FATIMAH: ANUGERAH SPEKTAKULER ILAHI BAGI NABI SAW

 

( Membedah Tafsir Surah al Kautsar)

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami menganugerahimu al Kautsar. Maka karena itu shalatlah dan angkatlah kedua tanganmu. Sesungguhnya orang yang membencimu dia-lah yang tak berketurunan.” (QS. Al Kautsar: 1-3)

Nabi diberi anugerah yang agung oleh Allah berupa Al-Kautsar dan jiwa beliau menjadi tenteram ketika diberitahu bahwa orang yang mencelanya tidak memiliki keturunan, sebaliknya justru dia sendiri yang “abtar” alias tidak berketurunan. Surat Al-Kautsar termasuk surat yg terpendek dalam Al-Qur`an. Dan berkenaan dengan Makkiyah atau Madaniyah surat ini, masih menjadi polemik karena tidakadanya kesepakatan riwayat (hadis) dalam hal ini. Namun menurut pendapat Allamah Thabathaba’i—sebagaimana yang tertulis dalam al Mizan— surat ini Makkiyah. Dan sebagian mufasir berpendapat bahwa surat ini diturunkan dua kali. Pendapat terakhir ini dikemukakan sebagai usaha untuk menyatukan beberapa riwayat yang bersilang pendapat. Berkaitan dengan tafsir Al-Kautsar, terdapat suatu perbedaan pendapat yg unik. Ada yang berpendapat ia adalah kebaikan yang banyak; sungai di surga; telaga Nabi saw di surga atau di Mahsyar; anak-anaknya; para sahabat dan pengikutnya sampai hari kiamat; para ulama umatnya; Al-Qur’an dengan keutamaan-keutamaannya yang banyak; kenabian; kemudahan Al-Qur’an dan keringanan syariat; Islam; tauhid; ilmu dan hikmah; keutaman-keutamaan Nabi saw; kedudukan yang terpuji (al maqam al mahmud); cahaya hati Nabi, dan seterusnya sampai dua puluh enam pendapat. Menurut Allamah Thabathaba’i, dua pendapat pertama di atas bersandar pada sebagian riwayat, sedangkan pendapat-pendapat yang lain perlu dikoreksi kembali. Alllah SWT berfirman di akhir surat: “Sesungguhnya orang yang membencimu dia-lah yang tak berketurunan.” Yang dimaksud “abtar” ialah orang yang terputus keturunannya, sedangkan yang dimaksud al-Kautsar ialah banyaknya keturunan Nabi saw dimana ini merupakan anugerah bagi beliau. Atau al Kautsar juga berarti kebaikan yang banyak. Dan banyaknya keturunan masuk dalam kategori kebaikan yang banyak. Kalau tidak kita maknai demikian maka firman-Nya, “Sesungguhnya orang yang membencimu dia-lah yang tak berketurunan,” sulit dipahami. Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa surat ini turun kepada seseorang yang mencela Nabi saw dan mengatakan bahwa beliau tidak mempunyai keturunan lagi setelah anaknya Qosim dan Abdullah meninggal dunia. Dengan demikian ini, riwayat tersebut membantah tafsiran yang mengatakan bahwa yang dimaksud “abtar” ialah ejekan seorang musyrik yang mengatakan bahwa Nabi saw terputus dari kaumnya atau terputus dari kebaikan lalu Allah membantahnya dan mengatakan bahwa justru yang mengejek beliau yang terputus dari kebaikan. Ayat tersebut mengindikasikan bahwa anak-anak Fatimah as adalah keturunan Nabi saw. Hal ini dengan sendirinya mengisyaratkan keagungan Al-Qur’an al-Karim dimana Allah SWT memperbanyak keturunan Rasul saw sepeninggal beliau, sehingga tidak ada suatu keturunan pun yang menandingi mereka, meskipun mereka dibunuh dan mengalami penderitaan serta musibah. Firman-Nya:”Maka karena itu shalatlah dan angkatlah kedua tanganmu”.Konteks ayat ini menjelaskan perintah penegakan shalat dan melaksanakan nahr. Alasan di balik penunaian shalat ini tersebut dalam ayat: “Sesungguhnya Kami menganugerahimu al Kautsar.” Ini merupakan wujud syukur atas nikmat. Dan maknanya ialah: ketika Kami telah mengaruniaimu al-Kautsar maka bersyukurlah atas nikmat ini dengan melakukan shalat dan angkatlah kedua tanganmu saat takbir dalam shalat sampai di atas dada. Yang dimaksud “nahr” ialah—sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahli Sunah dan Syi’ah dari Nabi saw dan dari Imam Ali bin Abi Thalib dan Syi’ah meriwayatkannya dari Imam ash Shadiq dan imam-imam yang selainnya—mengangkat kedua tangan sampai di atas dada saat takbir di dalam shalat. Ada juga yang berpendapat bahwa makna ayat yang tersebut: “Tunaikanlah shalat Ied (Hari Raya) untuk Tuhanmu dan potonglah unta. Dan ada yang berpendapat lagi bahwa maknanya: “Shalatlah untuk Tuhanmu dan berdirilah dengan tegak saat mengangkat kepalamu dari rukuk. Firman-Nya: Sesungguhnya orang yang membencimu dia-lah yang tak berketurunan.” Yang dimaksud as syani’ ialah al mubghid (yang membenci) dan al abtar ialah yang tidak memiliki keturunan. Dan orang yang membenci dan mencela Nabi saw adalah Ash bin Wa’il. Fatimah az Zahra begitu berharga di mata ayahnya, Baginda Rasulullah saw. Tanpa Fatimah, Nabi saw tak berketurunan. Tanpa Fatimah, tak ada yang kufu`(sebanding) dengan penjebol benteng Khaibar, Imam Ali bin Abi Thalib bin Abi Thalib. Tanpa Fatimah, tak akan lahir dua pemuda penghulu surga, al Hasan dan al Husin. Tanpa Fatimah, tak akan pernah ada kisah ketegaran dan kesabaran Srikandi Karbala, Zainab al Kubra. Tanpa Fatimah, tak akan tercium aroma kecemburuan yang dihembuskan oleh Aisyah. Betapa Aisyah tidak cemburu karena setiap Nabi saw hendak meninggalkan rumahnya maka rumah terakhir yang dikunjunginya adalah rumah Fatimah. Dan saat pulang dari bepergian maka rumah pertama yang disinggahinya adalah rumah Fatimah. Maka, Fatimah adalah terminal pertama dan terakhir bagi Rasulullah saw. Bahkan tak sungkan-sungkan Nabi saw mencium putri semata wayangnya ini sambil bersabda: Setiap kali aku merindukan aroma surga maka aku mencium putriku Fatimah. Dan cukuplah kebesaran Fatimah az Zahra ketika kran keturunan Nabi saw mengalir cukup deras dari rahim sucinya. Meski para musuh kebenaran mencoba menghabisi keturunan Rasul saw dengan berbagai cara sepanjang sejarah dan tragedi Karbala adalah cara paling biadab yang mereka lakukan namun Allah SWT berkehendak untuk menjaga keturunan suci ini sehingga keturunan dan anak-anak Fatimah tetap ada di berbagai belahan bumi. Dan meski keturunan Rasul saw tidak berasal dari sulbi pria (karena semua anak laki-laki beliau meninggal di waktu kecil) namun beliau tetap berbangga dengan dijadikannya Fatimah sebagai penerus keturunan beliau. Oleh karena itu, beliau memanggil al Hasan dan al Husain dengan sebutan ya waladi (wahai anakku), bukan, ya shibthi (wahai cucuku). Yang demikian itu karena Allah SWT berkehendak untuk menjadikan Fatimah sebagai jembatan kesinambungan keturunan Nabi saw. Jadi, Fatimah bukan hanya sekadar wanita biasa. Beliau—sebagaimana disabdakan oleh Nabi saw—adalah penghulu para wanita semesta alam. Bahkan saking hebatnya putri Khadijah ini, Nabi saw menyatakan dalam hadis yang sahih bahwa ledakan emosi Fatimah adalah ledakan emosi Allah dan restu dan kegembiraan Fatimah adalah restu dan kegembiraan Allah. Akhirnya, Fatimah adalah keajaiban sejarah. Dan Fatimah adalah mukjizat Rasulullah saw yang abadi. Salam kepadamu wahai Fatimah az Zahra di saat engkau dilahirkan… Salam kepadamu wahai ibunda tersayang al Hasan dan al Husin di saat engkau dikebumikan di malam hari secara rahasia oleh suami tercintamu…Dan salam kepadamu wahai belahan hati Nabi saw di saat engkau dibangkitkan kembali di sisi Allah SWT By Abu Rubab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: