Kelahiran dan Pertumbuhan Nabi saw

Seri Sejarah Nabi saw

Pasal Pertama

 

1-Indikasi Tumbangnya Masyarakat Musyrik

Kerusakan dan kezaliman telah mengkristal di tengah-tengah masyarakat Arab di saat sebelum pengutusan Nabi Saw. Tak ada satu pun gerakan massa dan tak ada pula karakter-karakter sosial dan kultural yang diciptakan oleh tabiat kehidupan padang pasir  yang mampu menghentikan keadaan lemah dan lesu (yang menyeret pada kehancuran). Pelbagai indikasinya telah tampak di tengah-tengah semenanjung Arab. Meski muncul pelbagai aliansi yang merupakan fenomena sosial untuk menentang kelemahan itu, namun keragamannya menunjukkan hilangnya kekuatan sentral di masyarakat.

Kita tidak menemukan satu pun gerakan reformasi yang tercatat dalam sejarah yang berusaha bangkit di tengah masyarakat dan mengajak mereka menuju kehidupan ideal selain gerakan sebagian individu. Gerakan individual ini merupakan ekspresi penolakan terhadap kelemahan dan kezaliman sosial tersebut. Hanya saja, gerakan yang dilakukan oleh sebagian kecil anggota masyarakat Arab ini tampak tidak “menggigit” dan tidak termanifestasi ke dataran teoritis atau gerakan reformis yang aktif di masyarakat..[1] Keretakan masyarakat Quraisy pun dapat kita lihat pada perselisihan mereka seputar pembangunan Ka`bah. Padahal saat itu, kaum Quraisy termasuk kabilah Arab yang paling mulia dan paling solid. Dan kita dapat berargumentasi atas keterpurukan masyarakat dalam kerusakan melalui pelbagai peringatan yang berulang kali dari kaum Yahudi yang tinggal di semenanjung Arab dan informasi yang mereka sebar terhadap penduduk Arab tentang kedatangan seorang reformis dan juru selamat manusia yang membawa risalah langit. Kaum Yahudi berkata kepada mereka: “Sungguh akan datang seorang nabi dan dia akan benar-benar menghancurkan berhala-berhala kalian.”[2]

 

2-Keimanan Para Orang Tua Nabi Saw.

 

Nabi Saw. dilahirkan dan tumbuh di tengah-tengah keluarga yang bertauhid, berakhlak mulia serta berkedudukan tinggi. Keimanan Abdul Muthalib, kakeknya, dapat kita lihat pada pembicaraan dan doanya; saat Abrahah, Raja Habsyah mencoba untuk menghancurkan Ka`bah. Saat itu, Abdul Muthalib tidak berlindung kepada berhala, tetapi beliau bertawakal kepada Allah untuk melindungi Ka`bah.[3] Bahkan kita dapat katakan bahwa Abdul Muthalib telah mengetahui ihwal Nabi Saw. dan masa depannya yang berkaitan dengan langit melalui berbagai riwayat yang menegaskan hal itu. Dan perhatiannya tampak kepada Nabi Saw. ketika dia berdoa untuk meminta hujan dengan bertawasul kepada Nabi Saw., padahal saat itu beliau masih menyusu. Yang demikian itu karena Abdul Muthalib mengetahui kedudukan beliau di sisi Allah Yang Memberikan Nikmat dan Yang Menganugerahi Rezeki.[4] Bukti yang lain adalah peringatannya terhadap Ummu Aiman agar ia jangan sampai lalai dari menjaganya saat beliau kecil.

Demikian juga keadaan pamannya Abu Thalib yang selalu menjaga Nabi Saw. dan mendukungnya untuk menyampaikan risalah dan secara terang-terangan mendakwahkannya. Abu Thalib tetap mendukung Rasul Saw. sampai akhir hayatnya yang penuh berkah, meskipun karena itu beliau menanggung pelbagai gangguan dan boikot dari kaum Quraisy serta dikepung di lembah Syi`ib. Kita dapat memahami hal ini dari berbagai riwayat yang dinisbatkan kepada Abu Thalib dalam beberapa sikap yang berhubungan dengan tekad kuatnya untuk menjaga keselamatan hidup Nabi Saw.[5]

Adapun kedua orang tua Nabi Saw., berbagai riwayat menunjukkan bahwa mereka berdua anti terhadap syirik dan berhala. Cukuplah sabda Nabi Saw. berikut ini sebagai dalilnya: “Aku senantiasa berpindah dari sulbi-sulbi pria-pria suci ke rahim wanita-wanita suci.” Sabda beliau tersebut mengisyaratkan kepada kesucian para orang tua dan ibu-ibu beliau dari setiap nista dan syirik.[6]

 

3-Kelahiran Rasul Saw

Agama Nasrani tidak dapat merealisasikan tujuan-tujuannya di tengah masyarakat manusia dan tidak mempunyai suatu langkah efektif untuk menyelesaikan badai kesesatan dan penyimpangan yang melanda dunia. Kala itu, semua manusia berada dalam kesesatan fitnah dan kebingungan, sehingga mereka mudah diperdaya oleh kepandiran orang-orang yang jahil. Dan situasi Romawi tidak kalah buruknya dengan rival mereka di Persia. Bahkan, keadaan semenanjung Arab tidak lebih baik dari keduanya. Alhasil, semua berada dalam tepi jurang api.

Al-Qur’an telah menggambarkan secara memukau tragedi yang dialami manusia saat itu. Demikian juga penghulu Ahlul Bait, Ali bin Abi Thalib—dalam beberapa khotbahnya—melukiskan tragedi yang mengenaskan saat itu dengan suatu lukisan yang terukur, sentimental dan aktual. Di antaranya, penjelasan beliau tentang keadaan masyarakat sebelum diutusanya Nabi Saw.:

“Allah mengutusnya saat terjadinya masa vakum dari para rasul, umat-umat terlelap dalam tidur panjang, dan fitnah semakin berkobar serta tersebarnya berbagai persoalan dan berkecamuknya berbagai peperangan. Dunia kala itu tampak tak bercahaya, kesombongan merajalela, dedaunan mulai layu, buahnya mulai tumbang, dan airnya mulai mengering. Menara-menara petunjuk telah lenyap dan agen-agen kejahatan bermunculan. Mereka bermuka masam di hadapan pendukung dan pencari kebenaran. Mereka mengobarkan fitnah. Makanan mereka bangkai, slogan mereka kecemasan dan selimut mereka adalah pedang.”[7]

Dalam keadaan pelik yang dilalui oleh manusia itu, terbitlah cahaya Ilahi yang menerangi manusia dan negeri, dan mengabarkan berita gembira tentang kehidupan yang mulia dan kebahagiaan yang abadi. Itu terjadi ketika bumi Hijaz diberkati oleh kelahiran seorang Nabi yang mulia, Muhammad bin Abdillah a.s. pada Tahun Gajah (570 M) dan pada bulan Rabi`ul Awwal, sebagaimana disepakati oleh mayoritas ahli hadis dan sejarawan.

Berkenaan dengan hari kelahirannya, Ahlul Bait beliau telah menetapkannya, dan mereka lebih tahu tentang apa yang sesungguhnya terjadi di rumah. Mereka mengatakan: “Beliau dilahirkan pada hari Jum`at, tanggal tujuh belas Rabi`ul Awwal sesudah terbitnya Fajar.” Inilah pendapat yang masyhur di kalangan Imamiyah. Sedangkan selain mereka berpendapat bahwa beliau dilahirkan pada hari Senin, tanggal dua belas Rabi`ul Awwal.”[8]

Sumber-sumber sejarah mencatat beberapa peristiwa yang unik di hari kelahiran beliau. Misalnya, padamnya api kaum Persia, gempa yang dialami manusia hingga hancurnya berbagai gereja dan peribadatan kaum Yahudi, serta robohnya berbagai hal yang disembah selain Allah Azza wa Jalla dari tempatnya, dan tumbangnya berbagai berhala yang diletakkan di Ka`bah. Peristiwa tersebut membuat para tukang sihir dan para dukun terbelalak dan tak berdaya untuk menafsirkannya. Serta terbitlah bintang-bintang yang tak terlihat sebelumnya. Demikianlah Muhammad Saw. lahir dan berkata: “Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah dengan suatu pujian yang banyak dan Maha Suci Allah di waktu pagi dan petang.”[9]

Nabi terkenal memiliki dua nama: “Muhammad” dan “Ahmad”. Al-Qur’an menyebutkan kedua nama tersebut. Para sejarawan meriwayatkan bahwa kakeknya Abdul Muthalib menamakannya “Muhammad”. Dan ketika beliau ditanya tentang sebab penamaan tersebut, beliau menjawab: “Aku ingin ia (Muhammad) dipuji di langit dan di bumi.”[10] Sebagaimana ibunya—sebelum kakeknya—menamakannya “Ahmad”.

Melalui lisan Nabi Isa a.s., Injil pun telah memberitakan kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad Saw. sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Al-Qur’an dan dibenarkan oleh Ahlu Kitab. Dalam hal ini, Allah Swt. berfirman: “Dan memberi kabar gemberi dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad).”[11] Dalam tradisi bangsa Arab dan selainnya, tidak ada masalah bila seseorang memiliki dua nama dan dua julukan.

 

4-Masa Penyusuan Yang Berkah

Muhammad Saw. menjadi pusat perhatian kakeknya Abdul Muthalib yang terlalu cepat kehilangan anak tercintanya, Abdullah. Dari sini, kakeknya menyerahkan urusan penyusuan Muhammad kepada Tsuwaibah, budak Abu Lahab sehingga mereka dapat dengan mudah mengirimnya ke pedusunan Bani Sa`ad. Di sana Muhammad menyusu dan tumbuh di lingkungan yang bersih dan jauh dari wabah yang mengancam anak-anak di Mekkah. Beliau berkembang bersama anak-anak pedusunan sebagaimana kebiasaan kalangan orang-orang terhormat Mekkah yang memberikan anak-anak mereka untuk disusui oleh perempuan-perempuan kabilah Bani Sa`ad yang memang terkenal dalam hal ini. Perempuan-perempuan tersebut tinggal di sekitar Mekkah dan di pinggiran-pinggiran Ka`bah. Biasanya mereka datang ke Mekkah di musim tertentu pada setiap tahun untuk mencari bayi-bayi yang mau disusui, khususnya tahun kelahiran Nabi Saw. Saat itu terkenal sebagai tahun kekeringan dan paceklik. Mereka membutuhkan bantuan orang-orang terhormat Mekkah.

Sebagian sejarawan mengira bahwa tak satu pun dari wanita yang menyusui itu mau mengambil Muhammad karena keyatimannya. Hampir saja kafilah wanita yang menyusui kembali (pulang ke daerah asalnya). Masing-masing mereka membawa bayi yang disusui kecuali Halimah binti Abi Dzu’aib as Sa`diyyah. Mulanya, seperti wanita lainnya ia menolak untuk menyusui Nabi Saw. Namun ketika ia tidak menemukan bayi lain yang menyusu, ia berkata kepada suaminya: “Demi Allah, aku akan pergi ke bayi yatim itu untuk mengambilnya.” Suaminya pun mendukung keputusannya itu, sehingga ia kembali kepada Muhammad dan mengasuhnya. Saat itu, Halimah berharap agar dengan menyusui Muhammad, ia mendapatkan kebaikan dan keberkahan.[12]

Dugaan ini gugur ketika kita melihat kedudukan keluarga Bani Hasyim yang tinggi dan pribadi kekek beliau yang dikenal dengan kedermawanan dan kebaikan kepada kaum papa.

Sebagian sejarawan meriwayatkan bahwa ayah beliau meninggal dunia setelah beberapa bulan beliau lahir.[13] Sebagaimana diriwayatkan juga bahwa Nabi Saw. tidak mau disusui kecuali oleh Halimah.[14]

Halimah berkata: “Aku disambut oleh Abdul Muthalib, lalu dia berkata kepadaku: “Siapa kamu?” Aku menjawab: “Aku seorang perempuan dari Bani Sa`ad.” Abdul Muthalib bertanya: “Siapa namamu?” Aku menjawab: “Halimah.” Kemudian Abdul Muthalib tersenyum sambil berkata: “Selamat-selamat; kebahagiaan dan kelembutan adalah dua sifat yang di dalamnya terdapat kebaikan dan kemuliaan abadi.”[15]

Harapan Halimah terwujud ketika ia mendapatkan keberkahan dan bertambahnya kebaikan saat mengambil anak yatim Abdul Muthalib. Diriwayatkan bahwa air susu Halimah kering, namun ketika menyusui Nabi Saw., air susunya penuh dan mengalir deras.

Halimah berkata: “Ketika mengambil Rasulullah Saw., kami mendapatkan kebaikan dan tambahan (pendapatan) dalam kehidupan kami, dan semakin lengkap peralatan rumah tangga kami, sehingga kami menjadi berkecukupan setelah mengalami masa kekeringan dan kesulitan.”[16]

Kini, anak Abdul Muthalib berada di bawah pengasuhan Halimah dan suaminya di Bani Sa`ad selama sekitar lima tahun. Di masa-masa itu, Halimah—dengan penuh berat hati—mengembalikan Muhammad Saw. kepada keluarganya setelah menyapihnya selama dua tahun penuh. Karena, ia menemukan kebahagiaan dan kebaikan bersamanya. Sebagaimana Aminah menginginkan agar anaknya dijauhkan dari Mekkah karena ia khawatir terserang berbagai penyakit. Kemudian Halimah pun membawa pulang Muhammad Saw. dengan gembira.

Diriwayatkan bahwa Halimah datang dengan membawa Muhammad Saw. dua kali ke Mekkah lalu ia mengkhawatirkannya dari tangan-tangan jahat ketika ia menyaksikan sekelompok kaum Nasrani Habasyah yang datang dari Hijaz dimana mereka bersikeras untuk membawa Muhammad bersama mereka ke Habasyah, karena mereka menemukan tanda-tanda Nabi yang dijanjikan. Sehingga mereka mendapatkan kemuliaan mengasuhnya dan mencapai kejayaan dengan mengikutinya.[17]

 

5-Meminta Hujan Melalui Nabi Saw.

 

Para sejarawan mengisyaratkan peristiwa memohon hujan dengan bertawasul kepada Rasulullah Saw. lebih dari sekali dalam hidupnya; saat beliau masih menyusu dan saat beliau masih kecil dan diasuh oleh kakeknya dan pamannya Abu Thalib. Kali pertama terjadi ketika penduduk Mekkah tertimpa paceklik besar; dimana selama dua tahun hujan tidak turun kepada mereka. Lalu Abdul Muthalib memerintahkan anaknya, Abu Thalib, agar ia menghadirkan cucunya Muhammad Saw. Abu Thalib pun membawanya dimana saat itu beliau masih menyusu dan menggunakan kain pembarut bayi. Kemudian Abdul Muthalib mengendongnya dan menghadap kiblat dan mempersembahkannya  ke langit sambil berkata: “Wahai Tuhanku, demi kedudukan anak ini.” Ia mengulangi perkataannya ini dan berdoa, “Berilah kami selalu hujan yang lebat.” Tidak berlangsung beberapa lama, tiba-tiba gumpalan awan menyelimuti permukaan langit Mekkah, lalu turunlah hujan yang sangat deras. Bahkan, saking kerasnya, mereka takut kalau-kalau hujan itu membuat masjid (tempat ibadah) hancur.[18]

Peristiwa memita hujan melalui beliau ini juga terulang dua kali. Saat itu Nabi Saw. sudah menginjak usia remaja dan keluar bersama Abdul Muthalib ke gunung Abi Qubais. Dan Abu Thalib mengisyaratkan peristiwa ini dalam lantunan bait syair berikut ini:

Ayah kami adalah  penolong manusia

Ketika mereka datang meminta hujan

Dan kita sekarang (saksikan) penolong kita berdoa di Mekkah

Hingga air deras mengalir[19]

Para sejarawan menceritakan bahwa kaum Quraisy meminta Abu Thalib agar ia memintakan hujan untuk mereka. Lalu beliau keluar ke Masjidil Haram dengan menuntun Nabi Saw. Saat itu, beliau masih kecil dan beliau bagai matahari yang menerangi kegelapan yang dengannya awan tersingkap. Lalu beliau berdoa kepada Allah Swt. dengan bertawasul kepada Nabi Saw. Tiba-tiba datanglah awan di langit. Lalu turunlah hujan deras yang mengalir ke sekitar lembah, sehingga gembiralah semua warga. Abu Thalib juga menyebut kemuliaan ini ketika kaum Quraisy terus menerus menyakiti Nabi Saw. dan risalahnya yang penuh berkah. Beliau berkata:

Dan yang putih yang meminta awan agar mengucurkan airnya

Ia penghibur anak-anak yatim dan pelindung para janda

Dan pelbagai bencana Bani Hasyim berlindung padanya

Ia selalu memberi anugerah dan keutamaan bagi mereka[20]

Semua itu menunjukkan kepada kita perihal tauhid yang tulus dari dua pengasuh Rasulullah Saw. dan keimanan keduanya terhadap Allah Swt. Andaikan mereka berdua tidak mempunyai sikap pembelaan dan penghormatan terhadap Nabi Saw. kecuali dua hal tersebut niscaya cukuplah keduanya sebagai kebanggaan dan kemuliaan. Ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. telah tumbuh di suatu rumah yang dipenuhi oleh tauhidullah dan agama yang suci.

 

6-Bersama Aminah, Ibu Tercinta

Nabi Saw. tidak begitu lama mendapatkan curahan perhatian dan asuhan ibu tercintanya yang hidup sepeninggal ayahnya. Semula, Aminah berharap anak yatim Abdullah itu memasuki tahap remaja sehingga ia menjadi hiburan baginya yang dapat melupakannya dari suami tercintanya. Namun, ajal terlalu cepat menjemputnya. Diriwayatkan bahwa Halimah Sa`diyah datang dengan membawa Nabi Saw. kepada keluarganya. Saat itu beliau telah berusia lima tahun. Kemudian Aminah ingin membawanya untuk berziarah ke makam ayahnya yang mulia dan juga mengajaknya silaturahmi ke saudara-saudara (para paman) ibunya dari Bani Najjar di Yastrib. Sehingga melalui perjalanan ini, Muhammad dapat mengenal masing-masing mereka. Namun, perjalanan ini justru membawa kesedihan yang lain bagi Nabi Saw., dimana beliau kehilangan ibunya di jalan sekembalinya dari suatu daerah yang bernama Abwa’, setelah beliau menziarahi tempat yang di situ ayahnya dikebumikan. Seakan-akan rangkaian hujan derita yang mendera Nabi Saw. di masa kecilnya adalah suatu rencana persiapan Ilahi untuk kesempurnaan jiwa beliau yang mulia.

Ummu Aiman menemani Nabi Saw. untuk melanjutkan perjalanannya menuju Mekkah, lalu ia menyerahkannya kepada kakeknya, Abdul Muthalib, yang semakin cinta pada cucunya Muhammad Saw.[21]

 

7-Bersama kakeknya Abdul Muthalib

Muhammad Saw. mampu merebut hati Abdul Muthalib. Bahkan kecintaan Abdul Muthalib padanya tak dapat ditandingi oleh seorangpun dari anak-anak dan cucu-cucunya yang lain. Padahal, mereka adalah pemuka-pemuka tanah Mekkah. Diriwayatkan bahwa suatu saat Abdul Muthalib sedang duduk di halaman Ka`bah di atas suatu permadani yang terhampar untuknya. Dan di sekitarnya tampak para pimpinan kaum Quraisy, pemuka-pemukanya dan anak-anak mereka. Namun, ketika Abdul Muthalib melihat cucunya, Muhammad Saw., ia memerintahkan agar dilapangkan jalan untuknya sehingga Muhammad dengan mudah maju menjumpainya. Kemudian Abdul Muthalib mendudukkannya di sebelahnya di atas permadani yang khusus baginya itu.[22] Perhatian khusus ini dari seorang penghulu kaum Quraisy semakin mengukuhkan keduddukan Muhammad Saw. di jiwa-jiwa kaum Quraisy. Di samping itu, sejak usia dini, Muhammad telah memiliki keagungan akhlak.

Al-Qur’an telah mengisyaratkan masa keyatiman yang dilalui Nabi Saw. Ini. Saat itu beliau berada dalam penjagaan Ilahi, sebagaimana firman-Nya: “Tidakkah Dia mendapatimu sebagai anak yatim lalu Dia melindungi(mu)?.” Biasanya masa keyatiman membentuk kepribadian seseorang dan mempersiapkannya untuk berkembang semakin matang dan membuatnya percaya diri dalam menanggung beban derita dan kesulitan, serta menempanya menjadi tahan banting alias sabar dalam menghadapinya. Demikianlah Allah Swt. telah mempersiapkan nabi-Nya yang terpilih agar beliau mampu memikul tanggung jawab (misi) di masa mendatang, dan dapat membawa risalah yang besar yang menantikan kematangan dan kesempurnaannya. Nabi Saw. telah menunjukkan hakikat ini dalam sabdanya: “Aku telah dididik oleh Tuhanku dengan sebaik-baik pendidikan.”[23]

Belum lagi menginjak usia delapan tahun, Nabi Saw. harus mengalami cobaan ketiga, yaitu ditinggal oleh kakeknya yang mulia, Abdul Muthalib. Muhammad Saw. sangat sedih saat kehilangan sang kakek. Kesedihannya tidak kalah hebat dengan kesedihan saat ia ditinggal oleh ibunya. Sehingga karena itu ia menangis dengan keras saat mengantar jenazah kakeknya ke peristirahatan terakhir. Muhammad tidak pernah bisa melupakannya selama-lamanya. Sebab, Abdul Muthalib telah mengasuhnya secara baik dan ia telah mengetahui perihal kenabiannya. Diriwayatkan bahwa Abdul Muthalib berkata—kepada seseorang yang mencoba membantu Muhammad Saw. saat beliau masih kecil dan merangkak: “Biarkanlah anakku, sesungguhnya malaikat telah mendatanginya.”[24]

 



[1] As-Sirah An-Nabawiyyah: 1/225.

[2] Bihar Al-Anwar: 15/231, As-Sirah An-Nabawiyyah: 1/211, QS. Al Baqarah: 89.

[3] As-Sirah An-Nabawiyyah: 1/43-62,Al-Kamil fi At-Tarikh: 1/260, Bihar Al-Anwar: 5/130.

[4] As-Sirah Al-Halabiyyah: 1/182, Al-Milal wa An-Nihal, karya Syahristani: 2/248.

[5]As-Sirah An-Nabawiyyah: 1/979, Tarikh Ibn Asakir: 1/69, Majma` Al-Bayan: 7/37, Mustadrak Al-Hakim: 2/623, Ath-Thabaqat Al-Kubra: 1/168, As-Sirah Al-Halabiyyah: 1/189, Ushul Al-Kafi: 1/448, Al-Ghadir: 7/345. 

[6] Sirah Zaini Dahlan yang tertulis di pinggiran Sirah Al-Halabiyyah: 1/58, dan silakan merujuk juga Awa’il Al-Maqalat, karya Syaikh al Mufid: 12 dan 13.

[7] Nahjul Balaghah: Khotbah 89.

[8] Silakan Anda merujuk Imta`ul Asma‘: 3 dimana Anda akan temukan pelbagai pendapat seputar hari kelahiran Nabi Saw.

[9] Tarikh Al-Ya`qubi: 2/8, As-Siroh Al-Halabiyyah: 1/92.

[10] As-Siroh Al-Halabiyyah: 1/128.

[11] QS. Ash-Shaff: 6, silakan Anda merujuk As-Siroh Al-Halabiyyah: 1/79.

[12]As-Siroh Al-Halabiyyah: 1/146.

[13] As-Shahih min Siroh An-Naby Al-A`zham: 1/81, As-Siroh Al-Halabiyyah: 1/81.

[14] Bihar Al-Anwar: 15/342.

[15] As-Siroh Al-Halabiyyah: 1/147.

[16]Bihar Al-Anwar: 15/345, Al-Manaqib, karya Ibn Syah Asyub 1/24, As-Siroh Al-Halabiyyah: 1/149.

[17]As-Siroh An-Nabawiyyah: 1/167, Bihar Al-Anwar: 15/401, As-Siroh Al-Halabiyyah: 1/155.

[18] Al-Milal wa An-Nihal: 2/248/ As-Siroh Al-Halabiyyah: 1/182/183.

[19] As-Siroh Al-Halabiyyah: 1/182/331.

[20] As-Siroh Al-Halabiyyah: 1/190, Al-Bidayah wa An-Nihayah: 3/52, Bihar Al-Anwar: 8/2.

[21]As-Siroh Al-Halabiyyah: 1/105.

 

[22]As-Siroh An-Nabawiyyah: 1/168.

[23] Majma` Al-Bayan: 5/333 permulaan tafsir surat Al-Qalam.

[24] Tarikh Al-Ya`qubi: 2/10.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: