>1-Kesederhanaan hidup, bersikap zuhud. Sederhana dalam pakaian, makanan, dan tindakan (gerakan). Beliau beralaskan tikar biasa dan sering duduk di atas tanah. Beliau memeras susu sendiri. Beliau menunggang kendaraannya dengan sendiri dan tidak mau dikawal (orang lain ada di depannya). Beliau menambal sendiri pakaian dan sepatunya yang koyak. Dalam kesederhanaan itu, beliau justru mengalirkan harta untuk kepentingan masyarakat yang memerlukannya. Bahkan secara filosofis beliau bersabda: Alangkah indahnya harta yang berada di tangan orang yang saleh dimana dengannya ia dapat membelanjakannya secara benar. Dan beliau juga bersabda: Harta adalah penolong yang baik untuk menuju takwa.</p>
<p>2-Iradah (tekad yang bukal) dan tegar (istiqamah) konsisten</p>
<p>Tekad beliau begitu kuat hingga menjalar ke sahabat-sahabat beliau. Selama 23 tahun dalam sejarah dakwah beliau di situ tampak pelajar tekad yang bulan dan konsistensi dalam perjuangan. Dalam kehidupan beliau, seringkali beliau berhadapan dengan situasi-situasi yang sangat sulit, namun di saat itu juga tidak pernah terlintas sedikitpun rasa putus asa dan hilang harapan dari beliau. Imam beliau begitu kokoh hingga kemenangan tidak mengubah sedikitpun sikap beliau. Beliau misalnya tidak kemudian menjadi sombong.</p>
<p>3-Kepemimpinan, Manajemen dan Musyawarah</p>
<p>Meskipun perintah beliau disambut dengan ketaatan dan kesemangatan di antara sahabat-sahabat beliau, dimana berulang kali mereka mengatakan: Andaikan engkau memerintahkan kami untuk menenggelamkan diri kami di lautan atau membakar diri kami di bara api niscaya kami akan melakukannya, namun beliau tidak pernah memperlakukan mereka secara kejam seperti perlakuan para tiran. Dalam urusan-urusan yang tidak ada perintah Tuhan untuk menjalankannya maka beliau tak segan-segan untuk bermusyawarah dengan para sahabatnya dan beliau menghormati pendapat mereka. Misalnya, dalam Perang Badar dalam hal penentuan tempat yang strategis untuk kamp-kamp militer dan cara memperlakukan tawanan, beliau bermusyawarah dengan para sahabatnya. Dalam Perang Uhud,  untuk menentukan apakah Madinah sebagai pusat kamp militer kaum Muslimin atau di luar Madinah, beliau juga bermusyawarah dengan mereka. Demikian juga dalam perang Ahzab dan Perang Tabuk.</p>
<p>3-Beliau penyayang dan pemaaf</p>
<p>Kasih sayang dan mudah memberikan maaf merupakan kriteria yang menonjol dari pribadi Rasul saw. Ini beliau buktikan dalam banyak kasus beliau memaafkan kesalahan sahabat-sahabatnya dan kasih sayang beliau tampak ketika beliau selalu memikirkan nasib umatnya. Sifat ini memiliki pengaruh besar dalam jiwa sahabat-sahabat beliau.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/panoramaislam.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/panoramaislam.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/panoramaislam.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/panoramaislam.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/panoramaislam.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/panoramaislam.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/panoramaislam.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/panoramaislam.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/panoramaislam.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/panoramaislam.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/panoramaislam.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/panoramaislam.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/panoramaislam.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/panoramaislam.wordpress.com/278/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=278&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/26/kebesaran-rasulullah-saw-di-mata-ustad-muthahari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/713d5e27c4fcb32a50010d15b1288023?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">panoramaislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masa Muda dan Remaja Sang Nabi saw</title>
		<link>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/26/masa-muda-dan-remaja-sang-nabi-saw/</link>
		<comments>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/26/masa-muda-dan-remaja-sang-nabi-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 12:26:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>panoramaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kilas Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panoramaislam.wordpress.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Pasal Kedua Masa Muda dan Remaja 1-Pengasuhan Abu Thalib as Pengasuhan Abdul Muthalib terhadap cucunya Muhammad Saw. tetap berlangsung ketika ia menyerahkan urusan tersebut kepada anaknya, Abu Thalib. Sebab, ia tahu bahwa Abu Thalib akan mengasuh kemenakannya  dengan cara yang terbaik. Meskipun miskin, Abu Thalib dianggap termulia di antara saudara-saudaranya dan memiliki kedudukan paling terhormat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=276&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">
<p align="center">Pasal Kedua</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Masa Muda dan Remaja</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1-Pengasuhan Abu Thalib as</strong></p>
<p>Pengasuhan Abdul Muthalib terhadap cucunya Muhammad Saw. tetap berlangsung ketika ia menyerahkan urusan tersebut kepada anaknya, Abu Thalib. Sebab, ia tahu bahwa Abu Thalib akan mengasuh kemenakannya  dengan cara yang terbaik. Meskipun miskin, Abu Thalib dianggap termulia di antara saudara-saudaranya dan memiliki kedudukan paling terhormat di mata kaum Quraisy. Di samping itu, Abu Thalib adalah saudara sekandung Abdullah. Hal ini semakin menambah kuatnya hubungan darah dengan Muhammad Saw. dan juga memperkuat tali kasih sayang dan cinta kepadanya.</p>
<p><span id="more-276"></span></p>
<p>Abu Thalib menerima tanggung jawab ini dengan penuh bangga dan mulia. Istrinya yang baik, Fatimah bin Asad, turut pula membantunya. Mereka berdua lebih mendahulukan Muhammad dalam nafkah dan pakaian daripada diri mereka, bahkan anak-anak mereka sekalipun. Nabi Saw. telah mengungkapkan hal itu saat meninggalnya Fatimah binti Asad. Beliau berkata: “Hari ini ibuku meninggal.” Nabi Saw. mengkafaninya dengan pakaiannya dan meletakkan di liang lahatnya.</p>
<p>Sejak wafatnya Abdul Muthalib, tugas berat Abu Thalib dalam menjaga Nabi Saw. pun telah dimulai. Beliau menjaganya dengan harta, jiwa dan kedudukannya semenjak masa kecilnya. Abu Thalib membela dan menolongnya dengan tangan dan lisannya sepanjang hidupnya, sehingga Muhammad Saw. tumbuh dan menerima wahyu serta  menjelaskan risalah (agama) secara terang-terangan.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>2-Perjalanan Ke Syam</strong></p>
<p>Kaum Quraisy terbiasa bepergian ke Syam sekali pada setiap tahun untuk berdagang. Sebab hal itu merupakan sumber utama untuk mendapatkan pekerjaan. Abu Thalib berencana untuk bepergian. Namun dalam perjalanan ini beliau tidak berpikir untuk mengajak Muhammad Saw., karena beliau khawatir perjalanan tersebut akan melelahkannya dan berbagai bahaya yang biasa ditemui saat melewati padang pasir. Namun di saat hendak berangkat, Abu Thalib mengubah keputusannya, karena beliau mendapati kemenakannya sangat mendesaknya untuk ikut dan air matanya berlinangan lantaran berpisah dengan pamannya. Akhirnya, inilah perjalanan pertama Muhammad Saw. ke Syam bersama pamannya. Dalam perjalanan ini Muhammad mengenal ihwal bepergian melewati padang pasir dan mengetahui jalan-jalan yang dilalui kafilah-kafilah.</p>
<p>Masih dalam perjalanan ini, pendeta Buhaira menyaksikan Muhammad dan bertemu dengannya. Ia menemukan tanda-tanda nabi terakhir yang diberitakan oleh Isa a.s. Karena, ia mengetahui Taurat dan Injil dan selainnya dari berbagai sumber yang menyebutkan kabar gembira tentang kemunculan Nabi Terakhir. Kemudian ia menasihati pamannya, Abu Thalib untuk kembali ke Mekkah dan berhati-hati saat menjaganya dari kaum Yahudi yang berencana membunuhnya.<a href="#_ftn2">[2]</a> Lalu, Abu Thalib pun kembali ke Mekkah bersama kemenakannya, Muhammad Saw.</p>
<p><strong>3-Mengembala Domba</strong></p>
<p>Para Imam Ahlul Bait a.s. tidak meriwayatkan suatu hadis yang menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. memang mengembala domba di masa kecilnya. Memang benar ada riwayat dari Imam Ash-Shadiq a.s. yang menjelaskan bahwa para nabi umumnya mengembala domba, dan hikmah hal tersebut—sebagaimana disebutkan dalam riwayat itu—adalah: &#8220;Allah tidak mengutus seorang nabi pun kecuali ia mengembala domba. Dengan itu, Dia mengajarinya cara mengembala (memberikan pertunjuk kepada) manusia.&#8221;</p>
<p>Begitu juga terdapat riwayat lain yang dinisbatkan kepada Imam Ash-Shadiq as yang menjelaskan hikmah membajak tanah (bercocok tanam) dan mengembala, yaitu: &#8220;Sesungguhnya pekerjaan yang disukai oleh Allah <em>Azza wa Jalla</em> bagi para nabinya ialah bercocok tanam dan mengembala. Yang demikian itu supaya mereka tidak membenci sedikit pun dari air langit (air hujan).&#8221;<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Diriwayatkan juga bahwa Rasulullah Saw. tidak pernah menjadi buruh (upahan) seorang pun.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Riwayat ini menunjukkan bahwa beliau tidak pernah mengembalakan kambing penduduk Mekkah dengan harapan mendapatkan upah, sebagaimana diklaim oleh sebagian sejarawan yang menyatakan bahwa beliau pernah mengembalakan kambing penduduk Mekkah, dengan merujuk kepada hadis yang terdapat dalam Shahih Al- Bukhari.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Bila ternyata kita mampu membuktikan bahwa beliau memang pernah mengembala kambing di masa kecilnya atau di masa remajanya, maka sebab hal itu—sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq a.s.—adalah persiapan Ilahi terhadap beliau melalui pelaksanaan suatu aktifitas yang membuatnya mampu di kemudian hari untuk mencapai kedudukan yang tinggi dari kesempurnaan yang digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya: <em>&#8220;Dan sesungguhnya pada dirimu terdapat suatu budi pekerti yang luhur.&#8221;</em><a href="#_ftn6">[6]</a> Yaitu kesempurnaan yang menjadikannya siap untuk memikul beban risalah Ilahi yang menuntut pengembalaan (pengasuhan) manusia dan pendidikan mereka serta kesabaran dalam menanggung derita saat memberikan petunjuk dan membimbing mereka.</p>
<p><strong>4-Perang Fijar</strong></p>
<p>Bangsa Arab melakukan beberapa peperangan yang dengannya mereka menodai kehormatan bulan-bulan Haram (bulan-bulan yang mulia), sehingga peperangan tersebut dinamai <em>harb al Fijar </em>(Perang Fijar).<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Sebagian sejarawan mengira bahwa Nabi Saw. ikut serta selama beberapa hari dalam peperangan tersebut. Namun, para peneliti sejarah meragukan hal tersebut karena beberapa alasan:</p>
<p><em>Pertama</em>, bahwa semakin bertambah usia Nabi Saw., kepribadiannya semakin bertambah matang. Dan beliau dikenal memiliki keberanian yang mengagumkan seperti umumnya Bani Hasyim. Namun ini tidak berarti bahwa mereka ikut serta dalam peperangan yang melazimkan kezaliman dan kerusakan. Diriwayatkan bahwa tak seorang pun dari Bani Hasyim yang mengadiri peperangan ini. Bahkan Abu Thalib tidak mengizinkan seorang pun dari mereka untuk terjun di dalamnya. Beliau berkata: “Ini adalah kezaliman dan permusuhan, memutus silaturahmi dan menghalalkan bulan-bulan Haram. Aku tak akan menghadirinya, begitu juga tak seorang pun dari keluargaku.”<a href="#_ftn8">[8]</a> Dan Abdullah bin Jad`an dan Harb bin Umayyah—dia adalah pimpinan Quraisy dan Kinanah saat itu—mengundurkan diri dan berkata: “Kami tidak ikut serta dalam urusan yang tidak didukung oleh Bani Hasyim.”<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p><em>Kedua</em>, adanya berbagai riwayat yang bersilang pendapat seputar peran yang dimainkan Nabi Saw. dalam peperangan ini. Sebagian mereka meriwayatkan bahwa tugas Nabi Saw. hanya berkisar pada memberikan anak panah kepada para pamannya dan membalas serangan panah musuh-musuh serta menjaga barang-barang mereka.<a href="#_ftn10">[10]</a> Ada juga yang meriwayatkan bahwa beliau melepaskan beberapa anak panah dalam peperangan tersebut.<a href="#_ftn11">[11]</a> Sedangkan pendapat ketiga mengatakan bahwa beliau berhasil menikam Abu Barra&#8217;, padahal saat itu beliau masih kecil.<a href="#_ftn12">[12]</a> Kami tidak tahu apakah orang-orang Arab mengizinkan anak-anak kecil ikut serta dalam peperangan?!<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><strong>5-Sumpah Fudhul</strong></p>
<p>Pasca Perang Fijar, Kaum Quraisy merasakan kelemahan dan perpecahan di antara mereka. Mereka khawatir kaum Arab akan menguasai mereka setelah sebelumnya mereka begitu kuat dan solid. Maka, Zubair bin Abdul Muthalib mendeklarasikan <em>Sumpah</em> <em>Fudhul</em>. Kemudian berkumpullah Bani Hasyim, Zuhrah, Tamim dan Bani Asad di rumah Abdullah bin Jad`an. Orang-orang yang bersumpah membenamkan tangan mereka di air Zamzam dan mereka saling bersumpah untuk menolong orang yang tertindas, saling membantu dalam kehidupan dan mencegah kemungkaran.<a href="#_ftn14">[14]</a> Ini merupakan sumpah termulia di zaman Jahiliah. Dan Nabi Saw. ikut serta dalam sumpah ini. Saat itu beliau berusia dua puluh tahun.<a href="#_ftn15">[15]</a> Bahkan beliau—setelah kenabiannya—memuji sumpah tersebut dalam perkataannya: &#8220;Sungguh aku lebih menyukai—daripada kekayaan binatang ternak—sumpah yang aku hadiri di rumah Ibn Jad`an. Dan andaikan di masa Islam aku diajak kembali niscaya aku akan menyambutnya.&#8221;<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Berkenaan dengan penamaan sumpah ini dengan <em>hilf fudhul </em>(<em>Sumpah Fudhul</em>), ada yang mengatakan bahwa di antara yang hadir terdapat tiga orang yang nama mereka berakar dari kata <em>al fadhl </em>(الفضل). Diriwayatkan bahwa sebab diadakannya sumpah ini adalah sebagai berikut: Seorang lelaki dari suku Zubaid atau dari Bani Asad bin Khuzaimah datang ke Mekkah pada bulan Dzulqa`dah dengan membawa barang dagangan. Kemudian `Ash bin Wa&#8217;il as Sahmi membelinya, namun ia tidak membayarnya. Lelaki dari suku Zubaidi itu pun meminta tolong kepada kaum Quraisy. Sayangnya, mereka tidak mau menolongnya untuk menyelesaikan masalahnya dengan`Ash bin Wa&#8217;il, bahkan mereka pun mengejeknya. Ketika lelaki tersebut melihat bahaya mengitarinya, maka ia mendaki gunung Abi Qubais dan berteriak meminta pertolongan. Kemudian bangkitlah Zubair bin Abdul Muthalib dan mendeklarasikan sumpah tersebut. Kemudian sumpah itu pun dilaksanakan. Selanjutnya, mereka berjalan mendatangi `Ash dan mengambil barang itu darinya dan kemudian menyerahkannya kembali kepada lelaki dari suku Zubaidi tersebut.<a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p><strong>6-Membawa Barang Dagangan Khadijah</strong></p>
<p>Kepribadian Muhammad Saw. mulai bersinar di tengah masyarakat Mekkah. Lantaran akhlak beliau yang agung, keinginan yang kuat, kejujuran dan tutur kata yang benar. Tak ayal lagi, banyak hati yang terpikat padanya. Beliau berasal dari keluarga yang suci, namun kefakiran yang melanda keluarga terhormat ini termasuk Muhammad yang hidup di dalamnya—mendorong Abu Thalib untuk mengusulkan kepada kemenakannya yang telah menginjak usia dua puluh lima tahun ini agar mengadu keuntungan dengan membawa barang dagangan Khadijah binti Khuwailid. Abu Thalib lebih dahulu pergi ke Khadijah dan menyampaikan masalah ini. Khadijah pun langsung menyambutnya dan sangat berbahagia. Sebab, Khadijah sudah mengenal Muhammad Saw. Bahkan ia menjanjikan hendak memberikan dua kali lipat keuntungan pada Muhammad. Khadijah tidak pernah melakukan hal demikian kepada orang-orang yang membawakan barang dagangannya.<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Muhammad Saw. bepergian ke Syam dengan dibantu oleh budak Khadijah, Maisaroh. Berkat keindahan budi pekertinya dan kelembutan kasih sayangnya, Muhammad mampu membuat Maisaroh senang dan hormat padanya. Melalui kejujuran dan kebijakannya, Muhammad mampu mendatangkan keuntungan yang maksimal. Dan dalam perjalanannya kali ini, tampak beberapa karamah yang mengagumkan. Ketika kafilah telah kembali ke Mekkah, Maisaroh menceritakan apa yang disaksikan dan didengarnya<a href="#_ftn19">[19]</a> kepada Khadijah. Cerita Maisaroh membuat Khadijah semakin memperhatikan Muhammad Saw. dan berhasrat untuk menjalin tali kasih dengannya.</p>
<p>Sebagian sejarawan mengira bahwa Khadijah menyewa (mengupah) Muhammad untuk membawa dagangannya. Padahal Ya`qubi—pemilik buku sejarah yang muktabar dan paling klasik—berkata: &#8220;Adalah tidak benar seperti yang dikatakan oleh orang-orang bahwa Khadijah mengupah Muhammad dengan memberi sesuatu. Muhammad tidak pernah menjadi buruh upahan seorang pun.&#8221;<a href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Dan terdapat nas yang diriwayatkan oleh Imam Hasan Al-Askari dari ayahnya Imam Al-Hadi a.s. yang berkata: &#8220;Sesungguhnya Rasulullah Saw. bepergian ke Syam untuk mengadu keuntungan dengan membawa barang dagangan Khadijah binti Khuwailid.”<a href="#_ftn21">[21]</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Manaqib Imam Ali bin Abi Thalib Abi Thalib</em>: 1/35, <em>Tarikh Al-Ya`qubi</em>: 2/14.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Siroh Ibn Hisyam</em>: 1/194, <em>Ash-Shahih min Siroh An-Naby</em>: 1/91-94.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>`Ilal Asy-Syara&#8217;i`</em>, hal. 23, <em>Safinatul Bihar</em>, silakan anda cari akar kata <em>naba&#8217;a</em></p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a><em>Tarikh Al-Ya`qubi</em>: 2/10.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Shahih Al-Bukhari</em>: Kitab <em>Al-Ijarah</em>, bab 303, hadis nomer 499.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> QS. Al-Qalam 68/4.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Mausu`ah At-Tarikh Al-Islami</em>: 1: 301-305 dari <em>Al-Aghani</em> 19:: 74-80.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Tarikh Al-Ya`qubi</em>: 2/15.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Ibid.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Silakan Anda merujuk <em>Mausu`ah At-Tarikh Al-Islami</em>: 1: 304.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a><em>As-Siroh An-Nabawiyyah</em>, karya Zaini Dahlan: 1/251, <em>As-Siroh Al-Halabiyyah</em>: 1/127.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Tarikh Al-Ya`qubi</em>: 2/16.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Silakan Anda merujuk As-Shahih fi as Siroh: 1/95.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a><em> Al-Bidayah wa An-Nihayah</em>: 3/293, dan silakan Anda merujuk syarah <em>Nahjul Balaghah</em>, karya Ibn Abi Hadid: 14/129 dan 283.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a><em>Tarikh Al-Ya`qubi</em>: 1/17.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> <em>Siroh Ibn Hisyam</em>: 1/142.</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> <em>Siroh Al-Halabiyyah</em>: 1/132,<em> Al-Bidayah wa An-Nihayah</em>: 2/291.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Silakan merujuk <em>Bihar Al-Anwar</em>: 16/22, <em>Kasyful Ghummah</em>: 2/134 yang menukil dari <em>Ma`alim Al- `Itrah</em>, karya Janabidzi, juga silakan merujuk <em>As-Siroh Al-Halabiyyah</em>: 1/132.</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a><em> Al-Bidayah wa An-Nihayah</em>: 2/296, <em>As-Siroh Al-Halabiyyah</em>: 1/136.</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> <em>Tarikh Al-Ya`qubi</em>: 2/21.</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> <em>Bihar Al-Anwar</em>: 17/308.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/panoramaislam.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/panoramaislam.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/panoramaislam.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/panoramaislam.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/panoramaislam.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/panoramaislam.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/panoramaislam.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/panoramaislam.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/panoramaislam.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/panoramaislam.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/panoramaislam.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/panoramaislam.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/panoramaislam.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/panoramaislam.wordpress.com/276/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=276&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/26/masa-muda-dan-remaja-sang-nabi-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/713d5e27c4fcb32a50010d15b1288023?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">panoramaislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SURAT CINTA</title>
		<link>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/26/surat-cinta/</link>
		<comments>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/26/surat-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 12:20:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>panoramaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asmara Alcapon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panoramaislam.wordpress.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya cinta yang suci adalah obat yang mujarab yang mencair di dalamnya kedengkian sebagaimana mencairnya garam dalam air. Cinta abadi adalah tongkat yang menyihir, dimana ia menyihir hati yang membatu dan kering serta karakter-karakter yang membangkang dan culas, lalu ia mengiringnya ke arah yang dikehendakinya. Cinta yang murni akan mengubah musuh bebuyutan menjadi sahabat yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=274&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>Sesungguhnya cinta yang suci adalah obat yang mujarab yang mencair di dalamnya kedengkian sebagaimana mencairnya garam dalam air. Cinta abadi adalah tongkat yang menyihir, dimana ia menyihir hati yang membatu dan kering serta karakter-karakter yang membangkang dan culas, lalu ia mengiringnya ke arah yang dikehendakinya.</p>
<p><span id="more-274"></span></p>
<p>Cinta yang murni akan mengubah musuh bebuyutan menjadi sahabat yang setia dan mengubah kebencian dan permusuhan menjadi kecintaan dan persahabatan serta membentuk dua kubu yang saling bertarung dan berperang menjadi satu kesatuan dan satu hati, dimana jika ada anggota tubuh yang merasa sakit maka semuanya juga merasa sakit. Allah SWT berfirman: <em>“Maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” </em>(QS. Fushilat: 34-35)</p>
<p>Bila kita membuka-buka kembali lembaran kehidupan masyarakat Islam pada abad pertama maka kita akan menemukan cahaya cinta, persaudaraan, kedamaian yang menghiasi keadaan mereka. Sejarah Islam dipenuhi dengan hal yang demikian itu yang jarang ditemukan pada sejarah umat-umat lain.</p>
<p>Jika saat ini kita memikirkan keadaan kaum Muslim lalu kita amati secara mendalam berbagai aktifitas islami dan gerakan Islam yang dipelopori oleh lembaga-lembaga keislaman yang beraneka ragam, yang selanjutnya kita melihat problema-problema sosial yang menimpa dunia Islam di setiap tempat, maka kita akan melihat bahwa sebab dari semua itu adalah kurangnya perhatian terhadap cinta dan usaha meremehkannya dalam agama Islam serta keperluannya bagi masyarakat manusia.</p>
<p>Hendaklah para pemuda Muslim kita menjadikan cinta dan ikhlas sebagai slogan pertamanya, dan tugas utamanya adalah menyebarkan cinta di antara manusia serta menjelaskan keutamaannya. Sehingga awan kegelapan tersingkap dan problema-problema pelik yang menggelilingi kaum Muslim menjadi hilang, dan agar mereka tidak menjadi tawanan harta, karena harta meskipun banyak dan melimpah tidak akan mampu mengisi kekosongan spiritual itu. Harta tidak akan mampu menggantikan hati dan bagian-bagiannya, pikiran dan cakrawalanya, dan cinta serta kepahlawanannya. Begitu juga, ia tidak mampu menggantikan apa-apa yang tersembunyai di balik panca indera (metafisik) dan apa-apa yang realistis (nyata atau kongkrit), dan ia tidak dapat melihat apa-apa yang ada di balik lambung dan syahwat, yakni syahwat perut dan kemaluan.</p>
<p>Cinta adalah batu fondasi dalam pembangunan Islam, yang disuarakan oleh Al-Qur’an dan dianjurkan oleh Nabi saw serta diamalkan oleh kaum Muslim pada abad pertama, generasi demi generasi. Maka, kalau bukan karena cinta, Islam tidak akan bersinar secemerlang sekarang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/panoramaislam.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/panoramaislam.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/panoramaislam.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/panoramaislam.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/panoramaislam.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/panoramaislam.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/panoramaislam.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/panoramaislam.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/panoramaislam.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/panoramaislam.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/panoramaislam.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/panoramaislam.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/panoramaislam.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/panoramaislam.wordpress.com/274/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=274&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/26/surat-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/713d5e27c4fcb32a50010d15b1288023?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">panoramaislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Studi Kritis Alquran Sebagai Penyembuh</title>
		<link>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/13/studi-kritis-alquran-sebagai-penyembuh/</link>
		<comments>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/13/studi-kritis-alquran-sebagai-penyembuh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 17:29:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>panoramaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Alcapon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panoramaislam.wordpress.com/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[Minimal ada dua dimensi yang menjamah kedudukan dan keberadaan Alquran sebagai penyembuh: dimensi pertama, Alquran menyembuhkan penyakit-penyakit batiniah (akhlak yang tercela), dan dimensi kedua, keberadaan Alquran yang menyembujbuhkan penyakit-penyakit jasmaniah. Tulisan kali ini akan menyoroti dua dimensi tersebut. Menurut hemat kami, memang sejak semula dan merupakan tujuan utama Alquran adalah mengatasi pelbagai persoalan aklak manusia. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=260&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minimal ada dua dimensi yang menjamah kedudukan dan keberadaan Alquran sebagai penyembuh: dimensi pertama, Alquran menyembuhkan penyakit-penyakit batiniah (akhlak yang tercela), dan dimensi kedua, keberadaan Alquran yang menyembujbuhkan penyakit-penyakit jasmaniah. Tulisan kali ini akan menyoroti dua dimensi tersebut.</p>
<p>Menurut hemat kami, memang sejak semula dan merupakan tujuan utama Alquran adalah mengatasi pelbagai persoalan aklak manusia. Alquran turun sebagai penyembuh dekandensi moral manusia sepanjang sejarah. Allah Swt mengatakan bahwa Kami turunkan Alquran sebagai penyembuh dan rahmat bagi orang-orang mukmin. S Sejak diturunkannya hingga hari ini Alquran telah membuktikan keberhasilannya dlm menumpas pelbagai penyakit hati manusia, seperti dendam, hasud, sombong, kikir dll. Masyarakat Jahiliah yag terkenal tidak beradab dan gampang menumpahkan darah disulap oleh Alquran sebagai masyarakat yang beradab dan santun. Ini menjadi bukti betapa Alquran memang ampuh dalam menyembuhkan penyakit spiritual umat manusia. Sedangkan di samping dimensi penyembuahan penyakit rohani tsb, Alquran juga mampu menyembuhkan penyakit jasmaniah manusia. Sehingga kita sering melihat praktek orang-orang Islam yang menyembuhkan keluhan fisiknya dengan terapi wirid dan doa. Sejauhmana kebenaran hal ini? Apakah ini hanya kepercayan belaka yang sulit dibukikan secara ilmah? Lalu bagaimana peran dokter dan sains? Ini yg menarik utk kita diskusikan bersama. Apa hubungan antara ayat Alquran dengan penyembuhan penyakit fisik manusia? Apa dapat dibuktikan secara ilmiah? Apa keistimewaan ayat-ayat Alqur? Apa seluruh ayat Alquran sebagai penyembuh atau sebagiannya? Yg menyembuhkan itu Alquran itu sendiri atau yang menurunkannya, yaitu Allah? Dan masih banyak pertanyaan nakal lainnya yg insya Allah pada tulisan berikutnya akan kita kupas. dan kami mengharapkan kritikan dan masukannya&#8230;.</p>
<p>Bersambung</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/panoramaislam.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/panoramaislam.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/panoramaislam.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/panoramaislam.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/panoramaislam.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/panoramaislam.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/panoramaislam.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/panoramaislam.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/panoramaislam.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/panoramaislam.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/panoramaislam.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/panoramaislam.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/panoramaislam.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/panoramaislam.wordpress.com/260/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=260&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/13/studi-kritis-alquran-sebagai-penyembuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/713d5e27c4fcb32a50010d15b1288023?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">panoramaislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Salam Hangat Kembali dari Warkoje</title>
		<link>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/12/salam-hangat-kembali-dari-warkoje/</link>
		<comments>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/12/salam-hangat-kembali-dari-warkoje/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 13:22:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>panoramaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panoramaislam.wordpress.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[salam para pelanggan warkoje&#8230;sorry lama nian kita tak bisa muncul dengan artikel dan celotehnya serta tentu suguhan kopi jahenya&#8230;.maklum selama ini saya kesulitan meng-upload krn 1 dan 4 hal&#8230;.tapi alhamdulillah skrg kayaknya udah bisa&#8230;. Jadi siap-siap aja dapat muntahan kopi jahe panas&#8230;. Semoga berkenan&#8230; Wassalam Mas Alcaff (Pengasuh Warkoje) 12-8-2009<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=255&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>salam para pelanggan warkoje&#8230;sorry lama nian kita tak bisa muncul dengan artikel dan celotehnya serta tentu suguhan kopi jahenya&#8230;.maklum selama ini saya kesulitan meng-upload krn 1 dan 4 hal&#8230;.tapi alhamdulillah skrg kayaknya udah bisa&#8230;.</p>
<p>Jadi siap-siap aja dapat muntahan kopi jahe panas&#8230;.</p>
<p>Semoga berkenan&#8230;</p>
<p>Wassalam</p>
<p><strong>Mas Alcaff (Pengasuh Warkoje)</strong></p>
<p>12-8-2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/panoramaislam.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/panoramaislam.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/panoramaislam.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/panoramaislam.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/panoramaislam.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/panoramaislam.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/panoramaislam.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/panoramaislam.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/panoramaislam.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/panoramaislam.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/panoramaislam.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/panoramaislam.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/panoramaislam.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/panoramaislam.wordpress.com/255/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=255&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/08/12/salam-hangat-kembali-dari-warkoje/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/713d5e27c4fcb32a50010d15b1288023?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">panoramaislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pak, Supir dimana Pengadilan, Aku akan Ceraikan Suamiku!</title>
		<link>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/04/07/pak-supir-dimana-pengadilan-aku-akan-ceraikan-suamiku/</link>
		<comments>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/04/07/pak-supir-dimana-pengadilan-aku-akan-ceraikan-suamiku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 11:20:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>panoramaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[SECANGKIR KOPI PAHIT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panoramaislam.wordpress.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Orang mungkin bisa tertidur pulas saat tetangganya membunyikan musik keras atau tukang bangunan tertidur enak saat mendengar mesin molen bersuara risih di sebelahnya namun seorang istri justru tdk dapat tidur dan merasa terganggu dan tegang serta tidak nyaman justru di saat kedatangan dan kehadiran suami yang tidak tahu diri, tidak sayang padanya dan berperilaku buruk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=250&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Orang mungkin bisa tertidur pulas saat tetangganya membunyikan musik keras atau tukang bangunan tertidur enak saat mendengar mesin molen bersuara risih di sebelahnya namun seorang istri justru tdk dapat tidur dan merasa terganggu dan tegang serta tidak nyaman justru di saat kedatangan dan kehadiran suami yang tidak tahu diri, tidak sayang padanya dan berperilaku buruk serta gampang mencaci dan memaki&#8230;</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Muhammad Alcaff</em></p>
<p>Hari ini saya berangkat tergesa-gesa ke tempat kuliah. Karena saya agak terlambat. Jam udah menunjukkan pukul 10 pagi. Sementara saya masih gentayangan di jalan. Padahal kelas dimulai jam 10. 05. Tapi saya udah biasa terlambat kok. Maklum hampir tiap hari kelas saya dimulai jam 10 pagi. Jadi saya tidak ikut bus servis sekolah. Saya berangkat via kendaraan umum.</p>
<p><span id="more-250"></span></p>
<p>Ada kejadian langkah dan cukup mengagetkan saya hari itu. Seorang wanita muda yang duduk di belakang saya, tiba-tiba berkata kepada sopir: Pak supir dimana pengadilan, aku akan ceraikan suamiku! Saya terperancat mendengar omongan wanita tersebut. Betapa ia mengutarakannya dengan cukup enteng dan dengan suara yang keras, tanpa beban. Barangkali dengan suara lantangnya itu beban pikiran dan emosinya sedikit tertumpahkan.</p>
<p>Ya, kadang-kadang wanita yang terkenal pemalu dan tidak gampang membagi masalahnya dengan orang begitu mudah &#8220;membeberkan&#8221; masalahnya sendiri ketika memang ia terjepit. Hak cerai yang notebene di tangan kaum pria kadang-kadang justru dimanfaatkan dimulai oleh kaum hawa. Yang demikian ini mungkin karena seorang istri sudah tidak tahan lagi melihat perilaku suaminya. Memandang wajah suami begitu memuakkan baginya. Melihat tingkah laku suami begitu menjengkelkannya.</p>
<p>Tentu saya tidak setuju dengan cerai yang &#8220;gampangan&#8221; dan &#8220;asal-asalan&#8221;. Bagimanapun dampak individual dan sosial suatu perceraian begitu berat. Tetapi saya hanya ingin menyoroti satu hal di sini, karena dalam tulisan sebelumnya saya udah berbagi resep tentang mengapa timbul perceraian dan apa yang harus dilakukan wanita yang tercerai secara tdk adil. Satu hal yang saya maksud adalah suatu perkataan hikmah yang berbunyi: Barangsiapa yang perilakunya buruk maka ia telah menyiksa dirinya sendiri.</p>
<p>Perilaku buruk yang dilakukan salah satu anggota keluarga, suami misalnya, maka itu akan membuat anggota keluarga yang lain tersiksa. Tentu yang pertama kali tersiksa adalah yang bersangkutan. Orang yang tdk jujur misalnya dia pertama kali membohongi dirinya sendiri sebelum menipu org lain. Orang yag kikir misalnya menyengsarakan dirinya sendiri sblm orang lain. Orang yang menyakiti orang lain dengan kata-kata pedasnya sebenarnya dia sedang menyakiti dirinya sendiri.</p>
<p>Manusia hidup dengan fitrah yang sehat. Sementara perilaku yang kejam dan buas tdk sesuai dengan fitrah manusia. Orang mungkin bisa tertidur pulas saat tetangganya membunyikan musik keras atau tukang bangunan tertidur enak saat mendengar mesin molen bersuara risih namun seorang istri justru tdk dapat tidur dan merasa terganggu dan tegang serta tidak nyaman justru di saat kedatangan dan kehadiran suami yang tidak tahu diri dan tidak sayang padanya serta tdk berperilaku baik&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/panoramaislam.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/panoramaislam.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/panoramaislam.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/panoramaislam.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/panoramaislam.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/panoramaislam.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/panoramaislam.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/panoramaislam.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/panoramaislam.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/panoramaislam.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/panoramaislam.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/panoramaislam.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/panoramaislam.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/panoramaislam.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=250&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/04/07/pak-supir-dimana-pengadilan-aku-akan-ceraikan-suamiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/713d5e27c4fcb32a50010d15b1288023?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">panoramaislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ISLAM ANTARA OVERDOSIS DAN PAS DOSIS</title>
		<link>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/04/07/islam-antara-overdosis-dan-pas-dosis/</link>
		<comments>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/04/07/islam-antara-overdosis-dan-pas-dosis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 11:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>panoramaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Alcapon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panoramaislam.wordpress.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mas Alcaff Tinjauan Gramatikal: &#8220;Overdosis&#8221; agama dalam Al Qur&#8217;an disebut dengan &#8220;al ghulu&#8221;. Kata ini berakar dari ghala-yaghlu-ghuluw yang berarti mujawazatu al had (melampaui batas). (Silakan Anda merujuk tafsir Majma` al Bayan, juz 2, hal. 144). Pengarang tafsir al Mizan memaknai al ghulu sebagai bentuk al inhiraf (penyimpangan) dalam keyakinan. Yang dimaksud penyimpangan di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=248&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr">Oleh: Mas Alcaff</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">Tinjauan Gramatikal:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">&#8220;Overdosis&#8221; agama dalam Al Qur&#8217;an disebut dengan &#8220;al ghulu&#8221;. Kata ini berakar dari <em>ghala-yaghlu-ghuluw</em> yang berarti <em>mujawazatu al had</em> (melampaui batas). (Silakan Anda merujuk tafsir <em>Majma` al Bayan</em>, juz 2, hal. 144). Pengarang tafsir al Mizan memaknai <em>al ghulu</em> sebagai bentuk <em>al inhiraf </em>(penyimpangan) dalam keyakinan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;" dir="rtl"><span id="more-248"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">Yang dimaksud penyimpangan di sini oleh Allamah Thaba&#8217;thaba&#8217;i ialah keyakinan kaum Nasrani terhadap Trinitas. Suatu keyakinan yang memporakporandakan &#8220;tembok tauhid&#8221; yang dibangun dengan susah payah oleh Bapak Tauhid, Ibrahim as.<span> </span>Sedangkan <em>ghala-yaghli-ghilyan</em> mempunyai arti yang lain atau tersendiri yaitu mendidih. Kata ini digunakan dalam surah ad Dukhan ayat 45-46 dalam bentuk <em>fi`il mudhari</em>` (kata kerja yang menunjukkan zaman yang akan datang) dan <em>masdhar </em>(kata dasar). Surat ini bercerita tentang makanan Zaqum yang bakal menjadi &#8220;hidangan wajib&#8221; para penghuni Jahanam dimana ketika makanan yang mengerikan ini singgah di rumah yang bernama perut para pendosa kelas kakap maka ia akan mendidih di dalamnya. Ringkasnya kata &#8220;al ghulu&#8221; yang berarti overdosis atau penyimpangan dalam agama hanya digunakan dalam dua ayat Al Qur&#8217;an dan dalam dua surat yang berbeda, yaitu: surah an Nisa&#8217;, ayat-171 dan surah al Maidah, ayat-77. Sedangkan makna lain dari <em>ghala</em> ialah mendidih dan kata ini meski <em>fi`il madhi</em>-nya (kata kerja bentuk lampau) sama dengan <em>ghala </em>yang berarti melampaui batas namun <em>mashdar</em>-nya berbeda: yang satu kata <em>mashdar-</em>nya <em>ghuluw</em> dan yang lain <em>mashdar-</em>nya <em>ghilyan</em>. Makna yang terakhir ini terdapat dalam dua ayat Al Qur&#8217;an dan uniknya dalam surah yang sama—sebagaimana telah kami sebutkan di atas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">Siapakah Kaum yang Melampaui Batas dalam Agama itu?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">Al Qur&#8217;an al Karim—sebagaimana yang tercantum dalam surah an Nisa&#8217;, ayat-171 dan al Maidah, ayat-77—menyebut kamu Nasrani sebagai kaum <em>ghulat</em> (kaum yang melampaui batas alias overdosis dalam agama). Yang demikian itu karena mereka menganggap Tuhan itu bersekutu atau berkeluarga. Jelasnya, mereka meyakini al Masih sebagai &#8220;anak Tuhan&#8221;. Sebutan kaum <em>ghulat </em>dalam Al Qur&#8217;an<em> </em>tidak<span> </span>hanya melekat pada kaum Nashrani, namun juga diatributkan pada kaum Yahudi. Sebab, masing-masing mereka disebut ahlul kitab dimana ayat tersebut <em>mukhotob</em>-nya (yang diajak dialog) adalah kaum ahlul kitab. Dan yang dimaksud ahlul kitab ialah kaum Nashrani dan kaum Yahudi yang masing-masing mereka pernah mendapatkan kiriman Kitab Samawi. Dan ironisnya, masing-masing mereka pun melakukan penyimpangan (baca: overdosis) yang sama dalam agama. Penyimpangan yang sama ialah: Keyakinan kaum Nashrani yang menyatakan bahwa al Masih anak Allah dan keyakinan kaum Yahudi yang menyatakan bahwa Uzair pun anak Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"><span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span lang="AR-SA"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">Meluasnya Makna Overdosis Agama</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;" dir="rtl"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">Sebagaimana saya jelaskan bahwa overdosis agama itu secara khusus digunakan Al Qur&#8217;an utk kaum Nashrani dan Yahudi yang menyimpang dari agama. Namun dalam perjalanannya kemudian, kata ini (<em>ghulat</em>=kaum yang melampaui batas dalam agama) digunakan utk kelompok atau pribadi-pribadi yang dianggap salah atau terlalu ekstrem dalam menjalankan praktek keagamaannya. Misalnya, kaum Syi`ah yang mengkultuskan Sayidina Ali atau bahkan &#8220;menuhankan&#8221;-nya disebut dengan kaum ghulat. Dan terakhir—sebagaimana dikupas dalam diskusi ulang tahun Jaringan Islam Liberal yang ke-4—ayat <em>&#8220;la taghlu fi fidinikum&#8221;</em> mereka artikan sebagai peringatan untuk tidak keterlaluan dalam beragama. Jadi, sikap keterlaluan dalam agama bisa saja terjadi dalam setiap aliran atau mazhab tanpa terkecuali, bila kita memakai acuan <em>ifrath</em> dan <em>tafrith</em> dalam beragama sebagai tolok ukurnya. Hanya saja, ada sebagian mazhab yang memang &#8220;melestarikan&#8221; sikap overdosis ini dan ada juga yang memberantas dan memeranginya sehingga kebenaran yang asli tidak terkaburkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;" dir="rtl"><span lang="AR-SA"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">Overdosis Agama atau Pengikut Agama?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">Bila Anda berobat ke dokter dan Anda diberi resep atau obat berikut ketentuan meminumnya, lalu Anda karena sembrono atau sengaja tak mengindahkan anjuran dokter tersebut hingga Anda meminum obat tersebut di atas ambang kewajaran alis overdosis maka pertanyaannya adalah: siapakah yang overdosis dokter atau Anda? Jelas sekali bahwa dokter tidak pernah overdosis karena obat itu barasal darinya dan dia tahu persis manfaat, batasan dan cara penggunaan obat tersebut, sedangkan yang bisa mengalami overdosis itu pasiennya akibat salah menerjemahkan pesan dan anjurannya. Hal yang demikian juga terjadi dalam agama. Rasulullah saw dan Al Qur&#8217;an adalah dokter yang mendatangkan <em>syifa&#8217;</em> (obat) namun pada saat yang sama obat ini dapat menjadi racun bila salahdipahami atau disalahtafsirkan. Jika pesan dan resep Rasul saw dan Al Quran salah diterjemahkan maka yang bersangkutan akan mengalami &#8220;keracunan pemikiran&#8221; yang lebih membahayakan dan mematikan daripada keracunan makanan. Sebab, keracunan makanan bagaimanapun sulitnya masih dapat dan mudah dideteksi dan yang bersangkutan akan merasakan akibatnya, baik cepat maupun lambat dan tidak memakan banyak korban, sedangkan keracunan pemikiran, yang bersangkutan justru merasa sehat atau bahkan paling sehat dan dapat membunuh puluhan atau ratusan generasi. Bukankah ada kebohongan besar yang dibuat pasca Nabi saw sampai hari ini pun masih hinggap dan bahkan menetas di jendela otak kita???</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">Jadi, agama tidak pernah overdosis, yang overdosis itu adalah pengikut agama. Hal ini diakibatkan karena ia berkonsoltasi dengan &#8220;dokter-dokter gadungan&#8221; yang tidak mendapatkan sertifikal jaminan halal dari &#8220;Pencipta agama&#8221; (Allah SWT). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">Sebab-Musabab Timbulnya Overdosis Agama</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">Ada beberapa sebab yang melatarbelakangi munculnya sikap <em>ghulat</em> dalam agama, di antaranya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">1-Minimnya pengetahuan terhadap agama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">2-Konsoltasi agama dengan &#8220;dokter-dokter gadungan&#8221; (alias ulama-ulama <em>su&#8217;</em>)<span> </span>yang bodoh, yang mengikuti hawa nafsu dan tidak berhak berbicara atas nama agama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">3-Menolak pendapat lain sebelum menguji kebenaran atau ketidakbenarannya. Dan ini bertentangan dengan pesan Al Qur&#8217;an seperti yang termaktub dalam surah az Zumar, ayat 18.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">4-Campur tangan pihak luar Islam (seperti Yahudi dan Amerika) dalam memunculkan &#8220;Islam yang overdosis&#8221; seperti kasus Taliban yang jelas-jelas Islam boneka Amerika.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">5-Sikap tidak puas dengan Islam yang berkembang sekarang. Dan sebagai alternatif, muncullah Islam baru yang overdosis itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">6-Akibat penolakan secara sempurna atau tidak terhadap Islam yang orisinil yang dibawa oleh Nabi saw dan dilanjutkan oleh 12 Imam ahlul bait.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">Mencari Islam yang Pas Dosis</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;" dir="rtl"><strong><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN">Islam yang tidak overdosis adalah Islam yang bersumber dari mata air <em>nubuwwah</em> dan imamah. Islam yang tetesan hikmahnya mengalir dari rumah suci Nabi Muhammad saw dan mutiara-mutiaranya tersimpan dalam lisan fasih putra asuhan baitullah (Ali bin Abi Thalib, singa Allah). Inilah Islam yang dokter-dokternya tidak pernah &#8220;memeras&#8221; dan &#8220;memerah&#8221; para pasiennya. Inilah Islam yang para dokternya bekerja bukan untuk mengabdi kepada uang tapi untuk menggapai ridha Allah SWT, <em>&#8220;Kami bersedekah kepada kalian bukan untuk mengharapkan upah namun untuk mendambakan ridha Allah.&#8221; </em>(QS. Al Insan: 9) Inilah Islam yang diasuh oleh dokter spesialis lagi berpengalaman, yang menantang para pasiennya sepanjang zaman bahwa semua penyakit dan problema keagamaan kalian sudah aku temukan obatnya yang &#8220;cos pleng&#8221;: <em>&#8220;Tanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku. Aku mengetahui rahasia langit dan bumi. Aku mengetahui ayat yang turun di waktu malam atau siang, di daratan atau di lautan.&#8221;</em> Inilah Islam yang bukan hanya &#8220;menyapa&#8221; akal dengan begitu mesra dan lembut namun menempatkannya sebagai mitra abadi dalam mempertahankan argumen-argumennya, sehingga lebih tahan banting dan tidak ada ruang untuk menolaknya: <em>&#8220;Apakah mereka meragukan keberadaan Tuhan?&#8221;, &#8220;Tidakkah mereka berpikir?&#8221; &#8220;Tidakkah mereka berakal&#8221;, &#8220;Datangkanlah bukti kalian, bila kalian merasa benar.&#8221;</em> Inilah Islam yang para dokternya berjumlah 12 dari Ali sampai al Mahdi. Dan mereka semua berguru secara langsung atau tidak kepada pendiri universitas Islam, Nabi saw. Kalau tidak belajar secara langsung kepada Rasul saw maka mereka hanya belajar kepada ayahnya dan tidak pernah belajar sekiditpun kepada orang lain, karena yang demikian itu diharamkan bagi mereka. Sebab, mereka adalah penerjemah wahyu, tambang ilmu, tempat turunnya malaikat: <em>&#8220;Kami ahlul bait tidak dapat ditandingi oleh siapapun (dalam hal ilmu dan ketakwaan).&#8221;</em> Inilah Islam yang Abu Hanifah dan Imam Malik bin Anas merasakan betapa nikmatnya dan indahnya berguru kepada Abu Ja`far, Imam as Shadiq as. Bahkan Abu Hanifah dengan tanpa sungkan-sungkan berkata: &#8220;Kalau tidak ada dua tahun (waktu berguru kepada Imam Shadiq) maka Nu`man akan binasa.&#8221; Inilah Islam yang Imam Syafi`i berfatwa bahwa bila dalam tasyahud shalat tidak menyebut mereka (ahlul bait) dalam shalawat maka shalatnya tidak sah. Inilah Islam yang bunganya mekar dan semerbak karena syahadah agung Imam Husein di tanah tandus Karbala. Inilah Islam yang tidak pernah berkompromi dan berkolusi dengan pabrik-pabrik kebatilan, namun pelajaran Asyuranya menyatakan bahwa kematian dalam kemuliaan lebih baik daripada kehidupan dalam kehinaan. Inilah Islam yang ajarannya tidak mengenal <em>ifrath </em>(tidak mencapai batas yang diinginkan) dan <em>tafrith</em> (melampaui batas yang dikehendaki) tetapi <em>al amru bainal amrain </em>(mengambil jalan tengah yang proporsional: <em>la jabar wala tafwidh</em>. Inilah Islam yang tidak hanya membuat orang baik secara individual namun pun saleh secara sosial, bukan orang yang ahli ibadah namun ringan tangan kepada istrinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;" dir="ltr" lang="IN"><span> </span>Inilah Islam yang ajarannya tidak pernah menganggap Tuhan agak bodoh dan kontradiksi karena di satu sisi Ia memerintahkan orang berbuat baik namun di sisi lain bisa saja orang baik itu dimasukkan dalam neraka-Nya. Inilah Islam yang bukan hanya membuat hati teduh namun juga membuat akal cerah. Inilah Islam yang orisinil yang dibawa oleh Nabi saw dan dijaga oleh Ali. Sekali lagi inilah Islam yang mencerahkan dan bukan mengerahkan (baca: mengesalkan)<strong>. DAN AKHIRNYA, INILAH ISLAM YANG TIDAK PERNAH OVERDOSIS TAPI PAS DOSIS.</strong></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;" dir="rtl" align="right"><strong><span lang="AR-SA"> </span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/panoramaislam.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/panoramaislam.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/panoramaislam.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/panoramaislam.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/panoramaislam.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/panoramaislam.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/panoramaislam.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/panoramaislam.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/panoramaislam.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/panoramaislam.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/panoramaislam.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/panoramaislam.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/panoramaislam.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/panoramaislam.wordpress.com/248/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=248&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/04/07/islam-antara-overdosis-dan-pas-dosis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/713d5e27c4fcb32a50010d15b1288023?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">panoramaislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Para Nabi Kok Bedosa, Ngak Mungkin La Yah!!</title>
		<link>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/04/07/para-nabi-kok-bedosa-ngak-mungkin-la-yah/</link>
		<comments>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/04/07/para-nabi-kok-bedosa-ngak-mungkin-la-yah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 11:02:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>panoramaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Alcapon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panoramaislam.wordpress.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[MEMBEDAH KEMAKSUMAN PARA NABI Kata `ismah secara harfiah berarti perlindungan. Dalam terminologi Islam, ia berarti pengampunan spiritual (lutf) oleh Allah kepada orang yang mampu menjaga dirinya untuk bebas dari dosa dengan kehendak bebasnya. Orang yang diberikan pengampunan ini oleh Tuhan dinamakan ma’shum (orang yang terjaga dari dosa). Walaupun begitu, anugerah `ismah ini tidak lantas membuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=246&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>MEMBEDAH KEMAKSUMAN PARA NABI<br />
</strong></p>
<p>Kata <em>`ismah</em> secara harfiah berarti perlindungan. Dalam terminologi Islam, ia berarti pengampunan spiritual (lutf) oleh Allah kepada orang yang mampu menjaga dirinya untuk bebas dari dosa dengan kehendak bebasnya. Orang yang diberikan pengampunan ini oleh Tuhan dinamakan ma’shum (orang yang terjaga dari dosa). Walaupun begitu, anugerah `ismah ini tidak lantas membuat seorang ma`shum tidak mampu melakukan dosa-dosa.</p>
<p><span id="more-246"></span></p>
<p>Seorang ma’shum tidak melakukan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan karena kekuatan dan kemauannya sendiri. Jika tidak begitu, maka tidak ada nilai dalam menjadi ma’shum. Sebagai contoh seperti kehendak seseorang untuk telanjang sepanjang jalan. Tetapi apakah Anda, sebagai seorang Muslim yang baik, pernah berfikir melakukan hal yang demikian? Tidak! Mengapa? Karena hal itu jauh dari kemuliaan di bawah Anda untuk berbuat seperti itu. Ingatlah bahwa tindakan itu tidak mustahil Anda lakukan, tetapi Anda tidak akan pernah membayangkan melakukannya. Mengapa? Karena Anda telah diajarkan dan dibimbing oleh fikiran bahwa tindakan seperti itu akan menodai kehormatan Anda dan itu adalah tindakan tercela dalam masyarakat sipil. Serupa dengan itu, seorang ma`shum memiliki kemampuan untuk menjalankan dosa, tetapi tidak pernah membayangkan menjalankan dosa karena jauh di bawah kemuliaannya untuk melakukan hal seperti itu. Sekarang, walaupun mayoritas Muslim percaya akan `ismah para nabi, terdapat perbedaan yang besar mengenai tingkat `ismah. Terdapat perbedaan besar dalam opini mereka. Pandangannya seperti berikut ini: (a) Semua Muslim percaya bahwa para nabi tidak pernah mengatakan kebohongan, baik secara disengaja maupun tidak, atau mereka dapat menjadi kafir sebelum pengesahan kenabian. (b) Semua Muslim percaya bahwa para nabi tidak dapat menjalankan segala macam dosa dengan secara sengaja. (c) Sebagian mereka percaya bahwa para nabi dapat menjalankan sebagian besar dosa secara tidak disengaja, walaupun sebagian mereka yang lain percaya hal itu tidak mungkin. (d) Sebagian mereka percaya bahwa para nabi dapat menjalankan sebagian kecil dosa, walaupun bukan dosa kecil yang akan merendahkan martabat mereka di mata umum.1  Beberapa intelektual muda yang di pengaruhi ide-ide humanisme, relativisme dan pluralisme ingin menghadirkan ketidakmaksuman para nabi dan untuk Allah untuk membenarkan kelemahan moral yang ditemukan pada orang biasa. Motif ini dapat dilihat pada awal sejarah Islam ketika para intelektual terlibat dalam usaha mendukung status quo yang mencoba melemahkan kesempurnaan Nabi Islam saw untuk membenarkan kelemahan moral dan kesalahan etik dari para penguasa pada masa mereka.  Kami percaya bahwa semua nabi adalah ma`shum, tidak berdosa dan sempurna; mereka tidak dapat mempunyai dosa, baik dosa besar atau kecil; baik disengaja atau tidak disengaja; dan ini berlaku bagi mereka dari awal sampai akhir hidup mereka.  Syaikh Abu Ja`far as-Shadiq (meninggal pada tahun 381 H) mengatakan: “Kepercayaan kami berkenaan dengan para nabi, rasul, imam dan malaikat adalah bahwa mereka semua sempurna, bersih dari kesalahan, dan tidak melakukan dosa, baik itu kecil maupun besar. Siapa yang menyangkal kesempurnaan (`ismah) mereka dalam berbagai hal yang berkaitan dengan status mereka adalah orang yang bodoh akan mereka. Kepercayaan kami meyakini bahwa mereka sempurna dan memiliki sifat-sifat kesempurnaan, kelengkapan dan pengetahuan, dari awal hingga akhir hidupnya.”2   Kenapa Ismah? Beberapa orang akan bertanya, “Mengapa menjadi penting bagi para nabi untuk menjadi ma`shum”. Jawabannya tentu sangat logis. Para nabi harus sempurna (terjaga dari dosa) karena alasan yang sama ketika mereka diutus: untuk menuntun dan memimpin manusia kepada Tuhan. Allah SWT yang memutuskan untuk membimbing umat manusia, juga bermaksud mengutus manusia-manusia yang bersih dan sempurna sebagai model-model dan contoh-contoh. Jika mereka tidak sempurna, maka akan menjadi sangat sulit untuk mempercayai pesan-Nya tanpa contoh yang datang kepada kita. Tidak akan ada kepercayaan terhadap apa yang mereka katakan; dapat saja benar; dapat pula salah. Mengirim nabi-nabi yang tidak terjaga dari dosa akan mematahkan tujuan pengutusan mereka, yakni para nabi membimbing dan manusia mengikuti dan mematuhinya. Alasan ini juga didukung oleh Alqur’an, “Dan kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah…” (QS. 4: 64) Ayat ini secara jelas menampilkan tata sosial Ilahiah: tujuan utama para nabi di bumi adalah untuk dipatuhi para pengikutnya, bukan justru para pengikut meneliti setiap tindakan dan pernyataan nabi kemudian memutuskan apakah akan mengikutinya atau tidak. Kepatuhan yang absolut tidak akan terjadi, kecuali para nabi adalah ma`shum, bebas dari dosa dan kesalahan. Ayat yang mendukung konsep ini adalah, “Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Tuhan, dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kalian …” (QS. 4: 59) Pada ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk mematuhi-Nya dan utusan-Nya. Setidaknya ada sepuluh ayat lain yang di dalamnya, Allah telah menggunakan kalimat perintah agar kaum beriman mematuhi para nabi dan utusan-Nya. Selain ayat-ayat tersebut, juga terdapat banyak ayat yang di dalamnya Allah menjelaskan kebaikan dari mematuhi nabi dan konsekuansi buruk dari tidak mematuhi mereka. Juga, dalam ayat-ayat serupa lainnya, Allah menyebutkan kepatuhan kepada diri-Nya adalah bersama dengan kepatuhan terhadap utusan-Nya. Sebenarnya, dalam salah satu ayat, kepatuhan kepada utusan-Nya disamakan dengan kepatuhan kepada Allah: “Barangsiapa yang menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. 4: 80) Kewajiban Allah tersebut tidak akan mungkin dijalankan jika para nabi dan utusan-Nya bukan ma`shum dan tidak sempurna. Jika demikian, kita akan mendapati diri kita dalam situasi yang tidak mungkin: Nabi atau Rasul yang tidak ma`shum akan memaksa kita untuk berbuat yang salah akankah kita ikut atau tidak. Dalam kedua kasus itu, kita akan mendapat malapetaka. Jika mematuhi nabi dan berbuat dosa, maka kita akan bersalah karena melalaikan perintah Allah untuk tidak berbuat dosa. Jika tidak mematuhi nabi dan menolak melakukan dosa, maka kita akan bersalah karena melalaikan perintah Allah untuk mematuhi nabi dan utusan-Nya secara mutlak. Allah tidak menerima dosa atau perbuatan jahat, dan ini menjadi fondasi dari pesan yang Dia kirim kepada umat manusia.  Apakah logis jika Tuhan mengutus orang-orang berdosa dengan sebuah pesan bahwa manusia harus tidak melakukan dosa? Jenis logika aneh macam apakah ini? Kepada ayat di atas, Allah menambahkan ayat-ayat lain yang melarang kita untuk mematuhi jenis orang tertentu yang menjalankan dosa: “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitah. Yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi berdosa.” (QS. 68: 10-12)  ”Maka sabarlah engkau atas ketentuan Tuhan engkau dan janganlah engkau ikuti orang-orang yang berdosa atau kafir di kalangan mereka.” (QS. 76: 24)  “Dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. 26:151)  “…Karena  sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku …” (QS. 12: 53) Ayat di atas dikutip dari Nabi Yusuf as. Dan jelas menunjukkan bahwa beberapa kelompok orang tertentu dibebaskan dari dorongan nafsu, nafsu yang mendorong kepada kejahatan, dengan restu Allah. Lihat juga ayat berikut yang Allah sendiri memastikan bahwa ada sekelompok orang tertentu yang mengatasi kekuatan iblis, “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan  bagimu terhadap mereka kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. 15: 42) Ketika meletakkan ayat-ayat ini bersama dengan ayat-ayat terdahulu, Anda akan mendapatkan gambaran lengkap: para nabi harus ditaati tanpa syarat, pelaku kesalahan dan dosa wajib tidak dipatuhi.. Sebelum memasuki hal lain pada topik ini, akan berguna dan dibutuhkan untuk menjelaskan ayat-ayat yang tampak bertentangan pada Alqur’an dengan persoalan “`ismah”. Setelah menjelaskan arti dan pentingnya `ismah para nabi dan utusan-Nya, yang didukung ayat-ayat Alqur’an yang telah disebutkan sebelumnya, beberapa orang menjadi bingung ketika mereka menemukan ayat-ayat yang memperlihatkan bahwa Adam dan nabi-nabi lainnya (seperti Daud as. Dan Yunus as.) melakukan perbuatan dosa. Kebingungan ini akan menjadi jelas jika kita menyadari bahwa ayat-ayat Alqur’an, menurut Alqur’an itu sendiri, ada dua jenis: “Dialah yang menurunkan al kitab (Alqur’an) kepada kamu. Di antara isinya ada ayat-ayat muhkamat, itulah pokok-pokok isi Alqur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah …” (QS. 3: 7) Mereka yang tidak membedakan di antara ayat-ayat mukhamat dan mutasyabihat dipastikan akan bingung ketika mereka seperti menemukan dua pesan dari ayat Alqur’an yang bertentangan, persoalan `ismah adalah salah satu dari banyak isu ketika manusia menjadi korban dari kebingungan. (Isu lainnya adalah Qadha dan Qadr, apakah Tuhan memiliki tubuh fisik dll). Situasi, pada tahap dari diskusi ini, adalah seperti berikut: (1) Akal dan fikiran kita memberitahu bahwa petunjuk Tuhan haruslah bersih dan tidak tercela. (2) Banyak ayat dari Alqur’an mendukung pandangan ini, seperti telah disebutkan. (3) Tetapi ada juga beberapa ayat, yang terlihat menisbatkan kesalahan dan dosa kepada beberapa nabi.  Apa yang harus dilakukan pada ayat ini? Kita harus menerima ayat-ayat tersebut, yang didukung oleh akal kita, sebagai ayat-ayat yang jelas (muhkamat). Dan ayat-ayat lainnya yang bersifat kiasan (mutasabihat) dan maknanya yang benar harus dilihat dalam bimbingan muhkamat, ajaran para nabi dan ahlul bait yang mempunyai kedudukan yang sama dengan Alqur’an karena petunjuk hadis terkenal, “Aku meninggalkan dua hal kepada kalian (sebagai petunjuk): Kitab Allah dan ahlul baitku.” (Shahih Muslim).  Sekarang, mari kita pelajari ayat-ayat ini dan melihat bagaimana kita dapat  menginpretasikannya dan pada saat yang sama, berpegangan teguh kepada keyakinan kita mengenai kesempurnaan para nabi.   Kasus Nabi Adam as Akan sangat membantu jika kita, pada awalnya mempelajari ayat-ayat Alqur’an tentang penciptaan Nabi Adam as, keberadaannya di surga, dan kedatangannya ke bumi. Kisah Nabi Adam dijelaskan dalam tiga bagian dalam Alqur’an. Bagian pertama dalam surat Al-Baqarah ayat 30-35; kedua dalam surah tujuh (Al-A’raf) ayat 19-25; ketiga dalam surat 20 (Thaha) ayat 116-124.  Ada beberapa hal yang dapat dijelaskan untuk menciptakan keselarasan antara ayat-ayat Alqur’an ini dan pada saat yang sama memperdalam keyakinan kita tentang ke-ma`shum-an para nabi kita. Kami akan menjelaskan lima hal dan meninjau satu-persatu secara ringkas.   Hal pertama Tidak semua perintah-perintah dalam Alqur’an memiliki hukum yang sama: Ada hukum-hukum wajib: hukum-hukum yang melarang (haram): hukum-hukum yang bersifat anjuran (mustahab): hukum-hukum tentang hal-hal yang makruh: dan terakhir hukum-hukum yang mengijinkan (jaiz atau mubah). Semua Muslim sependapat bahwa meskipun Allah menggunakan bentuk perintah untuk suatu perbuatan, hal ini tidak selalu berarti hal yang wajib, tidak juga hal yang haram. Perintah tersebut dapat berarti juga hal-hal yang diperbolehkan, atau jika dalam hal-hal yang memiliki pandangan dari perintah, ia dapat berarti sesuatu yang tidak disukai. Tidaklah harus terpaku dalam kategori wajib dan haram. Sebagai contoh, “Nikahilah seseorang yang masih sendiri di antaramu, atau seseorang di antara hambamu yang saleh, laki-laki atau perempuan.” (QS. 24: 32). Ayat ini juga satu anjuran dalam bentuk perintah. Tidak ada yang mengindikasikan dalam ayat ini bahwa Allah menasehati kita untuk menikah, ia tampak menunjukkan bahwa kita harus menikah. Sampai sekarang, banyak ulama yang mengetahui bahwa hal ini bukanlah yang dimaksudkan, dan tidak seorang pun dari mereka yang menempatkan pernikahan dalam kategori kewajiban. Ada beberapa ayat lain dengan jenis yang sama, ketika suatu perintah terlihat wajib, tapi sebenarnya ia hanya menyampaikan sesuatu yang diperbolehkan. Kesimpulannya, tidak semua perintah-perintah Allah bersifat wajib atau larangan. Perintah yang diberikan kepada Adam dan Hawa tidak bersifat larangan (haram). Ia hanya bersifat makruh. Dan tindakan menentang pada perintah seperti tersebut tidaklah merupakan sebuah dosa.  Hal Kedua Surga bukanlah suatu tempat percobaan atau pengujian. Di bumilah, manusia ditakdirkan untuk menghadapi ujian dan cobaan dengan mengikuti perintah-perintah Allah. Konsep tentang dosa dalam kehidupan manusia terjadi dalam kehidupan dunia ini.  Dalam kisah Nabi Adam sendiri, Allah membuat jelas persoalan ini ketika ia memerintahkan Adam dan Hawa untuk turun ke bumi berkata, “Turunlah kamu sekalian bersama-sama dari surga, dengan sebagian dari kamu akan bermusuh-musuhan, tapi manakala datang petunju-Ku, barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku tidak akan pernah ia tersesat, tidak juga sengsara. Tapi barangsiapa yang berpaling dari perintah-Ku, sesungguhnya untuknya kehidupan yang sempit, dan Kami akan bangkitkan mereka di akhirat dalam keadaan buta.” (QS. 20:123-124) Perintah yang diberikan kepada Adam di surga tidak sama dengan perintah yang diberikan kepada manusia di dunia penyebab timbulnya dosa di bumi adalah ketidakpatuhan terhadap perintah-perintah yang diberikan.  Hal Ketiga Mereka yang percaya bahwa Adam berbuat suatu dosa menggambarkan tindakan memakan buah terlarang sebagai “dosa” dan pengusiran Adam dari surga sebagai “hukuman” namun, hubungan antara dosa dan hukumannya tidaklah valid dikarenakan sedikitnya dua alasan: Pertama, Adam telah ditakdirkan dari awal, untuk datang ke bumi. Allah telah mengatakan sebelum penciptaan Adam, “Sesungguhnya Aku akan menempatkan seorang khalifah di bumi.” Jadi, kedatangan Adam ke bumi bukanlah sebuah hukuman; apakah memakan atau tidak buah dari pohon kayu yang terlarang, Adam tetap turun ke bumi. Jadi jenis hukuman apakah hal tersebut? Kedua, jika turunnya Adam ke bumi adalah sebuah “hukuman” atas tindakan memakan buah terlarang maka seharusnya ia kembali ke surga sesudah Allah mengampuninya. Pengampunan berarti “penghapusan hukuman” Adam seharusnya dibawa kembali ke surga. Hal ini tidak terjadi, sehingga membuktikan bahwa turunnya Adam ke bumi bukan suatu “hukuman”, dan tindakan memakan buah itu bukan merupakan suatu “dosa”.  Hal Keempat Kita sekarang akan membahas secara ringkas kata-kata dalam kisah Adam as, yang menyimpukan bahwa ia telah melakukan suatu dosa. Sesudah mempelajari persoalan `ismah dari segi pandang Alqur’an maka kita harus menafsirkan ayat-ayat yang sepertinya menyimpulkan dosa dalam suatu cara yang selaras dengan ayat-ayat Alqur’an yang lain. Mari kita lihat beberapa contoh berikut: Kata pertama yang berati dosa berarti “dzalimin” (orang-orang zalim). Kata ini diambil dari kata ‘dzulm’ yang berarti salah. Dalam bahasa Arab, kata ini memilki empat arti: (1) Menindas dan salah; (2) Menempatkan sesuatu di tempat yang salah; (3) tergesa-gesa; (4) Membahayakan; atau “ … sebaliknya Anda menjadi salah seorang dari mereka yang tergesa-gesa”. Di sini, “tergesa-gesa” dapat berarti mereka, pada akhirnya, turun ke bumi tetapi dengan memakan dari pohon terlarang, mereka membuat kedatangan mereka ke suatu tempat yang mereka akan kehilangan kesenangan di surga secara tergesa-gesa.  Pengertian kata dzalimin didukung oleh ayat selanjutnya yang mengatakan bahwa setan “Mengeluarkan mereka dari kesenangan yang telah mereka peroleh.” (QS. 20:117) Juga mendukung perkiraan ini, ayat: “Maka Kami berkata: “Hai Adam! Sesungguhnya ia merupakan musuh engkau dan istri engkau: maka jangan biarkan mereka memperdayai sehingga keluar dari surga, nanti engkau celaka. Sesungguhnya engkau tidak lapar juga tidak pula bertelanjang.” Di sini semua disediakan untukmu, namun di sana kamu harus berupaya untuk memperolehnya sendiri. Kata lain yang menyiratkan “dosa” adalah kata “`asha” yang berarti membantah (keluar dari ketaatan). Kata ini tidak menyiratkan dosa karena sikap membantah dapat dikenai dengan dua jenis perintah: haram dan makruh. Jika sesorang membantah perintah bernilai makruh, dia telah “membantah” tetapi bukan “dosa”. Kita telah menjelaskan bahwa perintah-perintah Allah tidak selalu memiliki kekuatan wujub (wajib) dan hurmat (haram). Dan, dengan memahami ayat-ayat tersebut, yang membuktikan `ismah, kita tidak memiliki pilihan, karenanya, kita memperkirakan kata ini sebagai “bantahan atas perintah bernilai makruh”. Demikian juga kata ghawa yang berarti “khilaf”. Tapi kata ini tidak pula berarti dosa. Ia secara mudah dapat diterapkan pada tarkul awla, yang seorang nabi tidak diizinkan untuk melakukannya. Tarkul awla berarti, “meninggalkan perilaku yang lebih pantas”. Kekhilafan Adam as dapat berarti bahwa meskipun perintah tersebut tidak bernilai hurmat, tetap saja Adam harus mengikutinya. Dengan tidak menghormati perintah Allah ini, Adam bersalah bukan karena suatu dosa (haram) tapi karena tidak meninggalkan perilaku yang tidak sesuai (makruh) yang diharapkan dari seorang Nabi atau Rasul Allah.  Hal Kelima Jika Adam tidak berbuat dosa, maka mengapa Allah berfirman tentang pertaubatan Adam dan pengampunan dari Allah sendiri, dan secara tegas menggunakan katakata seperti “khilaf” dan “dzalim”? Pertama, jika seorang nabi seperti Adam as berbuat tarkul awla, cukup layak baginya untuk memohon maaf kepada Allah—bukan karena suatu dosa tetapi dikarenakan perilaku yang tidak sesuai. Jadi “taubat” tidak berarti bahwa sebelumnya Adam berbuat dosa; hal ini cukup sesuai dan lebih disarankan berbuat tarkul awla. Kedua, penggunaan kata-kata yang tegas oleh Allah dalam penggambaran kisah Adam dapat diterima dengan memahami status dari Adam. Dalam kenyataannya, ketika Allah memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam, hal ini secara jelas menunjukkan posisi dan kedudukan tinggi dari Adam dalam pandangan Allah. Perhatikanlah ayat berikut, “Sesungguhnya Allah memilih Adam dan Nuh dan anak cucu Ibrahim dan anak cucu Imran pada posisi yang tinggi.” (QS. 3: 33) Sehingga meskipun Adam tidak berbuat suatu dosa, tidaklah layak baginya memiliki perilaku yang tidak sesuai ini. Orang dengan tingkat tinggi diharapkan hidup sesuai standar yang lebih tinggi daripada kehidupan manusia biasa. Dan seperti yang dikatakan, “Perbuatan-perbuatan baik dari orang-orang salah dianggap “dosa” oleh mereka yang dekat dengan Allah— (hasanatul abrar sayyi’atul muqarrabin).</p>
<p><em>By Muhammad Alcaff</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/panoramaislam.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/panoramaislam.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/panoramaislam.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/panoramaislam.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/panoramaislam.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/panoramaislam.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/panoramaislam.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/panoramaislam.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/panoramaislam.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/panoramaislam.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/panoramaislam.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/panoramaislam.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/panoramaislam.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/panoramaislam.wordpress.com/246/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=246&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/04/07/para-nabi-kok-bedosa-ngak-mungkin-la-yah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/713d5e27c4fcb32a50010d15b1288023?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">panoramaislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PELANGGAN WARKOJE KE-4000</title>
		<link>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/04/06/pelanggan-warkoje-ke-4000/</link>
		<comments>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/04/06/pelanggan-warkoje-ke-4000/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 07:15:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>panoramaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[WARKOJE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panoramaislam.wordpress.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Assalamulaikum&#8230;. Salam kenal dan hangat kepada para pelanggan tetap atau tdk tetap Warkoje (Warong Kopi Jahe) yang saya asuh&#8230;Bahkan mereka yang sekadar mampir dan melihat-melihat Warkoje pun saya ucapkan selamat datang&#8230; Sejak berdiri tahun Juli 2007, Warkoje berjalan tertatih-tahih&#8230;tapi alhamdulillah seiring berkurangnya kesibukan saya dan taufik yang Tuhan berikan, saya semakin sering nongkrong di Warkoje&#8230;terutama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=244&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamulaikum&#8230;.</p>
<p>Salam kenal dan hangat kepada para pelanggan tetap atau tdk tetap<strong> Warkoje</strong> <em>(Warong Kopi Jahe)</em> yang saya asuh&#8230;Bahkan mereka yang sekadar mampir dan melihat-melihat <strong>Warkoje</strong> pun saya ucapkan selamat datang&#8230;</p>
<p>Sejak berdiri tahun Juli 2007, Warkoje berjalan tertatih-tahih&#8230;tapi alhamdulillah seiring berkurangnya kesibukan saya dan taufik yang Tuhan berikan, saya semakin sering nongkrong di Warkoje&#8230;terutama sejak saya bertemu dengan somebody nun jauh disana, mybe murid favorit saya, warkoje asuhan saya menunya semakin enak dan renyah&#8230;rasanya kriak-kriuk&#8230;kadang pedas&#8230;kadang manis&#8230;kadang asin..bahkan kadang pahit&#8230;.disesuaikan dengan keinginan dan kondisi pelangannya&#8230;</p>
<p>Rencananya saya akan membikin Cafe Warkoje sungguhan di daerah Jakarta&#8230;entah dimananya&#8230;.karena itu, saya minta doa dan dukungannya&#8230;.Saya harap Cafe ini menjadi tempat silatu rahmi dan sekaligus menjadi media komunikasi yang sehat di kalangan remaja khususnya&#8230;Bagi yang mau menaruh saham&#8230;ya silakan aja&#8230;.Menunya tentu menarik dan khas Warkoje&#8230;.Ini masih saya pikirkan&#8230;dan ditunggu usulan dan masukannya&#8230;!</p>
<p>Alhasil&#8230;..setelah saya aktif kembali&#8230;alhamdulillah kini pelanggan Warkoje mencapai angka 4000&#8230;saya perlu mengapresiasi mereka&#8230;.Sekali lagi salam hangat dari saya&#8230;semoga Tuhan selalu melindungi Anda semua&#8230;Saya hanya bisa menghibur Anda lewat tulisan segar dan menggelitik&#8230;hanya itu&#8230;Mohon maaf ats segala kekurangan dan ditunggu masukan dan kritikannya&#8230;.</p>
<p><strong>Muhammad Alcaff</strong></p>
<p><strong>(Pengasuh Warkoje)</strong></p>
<p>6-April-2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/panoramaislam.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/panoramaislam.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/panoramaislam.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/panoramaislam.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/panoramaislam.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/panoramaislam.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/panoramaislam.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/panoramaislam.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/panoramaislam.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/panoramaislam.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/panoramaislam.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/panoramaislam.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/panoramaislam.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/panoramaislam.wordpress.com/244/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panoramaislam.wordpress.com&amp;blog=1332603&amp;post=244&amp;subd=panoramaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://panoramaislam.wordpress.com/2009/04/06/pelanggan-warkoje-ke-4000/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/713d5e27c4fcb32a50010d15b1288023?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">panoramaislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
