BELAJAR MANDIRI

  Konferensi ke-6 Badan Kerjasama Persatuan Pelajar Indonesia Se-Timur Tengah dan Sekitarnya (BKPPI) dibuka secara resmi oleh Prof. Amien Rais pada hari Minggu, 16 Juli 2007. Konferensi kali ini mengusung tema yang cukup gagah dan mentereng, “Membangun Kemandirian Bangsa Menuju Indonesia yang Berkeadilan”. Beberapa tokoh nasional dan praktisi pendidikan ikut meramaikan konferensi kali. Sebut saja nama Dr. Bambang Pranowo, staff menhan Juwono Sudarsono, Dr. Masyitoh Chusnan dari DEPDIKNAS, dan beberapa rektor dari pelbagai universitas penting di tanah air yang diundang oleh pusat studi internasional Qom, Iran. Tentu saja lebih dari 7 utusan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) setimur tengah dan Eropa pun ikut menyukseskan hajatan ilmiah besar ini.

Itu aspek berita dari konferensi tersebut. Lalu, dari esensi dan urgensi masalah/tema yang diangkat ke permukaan, apa yang menarik? Tema itu memang terasa sedap di telinga. Suatu tema yang menjadi impian dan harapan mayoritas kalau tidak dikatakan seluruh rakyat Indonesia yang merdeka.

Setiap jiwa yang merdeka/mandiri pasti akan merespon positif langkah besar yang dilakukan para mahasiswa itu. Bahkan sejatinya membangun bangsa yang mandiri dan berkeadilan adalah harapan dan cita-cita luhur para pejuang nasional yang dengan raga dan jiwanya berkorban demi kemerdekaan Indonesia. Kemandirian bangsa Indonesia adalah obsesi suci para pahlawan seperti Bung Tomo dan Panglima Sudirman. Ketika bangsa Indonesia begitu mudahnya membebek, mengekor dan menjilat para penjajah modern yang menggunakan kapitalisme yang jahat dan perusahaan-perusahaan besar yang menjadi kaki tangannya, maka ini berarti pengkhianatan besar terhadap perjuangan dan patriotisme para pahlawan nasional. Teriakan Allahu Akbar Bung Tomo akan sia-sia. Sebab, Allahu Akbar bermakna hanya Allah Yang Maha Besar dan selain-Nya kecil dan bahkan sangat kecil. Hanya Dia Yang Maha Kuasa dan selain-Nya sangat kecil dan terbatas kekuasaannya. Hanya Dia Tempat Bergantung dan selain-Nya tidak layak dijadikan gantungan. Sebaliknya, ketika bangsa Indonesia berdiri di atas kakinya sendiri, tidak gampang mengemis belas kasihan terhadap lembaga-lembaga kapitalis seperti IMF, dan dengan percaya diri bertumpu pada potensinya sendiri maka ini berarti penghormatan terhadap jasa para pahlawan negeri. Jika demikian halnya maka bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.  Ada dua terminologi penting dari tema di atas: pertama, mandiri dan kedua, adil. Mandiri terkadang diplesetkan mandi sendiri. Plesetan ini menurut saya bisa menjadi benar kalau kita maknai bahwa ada pekerjaan-pekerjaan pribadi yang dapat kita lakukan sendiri dan sangat ironis dan memalukan kalau urusan seperti mandi harus kita serahkan ke orang lain. Mandiri dalam makna yang sebenarnya adalah bertumpu pada kekuatan sendiri dan tidak kehilangan kewibawaan dan kemuliaan saat harus bekerjasama dengan orang/pihak lain. Orang yang mandiri bisa juga disebut bahkan mungkin sebutan ini lebih pas orang yang merdeka. Orang yang merdeka berarti orang yang tidak bergantung pada orang lain. Dengan kata lain, orang yang merdeka orang yang tidak ketakutan ditinggalkan orang lain. Bahkan orang yang merdeka merasakan kedamaian hati saat ditinggalkan masa, saat berada diketerasingan selama ia menyadari bahwa ia memperjuangkan nilai-nilai kemerdekaan. Bukankah Islam mengajarkan kepada kita bahwa adakalanya kesendiriaan dan hidup menyendiri itu justru lebih baik daripada bergaul dengan masyarakat yang tidak merdeka (masyarakat yang bobrok akhlaknya). Abu Dzar al Ghifari, adalah contoh hamba Allah yang merdeka dan mandiri. Adalah benar bahwa ia terisolasi dari masyarakat dan mati secara terasing pula, namun di balik keterasingannya ia meneguk manisnya buah kemerdekaaan dan kemandirian. Nabi Yusuf as, adalah contoh lain dari insan kamil yang merdeka. Beliau merasakan indahnya kemerdekaan Ilahiah justru saat beliau mendekam di terali besi alias penjara. Bahkan yang menarik di saat beliau duduk di singgasana kekuasaan yang terhormat, beliau khawatir kalo-kalo kemerdekaan jiwanya terampas oleh cinta kekuasaan yang hina-dina karena itu beliau menyampaikan doa orang yang merdeka: “Ya Allah kalo kekuasaan ini menggiring aku kepada cinta dunia maka matikanlah aku sebagai orang Muslim dan gabungkanlah aku bersama hamba-hamba-Mu yang saleh.” Sebaliknya, saudara-saudara Nabi Yusuf as meski menghirup udara segar dan bebas di luar penjara namun sejatinya mereka adalah budak-budak hawa nafsu hina mereka. Sedangkan terminologi kedua adalah adil. Adil berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya. Atau, memberikan hak kepada pemiliknya. Inilah makna adil yang cukup adil dan bijak. Sedangkan makna adil yang didefiniskan pemerataan dalam pemberian, misalnnya hukum waris laki perempuan harus sama maka ini makna adil yang tidak adil alias keblinger.  

[Mas Alcaff]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: