Para Nabi Kok Bedosa, Ngak Mungkin La Yah!!

MEMBEDAH KEMAKSUMAN PARA NABI

Kata `ismah secara harfiah berarti perlindungan. Dalam terminologi Islam, ia berarti pengampunan spiritual (lutf) oleh Allah kepada orang yang mampu menjaga dirinya untuk bebas dari dosa dengan kehendak bebasnya. Orang yang diberikan pengampunan ini oleh Tuhan dinamakan ma’shum (orang yang terjaga dari dosa). Walaupun begitu, anugerah `ismah ini tidak lantas membuat seorang ma`shum tidak mampu melakukan dosa-dosa.

Seorang ma’shum tidak melakukan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan karena kekuatan dan kemauannya sendiri. Jika tidak begitu, maka tidak ada nilai dalam menjadi ma’shum. Sebagai contoh seperti kehendak seseorang untuk telanjang sepanjang jalan. Tetapi apakah Anda, sebagai seorang Muslim yang baik, pernah berfikir melakukan hal yang demikian? Tidak! Mengapa? Karena hal itu jauh dari kemuliaan di bawah Anda untuk berbuat seperti itu. Ingatlah bahwa tindakan itu tidak mustahil Anda lakukan, tetapi Anda tidak akan pernah membayangkan melakukannya. Mengapa? Karena Anda telah diajarkan dan dibimbing oleh fikiran bahwa tindakan seperti itu akan menodai kehormatan Anda dan itu adalah tindakan tercela dalam masyarakat sipil. Serupa dengan itu, seorang ma`shum memiliki kemampuan untuk menjalankan dosa, tetapi tidak pernah membayangkan menjalankan dosa karena jauh di bawah kemuliaannya untuk melakukan hal seperti itu. Sekarang, walaupun mayoritas Muslim percaya akan `ismah para nabi, terdapat perbedaan yang besar mengenai tingkat `ismah. Terdapat perbedaan besar dalam opini mereka. Pandangannya seperti berikut ini: (a) Semua Muslim percaya bahwa para nabi tidak pernah mengatakan kebohongan, baik secara disengaja maupun tidak, atau mereka dapat menjadi kafir sebelum pengesahan kenabian. (b) Semua Muslim percaya bahwa para nabi tidak dapat menjalankan segala macam dosa dengan secara sengaja. (c) Sebagian mereka percaya bahwa para nabi dapat menjalankan sebagian besar dosa secara tidak disengaja, walaupun sebagian mereka yang lain percaya hal itu tidak mungkin. (d) Sebagian mereka percaya bahwa para nabi dapat menjalankan sebagian kecil dosa, walaupun bukan dosa kecil yang akan merendahkan martabat mereka di mata umum.1 Beberapa intelektual muda yang di pengaruhi ide-ide humanisme, relativisme dan pluralisme ingin menghadirkan ketidakmaksuman para nabi dan untuk Allah untuk membenarkan kelemahan moral yang ditemukan pada orang biasa. Motif ini dapat dilihat pada awal sejarah Islam ketika para intelektual terlibat dalam usaha mendukung status quo yang mencoba melemahkan kesempurnaan Nabi Islam saw untuk membenarkan kelemahan moral dan kesalahan etik dari para penguasa pada masa mereka. Kami percaya bahwa semua nabi adalah ma`shum, tidak berdosa dan sempurna; mereka tidak dapat mempunyai dosa, baik dosa besar atau kecil; baik disengaja atau tidak disengaja; dan ini berlaku bagi mereka dari awal sampai akhir hidup mereka. Syaikh Abu Ja`far as-Shadiq (meninggal pada tahun 381 H) mengatakan: “Kepercayaan kami berkenaan dengan para nabi, rasul, imam dan malaikat adalah bahwa mereka semua sempurna, bersih dari kesalahan, dan tidak melakukan dosa, baik itu kecil maupun besar. Siapa yang menyangkal kesempurnaan (`ismah) mereka dalam berbagai hal yang berkaitan dengan status mereka adalah orang yang bodoh akan mereka. Kepercayaan kami meyakini bahwa mereka sempurna dan memiliki sifat-sifat kesempurnaan, kelengkapan dan pengetahuan, dari awal hingga akhir hidupnya.”2 Kenapa Ismah? Beberapa orang akan bertanya, “Mengapa menjadi penting bagi para nabi untuk menjadi ma`shum”. Jawabannya tentu sangat logis. Para nabi harus sempurna (terjaga dari dosa) karena alasan yang sama ketika mereka diutus: untuk menuntun dan memimpin manusia kepada Tuhan. Allah SWT yang memutuskan untuk membimbing umat manusia, juga bermaksud mengutus manusia-manusia yang bersih dan sempurna sebagai model-model dan contoh-contoh. Jika mereka tidak sempurna, maka akan menjadi sangat sulit untuk mempercayai pesan-Nya tanpa contoh yang datang kepada kita. Tidak akan ada kepercayaan terhadap apa yang mereka katakan; dapat saja benar; dapat pula salah. Mengirim nabi-nabi yang tidak terjaga dari dosa akan mematahkan tujuan pengutusan mereka, yakni para nabi membimbing dan manusia mengikuti dan mematuhinya. Alasan ini juga didukung oleh Alqur’an, “Dan kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah…” (QS. 4: 64) Ayat ini secara jelas menampilkan tata sosial Ilahiah: tujuan utama para nabi di bumi adalah untuk dipatuhi para pengikutnya, bukan justru para pengikut meneliti setiap tindakan dan pernyataan nabi kemudian memutuskan apakah akan mengikutinya atau tidak. Kepatuhan yang absolut tidak akan terjadi, kecuali para nabi adalah ma`shum, bebas dari dosa dan kesalahan. Ayat yang mendukung konsep ini adalah, “Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Tuhan, dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kalian …” (QS. 4: 59) Pada ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk mematuhi-Nya dan utusan-Nya. Setidaknya ada sepuluh ayat lain yang di dalamnya, Allah telah menggunakan kalimat perintah agar kaum beriman mematuhi para nabi dan utusan-Nya. Selain ayat-ayat tersebut, juga terdapat banyak ayat yang di dalamnya Allah menjelaskan kebaikan dari mematuhi nabi dan konsekuansi buruk dari tidak mematuhi mereka. Juga, dalam ayat-ayat serupa lainnya, Allah menyebutkan kepatuhan kepada diri-Nya adalah bersama dengan kepatuhan terhadap utusan-Nya. Sebenarnya, dalam salah satu ayat, kepatuhan kepada utusan-Nya disamakan dengan kepatuhan kepada Allah: “Barangsiapa yang menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. 4: 80) Kewajiban Allah tersebut tidak akan mungkin dijalankan jika para nabi dan utusan-Nya bukan ma`shum dan tidak sempurna. Jika demikian, kita akan mendapati diri kita dalam situasi yang tidak mungkin: Nabi atau Rasul yang tidak ma`shum akan memaksa kita untuk berbuat yang salah akankah kita ikut atau tidak. Dalam kedua kasus itu, kita akan mendapat malapetaka. Jika mematuhi nabi dan berbuat dosa, maka kita akan bersalah karena melalaikan perintah Allah untuk tidak berbuat dosa. Jika tidak mematuhi nabi dan menolak melakukan dosa, maka kita akan bersalah karena melalaikan perintah Allah untuk mematuhi nabi dan utusan-Nya secara mutlak. Allah tidak menerima dosa atau perbuatan jahat, dan ini menjadi fondasi dari pesan yang Dia kirim kepada umat manusia. Apakah logis jika Tuhan mengutus orang-orang berdosa dengan sebuah pesan bahwa manusia harus tidak melakukan dosa? Jenis logika aneh macam apakah ini? Kepada ayat di atas, Allah menambahkan ayat-ayat lain yang melarang kita untuk mematuhi jenis orang tertentu yang menjalankan dosa: “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitah. Yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi berdosa.” (QS. 68: 10-12) ”Maka sabarlah engkau atas ketentuan Tuhan engkau dan janganlah engkau ikuti orang-orang yang berdosa atau kafir di kalangan mereka.” (QS. 76: 24) “Dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. 26:151) “…Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku …” (QS. 12: 53) Ayat di atas dikutip dari Nabi Yusuf as. Dan jelas menunjukkan bahwa beberapa kelompok orang tertentu dibebaskan dari dorongan nafsu, nafsu yang mendorong kepada kejahatan, dengan restu Allah. Lihat juga ayat berikut yang Allah sendiri memastikan bahwa ada sekelompok orang tertentu yang mengatasi kekuatan iblis, “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. 15: 42) Ketika meletakkan ayat-ayat ini bersama dengan ayat-ayat terdahulu, Anda akan mendapatkan gambaran lengkap: para nabi harus ditaati tanpa syarat, pelaku kesalahan dan dosa wajib tidak dipatuhi.. Sebelum memasuki hal lain pada topik ini, akan berguna dan dibutuhkan untuk menjelaskan ayat-ayat yang tampak bertentangan pada Alqur’an dengan persoalan “`ismah”. Setelah menjelaskan arti dan pentingnya `ismah para nabi dan utusan-Nya, yang didukung ayat-ayat Alqur’an yang telah disebutkan sebelumnya, beberapa orang menjadi bingung ketika mereka menemukan ayat-ayat yang memperlihatkan bahwa Adam dan nabi-nabi lainnya (seperti Daud as. Dan Yunus as.) melakukan perbuatan dosa. Kebingungan ini akan menjadi jelas jika kita menyadari bahwa ayat-ayat Alqur’an, menurut Alqur’an itu sendiri, ada dua jenis: “Dialah yang menurunkan al kitab (Alqur’an) kepada kamu. Di antara isinya ada ayat-ayat muhkamat, itulah pokok-pokok isi Alqur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah …” (QS. 3: 7) Mereka yang tidak membedakan di antara ayat-ayat mukhamat dan mutasyabihat dipastikan akan bingung ketika mereka seperti menemukan dua pesan dari ayat Alqur’an yang bertentangan, persoalan `ismah adalah salah satu dari banyak isu ketika manusia menjadi korban dari kebingungan. (Isu lainnya adalah Qadha dan Qadr, apakah Tuhan memiliki tubuh fisik dll). Situasi, pada tahap dari diskusi ini, adalah seperti berikut: (1) Akal dan fikiran kita memberitahu bahwa petunjuk Tuhan haruslah bersih dan tidak tercela. (2) Banyak ayat dari Alqur’an mendukung pandangan ini, seperti telah disebutkan. (3) Tetapi ada juga beberapa ayat, yang terlihat menisbatkan kesalahan dan dosa kepada beberapa nabi. Apa yang harus dilakukan pada ayat ini? Kita harus menerima ayat-ayat tersebut, yang didukung oleh akal kita, sebagai ayat-ayat yang jelas (muhkamat). Dan ayat-ayat lainnya yang bersifat kiasan (mutasabihat) dan maknanya yang benar harus dilihat dalam bimbingan muhkamat, ajaran para nabi dan ahlul bait yang mempunyai kedudukan yang sama dengan Alqur’an karena petunjuk hadis terkenal, “Aku meninggalkan dua hal kepada kalian (sebagai petunjuk): Kitab Allah dan ahlul baitku.” (Shahih Muslim). Sekarang, mari kita pelajari ayat-ayat ini dan melihat bagaimana kita dapat menginpretasikannya dan pada saat yang sama, berpegangan teguh kepada keyakinan kita mengenai kesempurnaan para nabi. Kasus Nabi Adam as Akan sangat membantu jika kita, pada awalnya mempelajari ayat-ayat Alqur’an tentang penciptaan Nabi Adam as, keberadaannya di surga, dan kedatangannya ke bumi. Kisah Nabi Adam dijelaskan dalam tiga bagian dalam Alqur’an. Bagian pertama dalam surat Al-Baqarah ayat 30-35; kedua dalam surah tujuh (Al-A’raf) ayat 19-25; ketiga dalam surat 20 (Thaha) ayat 116-124. Ada beberapa hal yang dapat dijelaskan untuk menciptakan keselarasan antara ayat-ayat Alqur’an ini dan pada saat yang sama memperdalam keyakinan kita tentang ke-ma`shum-an para nabi kita. Kami akan menjelaskan lima hal dan meninjau satu-persatu secara ringkas. Hal pertama Tidak semua perintah-perintah dalam Alqur’an memiliki hukum yang sama: Ada hukum-hukum wajib: hukum-hukum yang melarang (haram): hukum-hukum yang bersifat anjuran (mustahab): hukum-hukum tentang hal-hal yang makruh: dan terakhir hukum-hukum yang mengijinkan (jaiz atau mubah). Semua Muslim sependapat bahwa meskipun Allah menggunakan bentuk perintah untuk suatu perbuatan, hal ini tidak selalu berarti hal yang wajib, tidak juga hal yang haram. Perintah tersebut dapat berarti juga hal-hal yang diperbolehkan, atau jika dalam hal-hal yang memiliki pandangan dari perintah, ia dapat berarti sesuatu yang tidak disukai. Tidaklah harus terpaku dalam kategori wajib dan haram. Sebagai contoh, “Nikahilah seseorang yang masih sendiri di antaramu, atau seseorang di antara hambamu yang saleh, laki-laki atau perempuan.” (QS. 24: 32). Ayat ini juga satu anjuran dalam bentuk perintah. Tidak ada yang mengindikasikan dalam ayat ini bahwa Allah menasehati kita untuk menikah, ia tampak menunjukkan bahwa kita harus menikah. Sampai sekarang, banyak ulama yang mengetahui bahwa hal ini bukanlah yang dimaksudkan, dan tidak seorang pun dari mereka yang menempatkan pernikahan dalam kategori kewajiban. Ada beberapa ayat lain dengan jenis yang sama, ketika suatu perintah terlihat wajib, tapi sebenarnya ia hanya menyampaikan sesuatu yang diperbolehkan. Kesimpulannya, tidak semua perintah-perintah Allah bersifat wajib atau larangan. Perintah yang diberikan kepada Adam dan Hawa tidak bersifat larangan (haram). Ia hanya bersifat makruh. Dan tindakan menentang pada perintah seperti tersebut tidaklah merupakan sebuah dosa. Hal Kedua Surga bukanlah suatu tempat percobaan atau pengujian. Di bumilah, manusia ditakdirkan untuk menghadapi ujian dan cobaan dengan mengikuti perintah-perintah Allah. Konsep tentang dosa dalam kehidupan manusia terjadi dalam kehidupan dunia ini. Dalam kisah Nabi Adam sendiri, Allah membuat jelas persoalan ini ketika ia memerintahkan Adam dan Hawa untuk turun ke bumi berkata, “Turunlah kamu sekalian bersama-sama dari surga, dengan sebagian dari kamu akan bermusuh-musuhan, tapi manakala datang petunju-Ku, barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku tidak akan pernah ia tersesat, tidak juga sengsara. Tapi barangsiapa yang berpaling dari perintah-Ku, sesungguhnya untuknya kehidupan yang sempit, dan Kami akan bangkitkan mereka di akhirat dalam keadaan buta.” (QS. 20:123-124) Perintah yang diberikan kepada Adam di surga tidak sama dengan perintah yang diberikan kepada manusia di dunia penyebab timbulnya dosa di bumi adalah ketidakpatuhan terhadap perintah-perintah yang diberikan. Hal Ketiga Mereka yang percaya bahwa Adam berbuat suatu dosa menggambarkan tindakan memakan buah terlarang sebagai “dosa” dan pengusiran Adam dari surga sebagai “hukuman” namun, hubungan antara dosa dan hukumannya tidaklah valid dikarenakan sedikitnya dua alasan: Pertama, Adam telah ditakdirkan dari awal, untuk datang ke bumi. Allah telah mengatakan sebelum penciptaan Adam, “Sesungguhnya Aku akan menempatkan seorang khalifah di bumi.” Jadi, kedatangan Adam ke bumi bukanlah sebuah hukuman; apakah memakan atau tidak buah dari pohon kayu yang terlarang, Adam tetap turun ke bumi. Jadi jenis hukuman apakah hal tersebut? Kedua, jika turunnya Adam ke bumi adalah sebuah “hukuman” atas tindakan memakan buah terlarang maka seharusnya ia kembali ke surga sesudah Allah mengampuninya. Pengampunan berarti “penghapusan hukuman” Adam seharusnya dibawa kembali ke surga. Hal ini tidak terjadi, sehingga membuktikan bahwa turunnya Adam ke bumi bukan suatu “hukuman”, dan tindakan memakan buah itu bukan merupakan suatu “dosa”. Hal Keempat Kita sekarang akan membahas secara ringkas kata-kata dalam kisah Adam as, yang menyimpukan bahwa ia telah melakukan suatu dosa. Sesudah mempelajari persoalan `ismah dari segi pandang Alqur’an maka kita harus menafsirkan ayat-ayat yang sepertinya menyimpulkan dosa dalam suatu cara yang selaras dengan ayat-ayat Alqur’an yang lain. Mari kita lihat beberapa contoh berikut: Kata pertama yang berati dosa berarti “dzalimin” (orang-orang zalim). Kata ini diambil dari kata ‘dzulm’ yang berarti salah. Dalam bahasa Arab, kata ini memilki empat arti: (1) Menindas dan salah; (2) Menempatkan sesuatu di tempat yang salah; (3) tergesa-gesa; (4) Membahayakan; atau “ … sebaliknya Anda menjadi salah seorang dari mereka yang tergesa-gesa”. Di sini, “tergesa-gesa” dapat berarti mereka, pada akhirnya, turun ke bumi tetapi dengan memakan dari pohon terlarang, mereka membuat kedatangan mereka ke suatu tempat yang mereka akan kehilangan kesenangan di surga secara tergesa-gesa. Pengertian kata dzalimin didukung oleh ayat selanjutnya yang mengatakan bahwa setan “Mengeluarkan mereka dari kesenangan yang telah mereka peroleh.” (QS. 20:117) Juga mendukung perkiraan ini, ayat: “Maka Kami berkata: “Hai Adam! Sesungguhnya ia merupakan musuh engkau dan istri engkau: maka jangan biarkan mereka memperdayai sehingga keluar dari surga, nanti engkau celaka. Sesungguhnya engkau tidak lapar juga tidak pula bertelanjang.” Di sini semua disediakan untukmu, namun di sana kamu harus berupaya untuk memperolehnya sendiri. Kata lain yang menyiratkan “dosa” adalah kata “`asha” yang berarti membantah (keluar dari ketaatan). Kata ini tidak menyiratkan dosa karena sikap membantah dapat dikenai dengan dua jenis perintah: haram dan makruh. Jika sesorang membantah perintah bernilai makruh, dia telah “membantah” tetapi bukan “dosa”. Kita telah menjelaskan bahwa perintah-perintah Allah tidak selalu memiliki kekuatan wujub (wajib) dan hurmat (haram). Dan, dengan memahami ayat-ayat tersebut, yang membuktikan `ismah, kita tidak memiliki pilihan, karenanya, kita memperkirakan kata ini sebagai “bantahan atas perintah bernilai makruh”. Demikian juga kata ghawa yang berarti “khilaf”. Tapi kata ini tidak pula berarti dosa. Ia secara mudah dapat diterapkan pada tarkul awla, yang seorang nabi tidak diizinkan untuk melakukannya. Tarkul awla berarti, “meninggalkan perilaku yang lebih pantas”. Kekhilafan Adam as dapat berarti bahwa meskipun perintah tersebut tidak bernilai hurmat, tetap saja Adam harus mengikutinya. Dengan tidak menghormati perintah Allah ini, Adam bersalah bukan karena suatu dosa (haram) tapi karena tidak meninggalkan perilaku yang tidak sesuai (makruh) yang diharapkan dari seorang Nabi atau Rasul Allah. Hal Kelima Jika Adam tidak berbuat dosa, maka mengapa Allah berfirman tentang pertaubatan Adam dan pengampunan dari Allah sendiri, dan secara tegas menggunakan katakata seperti “khilaf” dan “dzalim”? Pertama, jika seorang nabi seperti Adam as berbuat tarkul awla, cukup layak baginya untuk memohon maaf kepada Allah—bukan karena suatu dosa tetapi dikarenakan perilaku yang tidak sesuai. Jadi “taubat” tidak berarti bahwa sebelumnya Adam berbuat dosa; hal ini cukup sesuai dan lebih disarankan berbuat tarkul awla. Kedua, penggunaan kata-kata yang tegas oleh Allah dalam penggambaran kisah Adam dapat diterima dengan memahami status dari Adam. Dalam kenyataannya, ketika Allah memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam, hal ini secara jelas menunjukkan posisi dan kedudukan tinggi dari Adam dalam pandangan Allah. Perhatikanlah ayat berikut, “Sesungguhnya Allah memilih Adam dan Nuh dan anak cucu Ibrahim dan anak cucu Imran pada posisi yang tinggi.” (QS. 3: 33) Sehingga meskipun Adam tidak berbuat suatu dosa, tidaklah layak baginya memiliki perilaku yang tidak sesuai ini. Orang dengan tingkat tinggi diharapkan hidup sesuai standar yang lebih tinggi daripada kehidupan manusia biasa. Dan seperti yang dikatakan, “Perbuatan-perbuatan baik dari orang-orang salah dianggap “dosa” oleh mereka yang dekat dengan Allah— (hasanatul abrar sayyi’atul muqarrabin).

By Muhammad Alcaff

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: