Pak, Supir dimana Pengadilan, Aku akan Ceraikan Suamiku!

Orang mungkin bisa tertidur pulas saat tetangganya membunyikan musik keras atau tukang bangunan tertidur enak saat mendengar mesin molen bersuara risih di sebelahnya namun seorang istri justru tdk dapat tidur dan merasa terganggu dan tegang serta tidak nyaman justru di saat kedatangan dan kehadiran suami yang tidak tahu diri, tidak sayang padanya dan berperilaku buruk serta gampang mencaci dan memaki…

Muhammad Alcaff

Hari ini saya berangkat tergesa-gesa ke tempat kuliah. Karena saya agak terlambat. Jam udah menunjukkan pukul 10 pagi. Sementara saya masih gentayangan di jalan. Padahal kelas dimulai jam 10. 05. Tapi saya udah biasa terlambat kok. Maklum hampir tiap hari kelas saya dimulai jam 10 pagi. Jadi saya tidak ikut bus servis sekolah. Saya berangkat via kendaraan umum.

Ada kejadian langkah dan cukup mengagetkan saya hari itu. Seorang wanita muda yang duduk di belakang saya, tiba-tiba berkata kepada sopir: Pak supir dimana pengadilan, aku akan ceraikan suamiku! Saya terperancat mendengar omongan wanita tersebut. Betapa ia mengutarakannya dengan cukup enteng dan dengan suara yang keras, tanpa beban. Barangkali dengan suara lantangnya itu beban pikiran dan emosinya sedikit tertumpahkan.

Ya, kadang-kadang wanita yang terkenal pemalu dan tidak gampang membagi masalahnya dengan orang begitu mudah “membeberkan” masalahnya sendiri ketika memang ia terjepit. Hak cerai yang notebene di tangan kaum pria kadang-kadang justru dimanfaatkan dimulai oleh kaum hawa. Yang demikian ini mungkin karena seorang istri sudah tidak tahan lagi melihat perilaku suaminya. Memandang wajah suami begitu memuakkan baginya. Melihat tingkah laku suami begitu menjengkelkannya.

Tentu saya tidak setuju dengan cerai yang “gampangan” dan “asal-asalan”. Bagimanapun dampak individual dan sosial suatu perceraian begitu berat. Tetapi saya hanya ingin menyoroti satu hal di sini, karena dalam tulisan sebelumnya saya udah berbagi resep tentang mengapa timbul perceraian dan apa yang harus dilakukan wanita yang tercerai secara tdk adil. Satu hal yang saya maksud adalah suatu perkataan hikmah yang berbunyi: Barangsiapa yang perilakunya buruk maka ia telah menyiksa dirinya sendiri.

Perilaku buruk yang dilakukan salah satu anggota keluarga, suami misalnya, maka itu akan membuat anggota keluarga yang lain tersiksa. Tentu yang pertama kali tersiksa adalah yang bersangkutan. Orang yang tdk jujur misalnya dia pertama kali membohongi dirinya sendiri sebelum menipu org lain. Orang yag kikir misalnya menyengsarakan dirinya sendiri sblm orang lain. Orang yang menyakiti orang lain dengan kata-kata pedasnya sebenarnya dia sedang menyakiti dirinya sendiri.

Manusia hidup dengan fitrah yang sehat. Sementara perilaku yang kejam dan buas tdk sesuai dengan fitrah manusia. Orang mungkin bisa tertidur pulas saat tetangganya membunyikan musik keras atau tukang bangunan tertidur enak saat mendengar mesin molen bersuara risih namun seorang istri justru tdk dapat tidur dan merasa terganggu dan tegang serta tidak nyaman justru di saat kedatangan dan kehadiran suami yang tidak tahu diri dan tidak sayang padanya serta tdk berperilaku baik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: