NABI SAW TIDAK PERNAH STRES SAAT MENERIMA WAHYU


Oleh: Mas Alcaff

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah  saw ketika didatangi oleh malaikat Jibril dengan membawa ayat: “Bacalah hai Muhammad dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan,” sampai ayat ke-5 dari surat Al-`Alaq, beliau pulang ke rumahnya dalam keadaan gemetar dan dan menggigil. Lalu beliau berkata kepada Khadijah: “Aku menghawatirkan diriku.” Lalu Khadijah berkata: “Bergembiralah! Demi Allah, Dia tidak akan menghinakan (menjerumuskan)mu selama-lamanya.”

Lalu Khadijah pergi bersama Rasul menemui Waraqah bin Naufal–pada zaman Jahiliyah dia seorang yang beragama Nasrani. Lalu Rasulullah saw memberitahu apa yang telah beliau lihat. Waraqah berkata: “Inilah namus (wahyu atau Jibril) yang pernah diturunkan kepada Musa.1 Karena ucapan Waraqah, Nabi menjadi tenang dalam menjalani masa depannya. Jika bukan karena ucapan Waraqah, dia (Rasul) sudah ingin terjun dari tebing gunung—demikianlah yang diriwayatkan Ibnu Sa`ad dalam Thabaqat-nya).

Adapun riwayat lengkapnya sebagai berikut:

“Takkala Nabi saw sedang menyendiri di gua Hira’, tiba-tiba beliau mendengar suara menggema memanggil-manggilnya. Beliau ketakutan dan mengangkat kepalanya. Tidak disangka-sangka beliau melihat sosok makhluk yang menakutkan sedang memanggilnya. Lalu beliau pun bertambah takut dan tidak dapat bergerak maju dan mundur. Kemudian beliau berusah memalingkan wajahnya dari makhluk yang menyeramkan itu, namun yang dilihatnya itu meliputi langit semuanya.”

Tragedi dramatis itu berjalan beberapa saat dan beliau pun tidak dapat mengontrol dirinya dan lupa akan jiwanya, sehingga hampir saja beliau mengambil keputusan untuk nekat terjun dari puncak gunung karena begitu berat beban rasa takutnya. Pada saat itu Khadijah mengutus seseorang untuk mencari Nabi di gua Hira’ namun tidak menemukannya.

Kemudian setelah sosok wajah yang menyeramkan itu sirna dari penglihatan Nabi, beliau kembali dengan segala macam ketakutan dan kegelisahan yang meliputinya. Akhirnya beliau sampai di rumahnya dalam keadaan gemetar seperti menderita penyakit demam. Beliau memandang istrinya dengan sayu dan lesu seakan-akan minta pertolongan dan perlindungan. Beliau berkata: ‘Hai Khadijah, apakah gerangan yang sedang kualami?” Kemudian beliau pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya, dan merebahkan diri dalam dekapan Khadijah dengan ketakutan yang membayanginya; perasaan yang mungkin hanya merupakan tipuan mata. Beliau berkata: “Aku mengkhawatirkan diriku dan aku yakin bahwa aku telah kemasukan jin.”

Khadijah tidak tega dan dan memandangnya dengan penuh keprihatinan dan keharuan, seraya berkata: “Tidak, wahai suamiku. Bergembiralah dan teguhkanlah hatimu. Demi Allah, dia tidak akan mengecewakanmu. Mak demi Dzat yang nyawa Khadijah di tangan-Nya, sesungguhnya saya mengharapkan engkau menjadi nabi umat ini. Engkau selalu menjalin ikatan tali keluarga, menghormati tamu, menolong yang lemah, dan engkau tidak pernah melakukan kejelekan sama sekali.” Begitulah seterusnya ia berusaha menenangkan dan menghibur hati suaminya dengan kata-kata yang menyenangkan.

Kemudian Khadijah mengadakan percobaan yang membawa keberhasilan. Ia berkata: “Hai suamiku, beritahukan kepadaku tentang orang yang mendatangimu itu!” Beliau menjawab: “Ya.” Ia berkata lagi: “Maka jika ia nanti mendatangimu kembali beritahulah aku.” Tidak lama kemudian malaikat itu pun datang kembali, lalu Rasulullah saw berkata: “Hai Khadijah, inilah dia telah datang kepadaku.” Lalu Khadijah berkata: “Ya, berdirilah dan duduklah di paha kiriku.” Nabi menuruti perintahnya dan duduk di paha kirinya. Khadijah bertanya: “Apakah engkau masih melihatnya?” Nabi menjawab: “Masih.” Setelah itu, beliau pindah ke paha kanan istrinya. Dan Khadijah bertanya lagi: “Apakah engkau masih melihatnya?” Beliau menjawab: “Ya.” Khadijah lalu berkata: “Pindahlah ke pangkuanku!” Beliau mematuhi perintahnya dan duduk di pangkuan Khadijah. Kemudian Khadijah membuka dan melemparkan kerudungnya, dan Rasul masih duduk terdiam di pangkuannya. Khadijah bertanya untuk ketiga kalinya: ““Apakah engkau masih melihatnya?” Kali ini Rasulullah saw menjawab: “Tidak.” Khadijah lalu berkata dengan penuh keceriaan: “Hai suamiku, gembiralah dan tetaplah teguh! Ia adalah malaikat dan bukanlah setan.”

Untuk meneguhkan percobaan yang pernah dilakukan dengan penuh keberhasilan itu, maka Khadijah menuju saudara sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal, seorang penganut agama Nasrani, yang rajin membaca kitab kuno dan buku-buku agama. Ternyata Waraqah berkata dengan mantap: “Mahasuci! Seandainya engkau mempercayaiku wahai Khadijah! Ia telah didatangi oleh an Namus (Jibril) yang pernah mendatangi Musa as, maka katakanlah kepadanya, hendaklah ia tetap tabah dan selalu teguh. Ia sesungguhnya adalah Nabi bagi umat ini. Seandainya aku ditakdirkan hidup di zaman ini, niscaya aku akan beriman kepadanya.”

Kemudian Khadijah pulang menemui suaminya dan menceritakan apa yang telah ia dengar dari Waraqah. Setelah itu, Nabi saw menjadi tenang dan dapat menguasai dirinya. Seketika itu pula ketakutannya sirna. Hal ini menimbulkan keyakinan yang mantap pada dirinya, bahwa ia adalah seorang Nabi.2

Sanggahan atas Riwayat Tersebut

Nabi saw sangat mulia di sisi Allah. Tidak mungkin beliau dilepaskan begitu saja dalam kegelisahan dan ketakutan di saat-saat kritis yang merupakan detik-detik perubahan besar dalam lembaran hidup beliau. Masa transisi yang sangat vital dari seorang manusia sempurna yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, menjadi manusia utusan dan bertanggung jawab atas umat dan masyarakat seutuhnya. Sebelum memasuki babak yang menentukan dan kritis seperti itu, beliau telah melangkah maju ke depan ke arah kesempurnaan manusia yang sangat agung dan mulia dalam perjalanan yang dahsyat. Dimulai dari alam ciptaan (manusia) menuju kepada Pencipta (Allah SWT), dan setelah mencapai puncak lalu kembalilah ia ke alam ciptaan (makhluk) dengan membawa kebenaran dari yang Yang Maha Pencipta sebagaimana yang digambarkan oleh seorang filosof, al Hakim Shadruddin al Syirazi.

Dengan demikian dapat kita sadari bahwa detik-detik yang menentukan itu merupakan jalur penghubung antara dua perjalanan: perjalanan pergi dan perjalanan kembali dalam situasi yang genting.

Mahasuci Allah, Ia tidak akan membiarkan kekasih-Nya mengalami kepedihan dan kegelisahan, justru setelah ia sampai pada puncak pertemuan, di mana ia akan dipilih sebagai utusan-Nya kepada manusia. Tidak mungkin Dia membiarkannya dalam ketakutan yang membahayakan, kemudian menakutinya dengan wajah yang serba menyeramkan sehingga beliau hampir tidak mampu lagi untuk mengendalikan dirinya, terkacaukan jalan pikirannya dan nyaris membawa kematian akibat makhluk tersebut.

Bukankah Muhammad lebih mulia di sisi Allah daripada Ibrahim al Khalil, Musa al Kalim, dan nabi-nabi yang lain? Mereka tidak ditinggalkan sendirian pada saat-saat yang genting seperti itu sehingga meminta bantuan kepada orang lain. Muhammad saw adalah lebih mulia daripada mereka.

Sungguh mengherankan analisa ahli sejarah yang mengutamakan logika seorang Khadijah yang sebelumnya tidak mengetahui sama sekali tentang rahasia-rahasia dan isyarat kenabian daripada seorang manusia sempurna dan utama, yang telah memikul misi Allah SWT. Kemudian Khadijah mengadakan percobaan yang dimengerti apa maksudnya oleh Rasulullah saw dalam upaya meyakinkan perkataannya dan didukung oleh perkataan Waraqah bin Naufal.

Aneh sekali ketika terdapat keyakinan dan perasaan puas pada diri Nabi saw saat mendengar keterangan dari istrinya dan kesaksian yang diberikan oleh pendeta tua—Waraqah bin Naufal. Sehingga beliau dapat diyakinkan bahwa yang datang itu wahyu dari Allah Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana? Jika dikatakan bahwa Waraqah membaca kitab-kitab kuno, maka kami bertanya, apakah ada di zaman itu kitab-kitab agama yang tidak mengalami perubahan dan campur tangan manusia? Bukankah mimpi yang pernah dialami Nabi Muhammad saw itu benar adanya? Bukankah ucapan salam yang diucapkan oleh Jibril pada awal pertemuan, assalamu alaikum wahai pesuruh Allah, telah beliau dengar? Begitu pula ucapan salam dari setiap pepohonan dan bebatuan setiap kali beliau lewat di depannya dalam perjalanan pulan kembali ke rumah Khadijah? Bukankah beliau menyadari sepenuhnya apa yang dirasakan dirinya selama beliau menyendiri di gua Hira’ sehingga beliau tidak perlu diyakinkan oleh istrinya dan pendeta Nasrani itu? Justru keberadaan beliau di gua Hira’ berangkat dari kesadaran spiritual dan usaha untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk konsentrasi penuh menjemput wahyu. Khalwat adalah cara terbaik yang beliau pilih sebagai sarana perenungan dan media tafakur yang paling efektif dimana jauhnya beliau dari kebisingin duniawi dan polusi syirik yang menghiasi wajah kota Mekah membuat beliau mau tidak mau harus memilih tempat “yang sehat dan segar”. Dan, gua Hira adalah pilihan terbaik untuk merealisasikan tujuan ini.

Lagi pula, jika memang riwayat itu benar, mengapa Waraqah tidak segera beriman padahal ia tahu bahwa beliau (Muhammad) adalah seorang Nabi?

Terbukti di dalam sejarah bahwa Waraqah meninggal dalam keadaan belum beriman. Sedangkan riwayat yang menyatakan bahwa Nabi saw melihatnya dalam mimpi bahwa Waraqah sedang mengenakan pakaian putih adalah maudhu` (palsu dan tak dapat dipercaya). Sebab jalur riwayatnya terputus dan tidak bersambung. Jika memang terbukti bahwa ia masuk Islam dan beriman, maka sudahlah pasti namanya akan tercantum di dalam golongan orang-orang yang beriman pada permulaan Islam (as sabiqunal awwalun).

Ibu Asakir berkata: “Saya belum pernah menemukan seseorang pun yang mengatakan bahwa ia (Waraqah) telah masuk Islam.”2 Waraqah masih hidup beberapa waktu sejak Nabi diutus. Bahkan telah disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Waraqah pernah berjalan dan melihat Bilal sedang disiksa.3

Jadi, Muhammad saw tidak pernah mengalami stres saat menerima wahyu. Beliau berada di puncak kesadaran dan mengerti bahwa yang datang kepada beliau itu adalah Jibril yang membawa pesan-pesan Ilahi untuknya dan umatnya. Bahkan atas nikmat agung risalah ini, beliau sangat bergembira.[1]


1 Shahih Bukhari: Bab permulaan wahyu: 1/3 dan tafsir surat “Iqra”. Shahih Muslim: Kitab imam, bab permulan wahyu hadis: 252. Musnad Ahmad: 6 /223 dan 233.

2 Sirah Ibnu Hisyam, juz 1, hal. 252-255, Shahih Bukhari, juz 1, hal. 3-4; Tarikh at Thabari, juz 2, hal. 207, Tafsir at Thabari, juz 30, hal. 161; Hayat Muhammad, karya Haikal, hal. 95-96; Muslim, jus 1, hal. 97-99.

2 Ibnu Hajjar, al Ishabah, juz 3, Dar al Fikr, hal. 633.

3 Ibid.

[1] As Shahih min Shirati an Naby, juz 1, hal. 233.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: