Multiple Intelligence Sang Nabi Saw

image74

Kepribadian Nabi Terakhir Saw

1-Ummi (Buta Huruf) yang Alim.

Salah satu keistimewaan Nabi terakhir adalah bahwa beliau tidak pernah belajar membaca dan menulis pada seorangpun dari guru manusia. Beliau tidak tumbuh di lingkungan ilmu, namun justru di masyarakat Jahiliah. Dan tak seorangpun yang mengingkari hakikat ini yang dijelaskan oleh Al-Qur’an. Nabi Saw. tumbuh di tengah-tengah kaum yang serba bodoh dan sangat primitif terhadap ilmu dan pengetahun. Masa itu kesohor dengan masa Jahiliah.

Dan penamaan ini tidak muncul kecuali dari seorang yang berilmu yang memahami ilmu, kebodohan, dan akal. Di samping itu, Nabi Saw. datang dengan membawa kitab yang mengajak kepada ilmu, budaya, pikiran, dan rasionalitas serta mengandung tumpukan makrifat dan pelbagai disiplin ilmu. Beliau mulai mengajarkan Kitab dan hikmah kepada manusia sesuai dengan metode yang mengagumkan sehingga beliau menciptakan peradaban yang unggul; yang ilmu dan sainsnya mampu menembus dunia Barat dan Timur. Dan sampai sekarang ilmu-ilmu Islam itu tetap bersinar.

Nabi Saw. adalah seorang ummi, namun beliau begitu getol memerangi kebodohan dan jahiliah dan para penyembah berhala. Beliau diutus dengan membawa agama yang lurus kepada manusia, juga membawa syariat universal yang selalu menantang manusia sepanjang masa. Beliau dengan sendirinya merupakan mukjizat, baik ilmunya, pengetahuannya, penuturannya, kekuatan akalnya dan budayanya maupun metode pendidikannya.

Oleh karena itu, Allah Swt. berfirman: “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” Juga firman-Nya: “Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu , dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar padamu.” Ya, Allah Swt. telah menurunkan wahyu padanya dan mengajarinya Kitab dan hikmah dan menjadikannya sebagai cahaya dan pelita yang menerangi, dan dalil, saksi serta rasul yang menjelaskan, yang menasihati, yang terpercaya, yang mengingatkan, yang membawa kabar gembira dan yang membawa kabar buruk. Allah Swt. telah melapangkan dadanya dan menyiapkannya untuk menerima wahyu serta melaksanakan misi pembimbingan masyarakat yang dikuasai oleh aroma fanatisme dan egoisme Jahiliah. Masyarakat mengenal beliau sebagai pemimpin tertinggi (termulia) di bidang dakwah, pendidikan dan pengajaran.

Adalah suatu loncatan (reformasi) besar ketika masyarakat Jahiliah—hanya dalam beberapa tahun—berubah menjadi pengawal yang terpercaya dan pembela kuat Kitab petunjuk dan pelita ilmu. Mereka menentang pelbagai usaha distorsi dan penyimpangan. Sesungguhnya itu merupakan mukjizat Kitab yang kekal ini dan Rasul ummi yang memimpin semua itu. Beliau merupakan seseorang yang paling jauh—di masyarakat jahiliah itu—dari pelbagai khurafat dan dongeng palsu. Beliau adalah cahaya basirah Ilahiah yang meliputi seluruh aspek wujudnya.

2-Muslim Pertama yang Menyembah Allah Swt

Sesungguhnya ketundukan mutlak kepada Allah, Sang Pencipta alam dan wujud, dan penyerahan sempurna kepada keagungan, kekuasaan-Nya dan validitas hikmah-Nya, ibadah yang dibangun oleh ikhtiyar (kesadaran) yang sempurna di hadapan Tuhan Yang Maha Esa dan Tempat Bergantung merupakan puncak pertama yang harus dicapai oleh setiap manusia. Sehingga ia layak untuk mendapatkan anugerah dan pemilihan Ilahi.

Al-Qur’an mengisyaratkan hal itu kepada Nabi yang agung ini dalam firman-Nya: “Katakanlah: `Sesungguhnya aku telah ditunjuk oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Katakankah: `Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” Itu merupakan “medali kesempurnaan” yang digapai oleh hamba muslim ini yang sangat berhasil dalam pengabdian (ibadah) yang semata-mata pada-Nya. Ibadah yang tak ada duanya ini termanifestasi dalam perkataanya dan perilakunya dimana beliau bersabda: “Kebahagianku terwujud dalam shalat.” Beliau menanti waktu shalat dan sangat merindukan saat-saat berdiri di hadapan Allah Swt. Beliau berkata kepada muazinnya, Bilal: Hiburlah aku, hai Bilal.

Ketika beliau asyik ngobrol dan bersenda gurau dengan keluarganya lalu saat waktu shalat tiba seakan-akan beliau tidak mengenal mereka dan mereka pun seolah-olah tidak mengenal beliau. Ketika beliau menunaikan shalat, terdengar dari dadanya semacam dengungan dandang. Beliau menangis hingga membasahi tempat shalatnya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla. Beliau menunaikan shalat hingga kedua kakinya membengkak. Dikatakan kepadanya: “Mengapa engkau melakukan ini sedangkan Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang datang kemudian?!” Lalu beliau menjawab: “Bukankah aku harus menjadi hamba yang bersyukur? ”

Nabi Saw. berpuasa pada bulan Sya`ban, Ramadhan dan tiga hari pada setiap bulan. Ketika masuk bulan Ramadhan, raut mukanya berubah dan shalatnya semakin meningkat serta beliau sibuk dalam berdoa. Bila telah memasuki sepuluh terakhir dari Bulan Ramadhan, beliau semakin bersemangat dalam ibadahnya dan menjauhi wanita serta menghidupkan malam dengan berkosentrasi dalam ibadah. Berkaitan dengan doa, beliau bersabda: “Doa adalah intisari ibadah.” Juga bersabda: “Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.” Beliau selalu berhubungan dengan Allah Swt. selalu memanggil-Nya dengan penuh kerendahan dan berdoa dalam setiap perbuatan besar ataupun kecil.

Bahkan beliau beristigfar kepada Allah setiap hari sebanyak tujuh puluh kali, juga bertaubat pada-Nya sebanyak tujuh puluh kali, meksipun beliau tidak pernah berbuat dosa. Beliau tak sekalipun bangun dari tidur kecuali merebahkan diri dan sujud kepada Allah Swt. Dan beliau bertahmid kepada Allah pada setiap hari sebanyak tiga ratus enam puluh kali dimana beliau membaca: الحمد لله ربّ العالمين كثيرا على كل حال Segala puji bagi Allah, Tuhan Pengatur alam semesta, pujian yang banyak pada setiap keadaan.

Beliau sangat tekun dan rajin dalam membaca Al-Qur’an dan sangat menyukainya. Sementara itu, malaikat Jibril turun kepadanya untuk memberikan keringanan padanya karena beliau begitu melelahkan dirinya dalam beribadah melalui firman-Nya: “Thahaa. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar kamu menjadi susah.”

3-Percaya Mutlak Kepada Allah Swt Allah Swt.

berfirman kepada Rasul-Nya: “Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.” Dan juga berfirman padanya: “Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” Sebagaimana difirmankan oleh Allah Swt., Rasulullah Saw. mempunyai kepercayaan mutlak kepada-Nya. Diriwayatkan dari Jubair yang berkata: “Kami bersama Rasulullah Saw. di Dzatur Riqa`. Tiba-tiba kami sampai di suatu pohon yang rindang dan kami tinggalkan Rasulullah di situ. Lalu datanglah seorang lelaki musyrik. Saat itu pedang Rasulullah Saw. tergantung di pohon. Lelaki itu mengambil pedang itu dan sambil menghunuskannya ia berkata: Apakah kamu takut padaku? Nabi menjawab: Tidak. Lelaki itu berkata: ‘Siapa yang dapat melindungimu dariku?’ Dengan mantap Rasul menjawab: “Allah.” Tiba-tiba pedang itu jatuh dari tangan lelaki itu, lalu Rasulullah mengambilnya dan balik bertanya: ‘Sekarang siapa yang dapat melindungimu dariku?’ Lelaki tersebut menjawab: “Jadilah engkau sebaik-baik orang yang mengambil pedang.” Nabi berkata: ‘Apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah?’ Ia menjawab: “Tidak, tetapi aku berjanji padamu untuk tidak memerangimu dan aku tidak akan menyertai kaum yang memerangimu.”

Rasul saw pun membiarkannya pergi. Saat lelaki itu bertemu dengan para sahabatnya, ia berkata: “Aku telah datang dari orang yang paling baik di antara umat manusia.”

4-Keberanian yang Mengagumkan

Allah Swt. berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada seorangpun.” Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib—yang para jagoan Arab tunduk (takut) padanya—berkata: “Saat kami menghadapi keadaan (peperangan) yang sangat sulit dimana kedua musuh saling berhadap-hadapan, kami berlindung di sisi Rasulullah Saw. Tiada seorang pun yang paling dekat dengan musuh kecuali beliau.” Sementara itu, saat menggambarkan ketegaran Rasulullah Saw. di peperangan Uhud—setelah banyak orang berhamburan dan meninggalkan Rasulullah Saw. sendirian, Miqdad berkata: “Demi Dzat yang mengutus beliau dengan kebenaran, aku melihat Rasulullah Saw. tidak mundur sejengkal pun. Saat menghadapi musuh, beliau berada di garis terdepan, dimana sesekali sekelompok sahabatnya kembali pada beliau dan pada kesempatan lain mereka meninggalkan beliau. Mungkin aku melihatnya berdiri tegak sambil melepaskan anak panah atau melemparkan batu sehingga mereka saling melempar.”

5-Zuhud yang tak Tertandingi

Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” Diriwayatkan dari Abi Umamah bahwa Nabi Saw. bersabda: “Tuhanku telah menawariku untuk menjadikan tanah Mekkah sebagai emas.” Aku menjawab: “Aku tidak mau wahai Tuhanku, namun aku justru ingin sehari kenyang dan sehari lapar. Sebab, ketika aku lapar maka aku merendahkan diri pada-Mu dan mengingat-Mu, dan bila aku kenyang maka aku bersyukur dan memuji-Mu.” Beliau tidur di atas sehelai tikar, hingga saat beliau berdiri, bekas tikar itu tampak di pinggangnya. Lalu seorang sahabat berkata kepada beliau: “Ya Rasulullah, kalau engkau mau, kami akan bawakan ranjang untukmu.” Beliau menjawab: “Apa artinya aku dan apa artinya dunia?! Aku tiada lain kecuali seorang pejalan (musafir) yang berteduh di suatu pohon kemudian pergi dan meninggalkannya.” Ibn Abbas berkata: “Rasulullah Saw. tidur di malam berturut-turut dalam keadaan lapar dan keluarganya tidak mempunyai sesuatu untuk makan malam. Mereka sering makan roti yang terbuat dari gandum.” Sementara itu, Aisyah berkata: “Keluarga Muhammad tidak makan dua kali selama satu hari kecuali salah satunya adalah kurma.” Aisyah juga berkata: “Saat Rasulullah Saw. meninggal, baju besinya masih tergadaikan pada seorang Yahudi seharga 30 takaran gandum.” Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Fatimah datang dengan membawa sepotong roti kepada Nabi Saw. Lalu beliau berkata kepadanya: “Potongan apa ini hai Fatimah?” Fatimah menjawab: “Potongan roti. Aku tidak enak sehingga aku membawakan sepotong ini untukmu.” Beliau menjawab: “Ketahuilah bahwa itu akan menjadi makanan pertama yang masuk ke mulut ayahmu semenjak tiga hari.”

Diriwayatkan dari Qatadah yang berkata: Kami berada di tempat Anas, dan saat itu ada tukang roti yang bersamanya. Lalu ia berkata: “Nabi Saw. tidak pernah makan roti yang lembut dan kambing panas (mendidih) sehingga beliau berjumpa dengan Allah.”

6-Kedermawanan dan Kelembutan yang Agung

Ibn Abbas berkata: “Nabi Saw. adalah seorang yang paling dermawan terhadap kebaikan di antara manusia. Bahkan beliau semakin tampak dermawan saat memasuki bulan Ramadhan. Sesungguhnya Malaikat Jibril menemuinya pada setiap tahun di bulan Ramadhan. Saat Malaikat Jibril menemuinya, Rasulullah Saw. lebih dermawan terhadap kebaikan daripada angin yang berhembus.” Dan Jabir berkata: “Tidak pernah Rasulullah Saw. dimintai tentang sesuatu pun lalu beliau menjawab, tidak.” Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. mendatangi penjual pakaian, lalu beliau membeli sepotong baju darinya seharga empat Dirham. Saat beliau keluar dari tempat itu, seorang lelaki Anshar berpapasan dengan beliau dan berkata: “Ya Rasulullah, berilah aku baju. Semoga Allah memberimu pakaian surga.” Nabi pun melepas baju dan memberikannya pada lelaki tersebut. Kemudian beliau kembali ke toko itu dan membeli lagi sepotong baju darinya seharga empat Dirham.

Kini, uang beliau tersisa dua Dirham. Tiba-tiba beliau bertemu dengan seorang budak wanita yang sedang menangis di jalan. Beliau bertanya: “Kenapa engkau menangis?” Budak itu menjawab: “Ya Rasulullah, keluargaku memberiku uang sebesar dua Dirham untuk membeli tepung tapi uang itu kemudian hilang.” Lalu Nabi Saw. memberikan dua Dirham yang tersisa itu kepadanya. Budak wanita itu berkata: “Aku takut mereka akan memukuliku.” Karena itu, Nabi menggantarkannya ke keluarganya. Saat sampai di depan rumah, beliau mengucapkan salam. Mereka mengenali suara beliau. Karena tidak juga mendapatkan jawaban, Nabi kembali mengulang salamnya dan pada kali ketiga, mereka menjawab salam beliau. Nabi berkata: “Tidakkah kalian mendengar salam yang pertama?” Mereka menjawab: “Ya, namun kami sengaja ingin mendengar tambahan salam darimu. Lalu demi ayah kami dan ibu kami, mengapa engkau mengantarkan budak ini?” Rasul berkata: “Aku kasihan pada nasib budak ini; aku khawatir kalian akan memukulinya.” Pemilik budak wanita itu berkata: “Mulai sekarang ia bebas demi Allah, karena ia berjalan denganmu.” Kemudian Rasulullah Saw. menyampaikan kabar gembira kepada mereka berupa kebaikan dan surga. Beliau bersabda: “Sungguh Allah telah memberkati uang sepuluh Dirham, yang dengannya Allah memberi sepotong pakaian kepada Nabi-Nya dan kepada seorang lelaki Anshar, dan dengan sisanya Dia membebaskan budak. Dan aku bersyukur kepada Allah, karena Dia-lah yang memberi kita rezeki ini dengan kekuasaan-Nya.” Ketika memasuki bulan Ramadhan, Nabi Saw. membebaskan setiap budak dan memberi setiap peminta-minta.

Diriwayatkan bahwa Aisyah berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Saw. tidak pernah menuntut balas dendam untuk dirinya kecuali bila hal itu menyangkut kehormatan Allah. Dan beliau tidak pernah memukul dengan tangannya sesuatu pun kecuali pukulan yang beliau layangkan di jalan Allah, dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu lalu beliau tidak memberinya kecuali bila dimintai sesuatu yang mengandung dosa. Sebab, beliau adalah orang yang paling jauh dari dosa.” Diriwayatkan dari Ubaid bin Umair bahwa Rasulullah Saw. pasti memaafkan kesalahan selain sesuatu yang menyangkut hadd (penegakan hukum semacam kisas). Anas bercerita: “Aku mengabdi kepada Rasulullah Saw. selama sepuluh tahun, dan beliau tidak pernah berkata semacam ‘ah’ (ungkapan kekesalan) kepadaku. Beliau tidak pernah mengatakan terhadap sesuatu yang telah aku lakukan: mengapa kau melakukan ini?” Dan terhadap sesuatu yang tidak aku kerjakan, beliau tidak pula mengatakan: “Mengapa kau meninggalkannya?” Seorang Arab Baduwi datang kepada beliau lalu ia menarik pakaian beliau dengan keras hingga tarikan itu membekas pada bahu Nabi Saw. Lelaki Baduwi itu berkata: “Hai Muhammad, berilah aku harta Allah yang kau miliki.” Nabi menoleh kepadanya sambil tersenyum kemudian beliau memerintahkan untuk memberi lelaki Baduwi tersebut. Sepanjang hidupnya, Nabi Saw. dikenal sebagai manusia yang mudah memaafkan dan sangat toleran. Beliau memaafkan Wahsyi, pembunuh pamannya, Hamzah. Sebagaimana beliau memaafkan seorang wanita Yahudi yang menghidangkan kambing beracun padanya dan beliau juga memaafkan Abu Sofyan dan menjadikan masuk ke rumahnya sebagai jaminan keselamatan dari pembunuhan. Dan beliau pun memaafkan kaum Quraisy yang menentang perintah Tuhannya dan memerangi beliau dengan pelbagai sarana, padahal saat itu beliau berada dalam puncak kekuasaan dan kemuliaan, dimana beliau berkata: “Ya Allah, maafkanlah kaumku karena mereka tidak mengetahui. Pergilah kalian dan kalian adalah orang-orang yang bebas.” Al-Qur’an telah menjelaskan keagungan sikap lembut Rasul Saw. dalam firman-Nya: “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilinggmu. Karena itulah maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan bagi mereka.” Al-Qur’an juga mengungkapkan sejauhmana kasih sayang dan belas kasih beliau dalam firman-Nya: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

7-Rasa Malu dan Kerendahan Hati (Tawadu`)

Diriwayatkan dari Abi Sa`id Al-Khudri: “Nabi Saw. lebih malu daripada gadis yang dipingit. Bila beliau tidak menyukai sesuatu, hal itu diketahui dari wajahnya.” Diriwayatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib a.s.: “Bila Nabi Saw. ditanyai sesuatu yang hendak dilakukannya, beliau menjawab: “Ya.” Dan bila tidak ingin melakukan maka beliau diam. Beliau tidak mengatakan kepada sesuatu; ‘tidak’. Diriwayatkan dari Yahya bin Katsir bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Aku makan sebagaimana makannya seorang budak dan aku duduk sebagaimana duduknya seorang budak. Sesungguhnya aku adalah seorang budak.” Sebagaimana terkenal darinya bahwa Nabi Saw. mengucapkan salam kepada anak-anak kecil. Nabi Saw. berbicara dengan seorang lelaki lalu ia tampak gemetar sehingga beliau berkata kepadanya: “Tenanglah, aku bukan seorang malaikat, tapi aku adalah anak seorang wanita yang makan daging bakar.” Diriwayatkan dari Abu Umamah: “Rasulullah Saw. keluar menemui kami dalam keadaan bersandar pada tongkat (memakai tongkat), lalu kami berdiri untuk menyambutnya. Kemudian beliau berkata: “Janganlah kalian berdiri sebagaimana berdirinya kaum Ajam (non-Arab); dimana sebagian mereka mengagungkan sebagian yang lain.” Beliau bersenda gurau dengan para sahabatnya dan tidak mengatakan kecuali kebenaran. Beliau ikut serta bersama sahabat-sahabatnya dalam membangun Masid dan menggali parit. Dan beliau banyak bermusyawarah dengan para sahabatnya, meskipun beliau memiliki akal paling sempurna di antara manusia. Beliau berkata: “Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai orang miskin dan matikanlah aku sebagai orang miskin dan kumpulkanlah aku bersama golongan kaum miskin. Sesungguhnya orang yang paling celaka adalah orang yang memperoleh kefakiran dunia dan azab akhirat.” Demikianlah gambaran singkat tentang sebagian kepribadian Nabi Saw. dan sebagian aspek perilaku individual dan sosialnya. Masih banyak gambaran yang indah dari perilaku dan sejarah beliau, baik yang menyangkut manajemen, politik, militer, ekonomi maupun keluarga yang layak dikaji secara mendalam, agar kita dapat menjadikannya sebagai teladan dan inspirasi. Tentu kami akan membahasnya pada pasal-pasal berikutnya.

Diterjemahkan oleh Muhammad Alcaff dari kitab A`lamul Hidayah al Musthafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: