WAJAH NEGERIKU

Sejak menginjakkan kaki di tanah tercinta Indonesia Raya, ada dua fenomena kontradiktif yang saya saksikan di layar kaca: pertama, keluarga salah satu pengusaha terkenal di Jakarta yang merayakan pesta pernikahan yang menghabiskan milyaran rupiah dan kedua bocah belasan tahun yang beratnya cuma sekitar 6 kilo karena kekurangan gizi.

Di sisi lain, acara hiburan dan gosip kehidupan artis masih mendominasi rating TV di tanah air dan mampu menyedot perhatian pemirsa secara fantastis.

Tentu saja berita kriminal wa bil khusus kasus pembantaian berantai ala Jombang masih ditunggu kelanjutannya oleh banyak pemirsa dan pembaca dan bersaing secara ketat dengan dunia glamor artis. Sementara itu, pilkada dan persiapan pemilu tahun depan juga tak kalah serunya. Masing-masing pihak berlomba-lomba untuk memenangkan jagoannya dengan pelbagai cara.

 

Bahkan salah satu calon pejabat di daerah nekat telanjang bulat karena gagal terpilih. Yang menarik, artis kenamaan pun tak mau ketinggalan untuk mencicipi tumpeng pemilihan pilkada, dan sebagian mereka berhasil menduduki jabatan sebagai wakil kepala daerah.

 

Saya tidak bermaksud menghimpun berita. Dan masih banyak peristiwa di tanah air yang tidak mungkin saya potret satu persatu karena saya bukan wartawan harian dan tidak si sini tempatnya. Saya hanya mencoba berbagi kebingungan dengan Anda. Indonesia yang telah merdeka ke-63 tahun ini sedang menuju kemana? Di mana patriot-patriot bangsa yang merindukan kedamaian, keadilan dan kesejahteraan bagi Indonesia? Bila terjadi pelbagai tindak kriminal di masyarakat, maka dimana para ulama dan kyai? Dimana para penegak hukum? Apakah kita selama ini telah melakukan intropeksi bahwa masing-masing umara dan ulama telah menjalankan fungsi dan tugasnya dengan baik? Mereka yang bersemangat untuk duduk di kursi panas jabatan publik, apalagi punya cita-cita besar menjadi presiden dengan motivasi apa dan niat apa mereka akan memimpin? Apakah dengan semangat basmalah, yakni melayani sesama manusia atau dengan nama tahta dan popularitas?

 

Masyarakat kita sedang sakit dan tidak seharusnya kita menambah beban dan derita mereka. Kerusakan moral yang terjadi di tengah lingkungan kita, utamanya semakin maraknya peredaran narkoba dan para penggunanya menandakan bahwa ada yang salah dalam proses pembinaan masyarakat selama ini. Menurut hemat saya, salah satu kesalahan besar kita selama ini adalah kita tidak menjadikan rumah kita sebagai surga kita. Anak-anak kita gagal meneladani orang tuanya. Rumah tidak menjadi tempat yang nyaman, teduh, asri dan harmonis buat anggota keluarga. Rumah-rumah kita lebih sering diisi dengan nyayian cenggeng dan lagu-lagu murahan serta tontonan yang tidak mendidik daripada lantunan ayat suci al Qur’an. Marilah back to home. Marilah kita jadikan rumah sebagai madrasah bagi anak-anak kita. Ketahuilah bahwa kenakalan anak-anak didahului oleh kenakalan orang tuanya.

 

Para ulama harus menjadi figur panutan umat, khususnya kalangan muda. Para ulama harus mengkontrol acara-acara TV yang tidak mendidik. Daripada melihat berita gosip murahan, mendingan kehidupan para ulama diekspos untuk diteladani oleh generasi muda. Namun pertanyaannya adalah, adakah dan seberapa banyak ulama-ulama kita yang kehidupannya dapat menjadi teladan

 

bagi generasi bangsa ini dan umat Islam.

 

Para pahlawan bangsa memerdekan negeri ini atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dengan harapan bangsa kita menjadi bangsa yang makmur, bermartabat dan berkeadilan. Cita-cita agung para pahlawan tersebut akan sirna dan pupus bila kita tidak mensyukuri nikmatnya kemerdekaan dan berusaha membangun negeri kita secara sungguh-sungguh dan berkesinambungan. Dan para pemimpin bangsa baik umara maupun ulama adalah orang-orang yang paling bertanggung jawab di hadapan Tuhan berkaitan dengn maju-mundurnya Republik Tercinta Indonesia Raya.

Selamat dan Jaya Negeriku!

Merdeka!

 

Muhammad Alcaff

Dikutip dari situs: http://islamalternatif.net

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: