ISLAM ANTARA OVERDOSIS DAN PAS DOSIS

Oleh: Mas Alcaff

Tinjauan Gramatikal:

“Overdosis” agama dalam Al Qur’an disebut dengan “al ghulu”. Kata ini berakar dari ghala-yaghlu-ghuluw yang berarti mujawazatu al had (melampaui batas). (Silakan Anda merujuk tafsir Majma` al Bayan, juz 2, hal. 144). Pengarang tafsir al Mizan memaknai al ghulu sebagai bentuk al inhiraf (penyimpangan) dalam keyakinan.

Yang dimaksud penyimpangan di sini oleh Allamah Thaba’thaba’i ialah keyakinan kaum Nasrani terhadap Trinitas. Suatu keyakinan yang memporakporandakan “tembok tauhid” yang dibangun dengan susah payah oleh Bapak Tauhid, Ibrahim as. Sedangkan ghala-yaghli-ghilyan mempunyai arti yang lain atau tersendiri yaitu mendidih. Kata ini digunakan dalam surah ad Dukhan ayat 45-46 dalam bentuk fi`il mudhari` (kata kerja yang menunjukkan zaman yang akan datang) dan masdhar (kata dasar). Surat ini bercerita tentang makanan Zaqum yang bakal menjadi “hidangan wajib” para penghuni Jahanam dimana ketika makanan yang mengerikan ini singgah di rumah yang bernama perut para pendosa kelas kakap maka ia akan mendidih di dalamnya. Ringkasnya kata “al ghulu” yang berarti overdosis atau penyimpangan dalam agama hanya digunakan dalam dua ayat Al Qur’an dan dalam dua surat yang berbeda, yaitu: surah an Nisa’, ayat-171 dan surah al Maidah, ayat-77. Sedangkan makna lain dari ghala ialah mendidih dan kata ini meski fi`il madhi-nya (kata kerja bentuk lampau) sama dengan ghala yang berarti melampaui batas namun mashdar-nya berbeda: yang satu kata mashdar-nya ghuluw dan yang lain mashdar-nya ghilyan. Makna yang terakhir ini terdapat dalam dua ayat Al Qur’an dan uniknya dalam surah yang sama—sebagaimana telah kami sebutkan di atas.

Siapakah Kaum yang Melampaui Batas dalam Agama itu?

Al Qur’an al Karim—sebagaimana yang tercantum dalam surah an Nisa’, ayat-171 dan al Maidah, ayat-77—menyebut kamu Nasrani sebagai kaum ghulat (kaum yang melampaui batas alias overdosis dalam agama). Yang demikian itu karena mereka menganggap Tuhan itu bersekutu atau berkeluarga. Jelasnya, mereka meyakini al Masih sebagai “anak Tuhan”. Sebutan kaum ghulat dalam Al Qur’an tidak hanya melekat pada kaum Nashrani, namun juga diatributkan pada kaum Yahudi. Sebab, masing-masing mereka disebut ahlul kitab dimana ayat tersebut mukhotob-nya (yang diajak dialog) adalah kaum ahlul kitab. Dan yang dimaksud ahlul kitab ialah kaum Nashrani dan kaum Yahudi yang masing-masing mereka pernah mendapatkan kiriman Kitab Samawi. Dan ironisnya, masing-masing mereka pun melakukan penyimpangan (baca: overdosis) yang sama dalam agama. Penyimpangan yang sama ialah: Keyakinan kaum Nashrani yang menyatakan bahwa al Masih anak Allah dan keyakinan kaum Yahudi yang menyatakan bahwa Uzair pun anak Allah.

Meluasnya Makna Overdosis Agama

Sebagaimana saya jelaskan bahwa overdosis agama itu secara khusus digunakan Al Qur’an utk kaum Nashrani dan Yahudi yang menyimpang dari agama. Namun dalam perjalanannya kemudian, kata ini (ghulat=kaum yang melampaui batas dalam agama) digunakan utk kelompok atau pribadi-pribadi yang dianggap salah atau terlalu ekstrem dalam menjalankan praktek keagamaannya. Misalnya, kaum Syi`ah yang mengkultuskan Sayidina Ali atau bahkan “menuhankan”-nya disebut dengan kaum ghulat. Dan terakhir—sebagaimana dikupas dalam diskusi ulang tahun Jaringan Islam Liberal yang ke-4—ayat “la taghlu fi fidinikum” mereka artikan sebagai peringatan untuk tidak keterlaluan dalam beragama. Jadi, sikap keterlaluan dalam agama bisa saja terjadi dalam setiap aliran atau mazhab tanpa terkecuali, bila kita memakai acuan ifrath dan tafrith dalam beragama sebagai tolok ukurnya. Hanya saja, ada sebagian mazhab yang memang “melestarikan” sikap overdosis ini dan ada juga yang memberantas dan memeranginya sehingga kebenaran yang asli tidak terkaburkan.

Overdosis Agama atau Pengikut Agama?

Bila Anda berobat ke dokter dan Anda diberi resep atau obat berikut ketentuan meminumnya, lalu Anda karena sembrono atau sengaja tak mengindahkan anjuran dokter tersebut hingga Anda meminum obat tersebut di atas ambang kewajaran alis overdosis maka pertanyaannya adalah: siapakah yang overdosis dokter atau Anda? Jelas sekali bahwa dokter tidak pernah overdosis karena obat itu barasal darinya dan dia tahu persis manfaat, batasan dan cara penggunaan obat tersebut, sedangkan yang bisa mengalami overdosis itu pasiennya akibat salah menerjemahkan pesan dan anjurannya. Hal yang demikian juga terjadi dalam agama. Rasulullah saw dan Al Qur’an adalah dokter yang mendatangkan syifa’ (obat) namun pada saat yang sama obat ini dapat menjadi racun bila salahdipahami atau disalahtafsirkan. Jika pesan dan resep Rasul saw dan Al Quran salah diterjemahkan maka yang bersangkutan akan mengalami “keracunan pemikiran” yang lebih membahayakan dan mematikan daripada keracunan makanan. Sebab, keracunan makanan bagaimanapun sulitnya masih dapat dan mudah dideteksi dan yang bersangkutan akan merasakan akibatnya, baik cepat maupun lambat dan tidak memakan banyak korban, sedangkan keracunan pemikiran, yang bersangkutan justru merasa sehat atau bahkan paling sehat dan dapat membunuh puluhan atau ratusan generasi. Bukankah ada kebohongan besar yang dibuat pasca Nabi saw sampai hari ini pun masih hinggap dan bahkan menetas di jendela otak kita???

Jadi, agama tidak pernah overdosis, yang overdosis itu adalah pengikut agama. Hal ini diakibatkan karena ia berkonsoltasi dengan “dokter-dokter gadungan” yang tidak mendapatkan sertifikal jaminan halal dari “Pencipta agama” (Allah SWT).

Sebab-Musabab Timbulnya Overdosis Agama

Ada beberapa sebab yang melatarbelakangi munculnya sikap ghulat dalam agama, di antaranya:

1-Minimnya pengetahuan terhadap agama.

2-Konsoltasi agama dengan “dokter-dokter gadungan” (alias ulama-ulama su’) yang bodoh, yang mengikuti hawa nafsu dan tidak berhak berbicara atas nama agama.

3-Menolak pendapat lain sebelum menguji kebenaran atau ketidakbenarannya. Dan ini bertentangan dengan pesan Al Qur’an seperti yang termaktub dalam surah az Zumar, ayat 18.

4-Campur tangan pihak luar Islam (seperti Yahudi dan Amerika) dalam memunculkan “Islam yang overdosis” seperti kasus Taliban yang jelas-jelas Islam boneka Amerika.

5-Sikap tidak puas dengan Islam yang berkembang sekarang. Dan sebagai alternatif, muncullah Islam baru yang overdosis itu.

6-Akibat penolakan secara sempurna atau tidak terhadap Islam yang orisinil yang dibawa oleh Nabi saw dan dilanjutkan oleh 12 Imam ahlul bait.

Mencari Islam yang Pas Dosis

Islam yang tidak overdosis adalah Islam yang bersumber dari mata air nubuwwah dan imamah. Islam yang tetesan hikmahnya mengalir dari rumah suci Nabi Muhammad saw dan mutiara-mutiaranya tersimpan dalam lisan fasih putra asuhan baitullah (Ali bin Abi Thalib, singa Allah). Inilah Islam yang dokter-dokternya tidak pernah “memeras” dan “memerah” para pasiennya. Inilah Islam yang para dokternya bekerja bukan untuk mengabdi kepada uang tapi untuk menggapai ridha Allah SWT, “Kami bersedekah kepada kalian bukan untuk mengharapkan upah namun untuk mendambakan ridha Allah.” (QS. Al Insan: 9) Inilah Islam yang diasuh oleh dokter spesialis lagi berpengalaman, yang menantang para pasiennya sepanjang zaman bahwa semua penyakit dan problema keagamaan kalian sudah aku temukan obatnya yang “cos pleng”: “Tanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku. Aku mengetahui rahasia langit dan bumi. Aku mengetahui ayat yang turun di waktu malam atau siang, di daratan atau di lautan.” Inilah Islam yang bukan hanya “menyapa” akal dengan begitu mesra dan lembut namun menempatkannya sebagai mitra abadi dalam mempertahankan argumen-argumennya, sehingga lebih tahan banting dan tidak ada ruang untuk menolaknya: “Apakah mereka meragukan keberadaan Tuhan?”, “Tidakkah mereka berpikir?” “Tidakkah mereka berakal”, “Datangkanlah bukti kalian, bila kalian merasa benar.” Inilah Islam yang para dokternya berjumlah 12 dari Ali sampai al Mahdi. Dan mereka semua berguru secara langsung atau tidak kepada pendiri universitas Islam, Nabi saw. Kalau tidak belajar secara langsung kepada Rasul saw maka mereka hanya belajar kepada ayahnya dan tidak pernah belajar sekiditpun kepada orang lain, karena yang demikian itu diharamkan bagi mereka. Sebab, mereka adalah penerjemah wahyu, tambang ilmu, tempat turunnya malaikat: “Kami ahlul bait tidak dapat ditandingi oleh siapapun (dalam hal ilmu dan ketakwaan).” Inilah Islam yang Abu Hanifah dan Imam Malik bin Anas merasakan betapa nikmatnya dan indahnya berguru kepada Abu Ja`far, Imam as Shadiq as. Bahkan Abu Hanifah dengan tanpa sungkan-sungkan berkata: “Kalau tidak ada dua tahun (waktu berguru kepada Imam Shadiq) maka Nu`man akan binasa.” Inilah Islam yang Imam Syafi`i berfatwa bahwa bila dalam tasyahud shalat tidak menyebut mereka (ahlul bait) dalam shalawat maka shalatnya tidak sah. Inilah Islam yang bunganya mekar dan semerbak karena syahadah agung Imam Husein di tanah tandus Karbala. Inilah Islam yang tidak pernah berkompromi dan berkolusi dengan pabrik-pabrik kebatilan, namun pelajaran Asyuranya menyatakan bahwa kematian dalam kemuliaan lebih baik daripada kehidupan dalam kehinaan. Inilah Islam yang ajarannya tidak mengenal ifrath (tidak mencapai batas yang diinginkan) dan tafrith (melampaui batas yang dikehendaki) tetapi al amru bainal amrain (mengambil jalan tengah yang proporsional: la jabar wala tafwidh. Inilah Islam yang tidak hanya membuat orang baik secara individual namun pun saleh secara sosial, bukan orang yang ahli ibadah namun ringan tangan kepada istrinya.

Inilah Islam yang ajarannya tidak pernah menganggap Tuhan agak bodoh dan kontradiksi karena di satu sisi Ia memerintahkan orang berbuat baik namun di sisi lain bisa saja orang baik itu dimasukkan dalam neraka-Nya. Inilah Islam yang bukan hanya membuat hati teduh namun juga membuat akal cerah. Inilah Islam yang orisinil yang dibawa oleh Nabi saw dan dijaga oleh Ali. Sekali lagi inilah Islam yang mencerahkan dan bukan mengerahkan (baca: mengesalkan). DAN AKHIRNYA, INILAH ISLAM YANG TIDAK PERNAH OVERDOSIS TAPI PAS DOSIS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: