Bahaya Menjilat

Seorang lelaki bernama Yunus bin Ya`qub mendatangi Imam Ja`far Ash-Shadiq RA sambil berkata, ”Berikanlah tanganmu padaku karena aku hendak menciumnya.” Imam Ja`far memberikan tangannya dan lelaki itu pun dengan leluasa menciumnya. Kemudian lelaki itu melanjutkan permintaannya, ”Dekatkanlah kepalamu.” Imam mendekatkan kepalanya dan lelaki itu menciumnya.


Tak puas sampai di situ, lelaki itu berkata, ”Berikan kakimu karena aku ingin menciumnya juga.” Imam Shadiq dengan nada tidak senang berkata, ”Aku bersumpah bahwa setelah mencium tangan dan kepala maka anggota tubuh yang lain tak layak untuk dicium.” Ada dua poin penting yang dapat kita petik dari kisah tersebut. Pertama, Islam melarang segala bentuk penjilatan. Kedua, siapa pun yang dijilat hendaklah tidak merasa enak. Rasulullah SAW bersabda, ”Menjilat bukan termasuk karakteristik moral seorang mukmin.” (Kanzul ‘Ummal, hadits 29364). Budaya menjilat bukan budaya seorang mukmin. Bahkan, sebenarnya budaya ini lebih dekat pada karakter seorang munafik.

Seorang penjilat sejatinya sedang membohongi dirinya sendiri. Apa yang dilakukannya berlawanan dengan lubuk hatinya yang paling dalam. Ia rela melakukan apa saja secara berlebihan demi mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang yang dijilatnya. Biasanya yang menjadi korban penjilat adalah mereka yang tergolong mapan dan superior, seperti atasan, pimpinan, pemegang kekuasaan dan keputusan.

Sebagaimana kisah tersebut, Yunus bin Ya`qub menjilat pemimpin agamanya, agar dengan cara itu ia mendapatkan pengakuan ketaatan dan ketulusan dari pemimpinnya. Namun, sayangnya, ia berhadapan dengan seorang pemimpin yang bukan hanya tidak mau dijilat, tapi juga melarang segala bentuk penjilatan.

Lalu mengapa Islam melarang budaya menjilat? Menjilat adalah salah satu bentuk kehinaan. Padahal, Islam datang untuk menjunjung tinggi kemuliaan dan kehormatan manusia. Sedangkan penjilat berusaha menghinakan dirinya dan merobohkan harkat dan martabat manusia yang dibangun Islam. Terkadang, budaya menjilat ini timbul karena kesalahpahaman terhadap makna dan pengertian tawadhu (rendah hati). Misalnya, seorang bawahan merasa perlu memuji atasannya setinggi langit demi menunjukkan loyalitasnya terhadap sang atasan. Ironis sekali kalau sang atasan mengangguk-anggukkan kepalanya alias mengamininya dengan berbagai pujian itu. Sementara hal yang dijadikan bahan pujian bawahannya itu sebenarnya tidak terjadi.

Dengan demikian, atasan ini telah membiarkan kebohongan dan kepura-puraan terhadap dirinya terus berlangsung. Sesuatu yang tidak ada pada dirinya dikatakan ada. Bukankah ini dusta yang besar? Bukankah ini hal yang terlarang. Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, ”Memuji lebih dari yang seharusnya adalah penjilatan.” (Nahjul Balaghah, hikmah 347). Karena itu, hindari sejauh mungkin segala tindakan yang bisa menjurus ke arah penjilatan.

Dikutip dari Koran Republika Online, Kolom Hikmah

(Penulis:Muhammad Abdul Qadir Alcaff)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: