SECANGKIR KOPI JAHE PAHIT DARI MADINAH

AWAS HAJI MABUR

picture-310

Dari pelbagai pengalaman saya menyeruput Kopi di pelbagai daerah di tanah air di Jakarta, Bandung, Medan, Madura, Bali, Bangil, Semarang sampai di luar negeri Singapore, Thailand, Qatar, Dubai, Iran dll tidak ada yang lebih mengesankan daripada saat saya menikmatinya bersama teman Malaisia saya, Askari di Madinah, tepatnya di kedai pinggiran altar Masjid Nabawi.

Sambil memandangi Kubah Hijau Baginda Rasul saw dan menyaksikan lalu lalang jamaah haji dari pelbagai negara dan propinsi di tanah air, kami menikmati lezatnya Kopi yang beraroma padang pasir.

Kami datang ke sini karena kehendak-Mu ya Ilahi, karena takdir-Mu. Maka tiada yang kami harapkan kecuali ampunan dan maaf-Mu. Hapuslah beban dosa yang cukup memberatkan pundak kami. Jadikanlah kami termasuk hamba-Mu yang bersyukur dan mengenal-Mu. Sebab bila kami tidak mengenal-Mu maka kami akan tersesat dari agama-Mu.

Datang ke Tanah Suci Baitullah dan melaksanakan shalat di Masjid Nabawi yang pahalanya Gede Sekali sehingga mungkin karena itu tidak dianjurkan meng-qashar shalat (memangkas shalat empat rakaat menjadi dua rakaat) di kedua tempat ini (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) adalah anugerah Ilahi yang patut disyukuri.

Banyak saudara-saudara kita yang bercita-cita ingin berangkat dan melaksanakan ibadah haji namun apa daya mereka tidak memiliki syarat khusus untuk go ke Tanah Suci. Misalnya, karena tidak memiliki uang yang cukup, kesehatan yang tidak memungkinkan, dll. Namun mereka yang punya keinginan kuat utk pergi ke Mekkah dan Madinah guna melaksanakan ibadah umrah dan haji namun sampai sekarang belum juga kesampaian tak boleh berkecil hati, karena Secangkir Kopi Jahe Pahit akan memberikan resep jitu kepada Anda sehingga meskipun Anda berdiam diri di Indonesia, Anda pun mendapatkan pahala umrah dan haji. Kok enak benar, gimana caranya Mas Alcaff? Begini, Pak, Bu, Neng, Dik: Caranya gampang dan mudah sekali, tak perlu Anda mengucurkan keringat. Asal, Anda berani dan rajin mencoba dan melakukannya, yaitu:

Fatimah meriwayatkan bahwa ketika beliau hendak tidur, Rasulullah saw masuk ke kamar beliau dan menemui beliau sambil bersabda: Wahai Fatimah, janganlah engkau tidur sebelum melakukan empat hal: Pertama, khatamkanlah alquran. Kedua, jadikanlah para nabi sebagai pemberi syafaatmu. Ketiga, jadikanlah kaum mukmin ridha terhadapmu. Dan keempat, lakukanlah haji dan umrah terlebih dahulu. Kemudian Rasul saw menjelaskan dan melanjutkan sabdanya: Bila engkau membaca surah al Ikhlash tiga kali maka seakan-akan engkau mengkhatamkan alquran. Dan bila engkau mengirim salam kepadaku dan kepada para nabi sebelumku [dengan membaca]:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَ صَلِّ عَلىَ جَمِيْعِ اْلاَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ وَ اَوْلِيَاءِ الصَّالِحِيْنَ.

(Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya dan sampaikan pula shalawat kepada seluruh para nabi dan rasul serta para wali yang saleh).

maka kami akan menjadi pemberi syafaatmu di hari kiamat.

Dan bila engkau memintakan ampunan buat kaum mukmin [dengan membaca]:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ.

(Ya Allah, ampunilah kaum mukmin dan kaum mukminat, kaum muslim dan kaum muslimat).

maka mereka akan ridha padamu.

Dan bila engkau mengucapkan:

سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ ِللهِ وَ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرُ.

(Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah dan tiada tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar).

maka engkau sebenarnya telah melaksanakan umrah dan haji.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda yang maknanya kurang lebih: Barangsiapa yang menunaikan hajat saudara mukminnya (menyelesaikan/memecahkan problemnya) maka ia sejatinya mendapatkan pahala haji dan umrah, bahkan berkali-kali ibadah haji dan umrah.

Lagi pula, tidak sedikit jamaah haji yang berangkat ke Tanah Suci pulang dengan tangan hampa. Sebab haji mereka tidak bermakna. Haji yang tidak dilandasi iman yang kuat dan tauhid yang membaja. Haji yang sejatinya hanya perpindahan tempat ibadah dan wisata yang kurang menarik. Haji yang disibukkan dengan memenuhi tas dengan oleh-oleh dan belanja. Haji yang lebih mementingkan shoping ketimbang memikirkan dosa dan tekad kuat utk tidak mengulanginya. Haji yang tidak mampu mengubah karakter dan perilaku buruk yang bersangkutan yang bertitel Pak Haji or Bu Hajjah. Haji tetap, menipu tetap. Haji tetap, menggunjing tetangga dan teman tetap. Alhasil, apa gunanya haji bila tetap menyakiti hati saudara. Ini haji palsu, bukan haji mabrur tapi Haji Mabur (alias haji terbang), tak berkesan dan tak mendapatkan pahala di sisi Allah Swt. Wal iyadzubillah!

By Muhammad Alcaff

(Pengasuh Warong Kopi Jahe Pahit)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: